Refleksi 28 Tahun Reformasi Indonesia, Mahasiswa dan Elemen Rakyat Banjarnegara Gelar Diskusi dan Bedah Film Dokumenter

Heri C
Refleksi 28 Tahun Reformasi Indonesia, Mahasiswa dan Elemen Rakyat Banjarnegara Gelar Diskusi dan Bedah Film Dokumenter 

Momentum menjelang Hari Reformasi, seharusnya tidak hanya diperingati secara seremonial, melainkan menjadi waktu untuk mengingat kembali cita-cita reformasi yang dahulu diperjuangkan mahasiswa dan rakyat.

Sejumlah elemen mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan masyarakat sipil akan menggelar kegiatan bertajuk Discussion and Film Review dalam rangka menyambut Hari Reformasi 21 Mei. Kegiatan yang dikemas dengan konsep “sarasehan riang gembira” itu dijadwalkan berlangsung pada Minggu, (17/5/2026) dan dimulai sekitar pukul 19.00 Wib.

Acara tersebut mengangkat tema “Elemen Masyarakat dan Mahasiswa Menuju Hari Reformasi” dengan agenda utama berupa diskusi publik dan bedah film dokumenter berjudul Pig Feast, Colonialism in Our Time dan peserta diskusi akan mendapatkan keterangan tempat setelah melakukan pendaftaran.

Alfath, panitia penyelenggara mengatakan, kegiatan itu bukan sekadar forum nonton bersama, melainkan ruang refleksi bersama untuk membicarakan kondisi sosial, demokrasi, hingga berbagai persoalan rakyat yang dinilai masih relevan pasca lebih dari dua dekade reformasi berjalan.

“Reformasi bukan hanya peristiwa sejarah tahun 1998. Reformasi harus terus dirawat sebagai semangat untuk mengkritisi ketimpangan, ketidakadilan, dan persoalan sosial yang masih terjadi hari ini,” katanya.

Baca juga  Jelang Ramadan, Satgas Pangan Banjarnegara Turun ke Pasar Jaga Harga Tetap Stabil

Sebab hingga kini, kata Alfath, berbagai persoalan dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bangsa. Mulai dari kesenjangan sosial, lemahnya perlindungan terhadap rakyat kecil, hingga suara kritik yang kerap dianggap ancaman.

“Reformasi harus tetap hidup di ruang diskusi, di kampus, di jalan, dan di tengah masyarakat. Karena demokrasi yang sehat lahir dari keberanian rakyat untuk terus berpikir dan bersuara,” katanya.

Panitia lainnya, Sulton mengatakan, diskusi akan diikuti sejumlah organisasi mahasiswa dan kepemudaan ikut terlibat serta memberikan dukungan, di antaranya PMII, HMI, IMM, dan beberapa elemen organisasi masyarakat lainnya.

Menurut Sulton, konsep “riang gembira” sengaja dipilih agar ruang diskusi tidak terkesan kaku maupun elitis. Mahasiswa dan masyarakat diajak berdialog santai namun tetap kritis terhadap situasi bangsa.

Refleksi reformasi saat ini perlu menyentuh persoalan nyata yang dirasakan masyarakat, mulai dari ketimpangan hukum, krisis lingkungan, konflik agraria, hingga kekerasan yang masih terjadi di dunia pendidikan maupun ruang sosial lainnya.

“Anak muda jangan hanya menjadi penonton keadaan. Diskusi seperti ini penting agar masyarakat tetap punya ruang berpikir kritis dan tidak kehilangan keberanian menyuarakan kebenaran,” ujarnya.

Baca juga  Jelang Libur Nataru, Bupati Banjarnegara Sidak Pasar Pantau Harga dan Stok Bahan Pokok

Film Pig Feast atau Pesta Babi sendiri dipilih karena dinilai memiliki pesan kuat tentang kolonialisme modern, eksploitasi sumber daya, dan dampaknya terhadap masyarakat adat maupun kelompok rentan. Film tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk diskusi mengenai situasi sosial-politik Indonesia saat ini.

“Selain diskusi dan bedah film, kegiatan juga dirancang sebagai ruang silaturahmi lintas organisasi dan komunitas. Panitia membuka kuota peserta terbatas hanya untuk 100 orang,” katanya.

Masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar disebut dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan melakukan pendaftaran melalui tautan yang telah disediakan panitia.