Membangun rumah tangga yang berkah bukan sekadar soal mencukupi kebutuhan materi atau memiliki hunian mewah. Dalam ajaran Islam, sosok suami memegang rapor utama sebagai nakhoda yang menentukan arah “bahtera” keluarga menuju ketenangan (sakinah) atau justru kegaduhan.
Ternyata, menjadi suami teladan tidak hanya menuntut kerja keras di luar rumah, tetapi juga kelembutan hati dan ketegasan dalam memimpin istri serta anak-anak. Lantas, apa saja peran krusial yang harus dilakukan suami agar setiap sudut rumah dialiri keberkahan dan dijauhkan dari konflik.
Suami tidak hanya bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjadi pemimpin spiritual, pelindung, dan teladan bagi keluarganya. Dengan menjalankan tanggung jawab ini secara bijaksana dan berlandaskan nilai-nilai agama, seorang suami dapat membangun fondasi rumah tangga yang kokoh dan diberkahi Allah Ta’ala.
Membangun rumah tangga yang berkah adalah impian setiap pasangan muslim. Rumah tangga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan diliputi rahmat Allah menjadi pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang baik. Dalam hal ini, peran suami sebagai pemimpin keluarga sangatlah signifikan.
Al-Qur’an dan hadis memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seorang suami teladan harus bertindak demi mencapai keberkahan dalam rumah tangga.
Pertama, Suami sebagai Pemimpin Rumah Tangga
Allah Ta’ala telah menetapkan suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya,
الرِّجَالُ قَوَامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ…
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Qs. An-Nisa: 34)
Sebagai pemimpin, suami memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Kepemimpinan ini bukanlah bentuk dominasi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan adil dan bijaksana.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kepemimpinan laki-laki atas perempuan adalah karena tanggung jawab yang diberikan Allah kepada laki-laki untuk menafkahi dan melindungi keluarganya. Oleh karena itu, seorang suami harus memahami perannya sebagai pemimpin yang mengayomi, bukan otoriter.
Kedua, Menafkahi Keluarga dengan Halal
Salah satu kewajiban utama suami adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Allah Ta’ala berfirman,
وَعَلَى الْمَوْلِودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ…
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf (baik).” (Qs. Al-Baqarah: 233)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
«كفى بالمرء إِثْمًا أَنْ يُضَيَّعَ مَنْ يَقْوِتُ»
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Nafkah yang diberikan suami harus berasal dari sumber yang halal. Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya mencari rezeki yang halal sebagai bagian dari ibadah. Suami yang memberikan nafkah halal kepada keluarganya berarti telah melaksanakan tanggung jawabnya sekaligus menanamkan keberkahan dalam rumah tangga.
Ketiga, Membimbing Istri dan Anak dengan Ilmu
Tugas suami bukan hanya mencukupi kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan spiritual keluarga. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَاسُ وَالْحِجَارَةُ…
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (Qs. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa suami bertanggung jawab membimbing istri dan anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
«كلُّكُمْ رَاعٍ وَكلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…»
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mendidik keluarga dalam nilai-nilai Islam, membiasakan ibadah, dan memberikan teladan yang baik adalah wujud tanggung jawab ini. Ulama salaf seperti Hasan Al-Basri menekankan pentingnya akhlak mulia dalam mendidik anak dan istri.
Keempat, Kasih Sayang dan Penghormatan kepada Istri
Suami teladan adalah suami yang penuh kasih sayang kepada istrinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي»
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Kasih sayang tidak hanya diwujudkan dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membantu pekerjaan rumah tangga, sehingga memberikan teladan kepada umatnya tentang bagaimana menghormati istri.
Kelima, Sabar dan Bijaksana dalam Menghadapi Ujian
Rumah tangga tidak terlepas dari ujian. Dalam menghadapi masalah, seorang suami teladan harus bersikap sabar dan bijaksana. Allah Ta’ala berfirman,
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَا بِاللهِ…
“Bersabarlah, dan kesabaranmu itu tidak lain kecuali dengan pertolongan Allah…” (Qs. An-Nahl: 127)
Dalam pandangan Imam Ibnul Qayyim, kesabaran adalah kunci utama dalam menjaga hubungan rumah tangga agar tetap harmonis.
Suami teladan adalah sosok yang memadukan tanggung jawab materi, spiritual, dan emosional dalam membangun rumah tangga. Dengan mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang suami dapat menjadi pemimpin yang adil, penyayang, dan bijaksana. Keberkahan rumah tangga akan tercapai ketika suami melaksanakan perannya dengan penuh kesungguhan, berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



