Sering Cekcok dengan Pasangan? Jangan Cerai Dulu! Ini 5 Rahasia Bertengkar Sehat ala Islam agar Hubungan Makin Harmonis

Bahron Ansori
Siapa bilang rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang sepi dari adu mulut? Faktanya, setiap pasangan pasti pernah mengalami fase jenuh, tersinggung, hingga perbedaan pendapat yang memicu emosi. (dok Pixabay)

Siapa bilang rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang sepi dari adu mulut? Faktanya, setiap pasangan—bahkan yang paling romantis sekalipun—pasti pernah mengalami fase jenuh, tersinggung, hingga perbedaan pendapat yang memicu emosi.

Namun, tahukah Anda? Yang membedakan hubungan langgeng dengan yang berakhir di pengadilan agama bukanlah absennya masalah, melainkan cara mengelola konflik tersebut. Islam sendiri tidak meminta umatnya memendam rasa sakit hati sendirian, namun juga melarang keras pertengkaran yang melukai jiwa dan raga.

Alih-alih menjadi bumbu kehancuran, pertengkaran justru bisa menjadi tangga menuju kedewasaan jika dilakukan dengan cara yang elegan. Penasaran bagaimana caranya marah tapi tetap disayang pasangan? Simak 5 tips bertengkar sehat yang tidak hanya mencerahkan akal, tapi juga menjaga api cinta tetap menyala di bawah ini.

Baca juga  14 Amalan Pembuka Pintu Rezeki yang Terbukti

1. Luruskan Niat: Ingin Memperbaiki, Bukan Menang

Pertengkaran sering berubah menjadi ajang saling mengalahkan. Padahal, jika niatnya ingin menang, yang kalah biasanya adalah hubungan itu sendiri. Islam mengajarkan agar setiap perbuatan diniatkan untuk kebaikan. Allah berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan orang yang menyuruh kepada sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perbaikan di antara manusia.” (QS. An-Nisā’: 114).

Penelitian dalam psikologi pernikahan menunjukkan bahwa pasangan yang memandang konflik sebagai masalah bersama—bukan kesalahan pribadi—lebih mampu menyelesaikan konflik dengan sehat. Ketika niat kita adalah memperbaiki, nada bicara akan lebih lembut, dan hati lebih mudah menerima.

2. Kendalikan Emosi Sebelum Kata-kata pada Pasangan

Emosi yang memuncak sering membuat lisan lebih tajam dari pedang. Rasulullah SAW mengingatkan, “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ilmu saraf membuktikan bahwa saat marah, bagian otak rasional melemah, sementara emosi mengambil alih. Karena itu, jeda sejenak—menarik napas, berwudhu, atau diam sementara—bukan tanda kalah, melainkan tanda kedewasaan. Bertengkar sehat bukan tentang cepat bicara, tapi tentang tepat bicara.

Baca juga  Penjelasan Hadis-Hadis Akhir Zaman, Dari Mulai Soal Suriah, Dajjal Hingga Al-Aqsa

3. Fokus pada Masalah, Bukan Menyerang Pribadi

Kalimat seperti “kamu selalu” atau “kamu memang begitu” hanya akan menutup pintu dialog. Islam mengajarkan adab menjaga kehormatan sesama, terlebih pasangan. Allah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isrā’: 53).

Riset dari John Gottman, pakar hubungan rumah tangga, menunjukkan bahwa serangan pribadi, merendahkan, dan meremehkan adalah “racun” hubungan jangka panjang. Bertengkar sehat berarti membahas perilaku atau situasi, bukan merusak harga diri pasangan.

4. Dengarkan dengan Empati, Bukan untuk Membantah

Sering kali kita mendengar hanya untuk menyiapkan balasan. Padahal mendengar dengan empati adalah bentuk kasih sayang yang nyata. Rasulullah ﷺ adalah pendengar yang baik, bahkan kepada orang yang berbeda pandangan dengannya.

Penelitian komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa pasangan yang merasa didengarkan dan dipahami cenderung lebih tenang dan terbuka mencari solusi. Mendengar bukan berarti selalu setuju, tetapi menunjukkan bahwa perasaan pasangan itu penting dan dihargai.

5. Akhiri dengan Maaf dan Doa, Bukan Dendam

Pertengkaran yang sehat harus memiliki penutup yang menenangkan. Meminta maaf bukan berarti selalu salah, tetapi berarti cinta lebih besar dari ego. Allah memuji orang-orang yang mampu memaafkan, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Āli ‘Imrān: 134).

Baca juga  Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Ilmu psikologi positif membuktikan bahwa memaafkan menurunkan stres, memperbaiki kesehatan mental, dan memperkuat ikatan emosional. Menutup konflik dengan doa—meski sederhana—akan mengembalikan rumah tangga pada poros keberkahan.

Pada akhirnya, rumah tangga bukan tempat dua orang yang selalu sepakat, tetapi tempat dua jiwa yang mau belajar saling memahami. Bertengkar sehat bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling tulus menjaga cinta. Ketika konflik dikelola dengan iman, ilmu, dan kelembutan, pertengkaran tidak lagi menjadi ancaman—melainkan jalan untuk tumbuh bersama, menuju rumah tangga yang lebih matang dan diridhai Allah.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.