Halaman luar Rutan Banyumas yang biasanya tenang mendadak bertransformasi menjadi panggung penuh inspirasi, Senin (02/03/2026). Di bawah langit sore, alunan musik religi mengalun lembut, menyapa masyarakat melalui gelaran bertajuk “Akustik Sore Menginspirasi”.
Acara ini merupakan bagian dari program AKSI Rubamas Berbagi Kasih dan Inspiratif, sebuah inisiatif yang dirancang sebagai ruang ekspresi bagi warga binaan. Melalui nada, mereka menunjukkan hasil nyata dari pembinaan kepribadian yang selama ini dijalani di balik jeruji.
Penampilan sederhana namun mendalam disuguhkan oleh empat warga binaan yang tergabung dalam Rubamas Band. Mengusung format akustik, lagu-lagu religi yang mereka bawakan terasa lebih dari sekadar hiburan; setiap baitnya seolah menjadi cermin perjuangan, penyesalan, sekaligus tekad kuat untuk menata kembali masa depan.
Dalam sambutannya, Sigit Purwanto menegaskan bahwa kegiatan ini adalah manifestasi komitmen rutan dalam membangun manusia seutuhnya.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa di balik tembok rutan, ada proses pembinaan yang sungguh-sungguh. Warga binaan bukan hanya menjalani hukuman, tetapi juga menjalani proses perbaikan diri. Musik hari ini adalah bukti nyata perubahan itu,” ujar Sigit.
Beliau menambahkan bahwa agenda ini adalah bagian dari strategi reintegrasi sosial, memastikan para warga binaan siap kembali ke pelukan masyarakat dengan identitas baru yang lebih positif.
Suasana syahdu semakin memuncak saat sesi talkshow dimulai. Salah satu personel Rubamas Band, FT (25), berbagi kisah haru mengenai transformasinya melalui program pembinaan kepribadian.
“Dulu saya tidak pernah berpikir bisa berdiri di depan masyarakat seperti ini. Di dalam rutan, saya belajar arti disiplin, tanggung jawab, dan menghargai kesempatan. Musik menjadi jalan bagi saya untuk memperbaiki diri,” ujarnya lembut.
Kejujuran FT disambut tepuk tangan hangat dari para pengunjung yang hadir. Sementara itu, Pembina Kepribadian, Dwi Waluyo, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari pendekatan spiritual dan konseling yang konsisten.
“Kami tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membangun mental dan karakter. Ketika warga binaan menemukan potensi dirinya, rasa percaya diri tumbuh. Itulah modal utama untuk kembali ke masyarakat,” jelas Dwi.

Kegiatan ini semakin bermakna melalui kolaborasi dengan komunitas Operasi Lapar, yang rutin membagikan ratusan paket takjil setiap harinya. Koordinator Operasi Lapar, Mas AL, menyatakan kebanggannya dapat bersinergi dalam momen penuh energi positif ini.
“Berbagi itu tentang menyentuh hati. Hari ini bukan hanya berbagi takjil, tapi berbagi semangat perubahan. Kami melihat langsung bagaimana warga binaan dibina dan diberi ruang untuk berkembang,” kata dia.
Di sela-sela pembagian takjil kepada pengunjung Alun-alun dan keluarga warga binaan, petugas Rutan Banyumas juga aktif melakukan edukasi publik. Mereka mempromosikan program pembinaan kemandirian sebagai bentuk transparansi, sekaligus upaya mengikis stigma negatif terhadap para penyintas hukum.
Acara ditutup oleh Sigit Purwanto dengan pesan yang menggugah nurani mengenai esensi dari sebuah kesempatan.
“Kami percaya setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Tugas kami adalah memastikan kesempatan itu diisi dengan pembinaan yang nyata. Semoga sore ini menjadi pengingat bahwa perubahan selalu mungkin terjadi,” katanya.
Melalui AKSI Rubamas ini, Rutan Banyumas sukses membuktikan bahwa dari tempat pembinaan, dapat lahir pribadi-pribadi baru yang siap berkarya dan membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




