BUAH salak pondoh yang selama ini menjadi ikon Kabupaten Banjarnegara kini tak lagi sekadar dijual mentah. Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Gunung Desa Pakelen, Kecamatan Madukara, sukses mengembangkan produk olahan salak seperti sirup dan manisan alami yang lezat, tahan lama, dan berkhasiat.
Inovasi olahan salak ini menjadi strategi cerdas warga desa untuk menaikkan kelas komoditas lokal, sekaligus menciptakan alternatif oleh-oleh khas Banjarnegara yang mampu bersaing dengan produk daerah lain.
Setiap hari, KWT Putri Gunung mampu mengolah puluhan kilogram salak menjadi sirup dan manisan dengan cita rasa khas yang mengandalkan kemanisan alami buah.
Tanpa Pemanis Buatan, Produk Olahan Salak Andalkan Resep Tradisional
Berbeda dengan produk sejenis, sirup salak buatan KWT Putri Gunung tidak menggunakan pemanis buatan maupun pengawet kimia. Resep olahan salak ini tetap mempertahankan cara tradisional yang diwariskan turun-temurun.
“Kami tidak pakai pemanis buatan atau pengawet kimia. Rahasianya ada di takaran gula pasir yang lebih banyak sebagai pengawet alami,” ujar Meli, penggerak KWT Putri Gunung, Selasa (30/1/2026).
Metode tersebut terbukti efektif. Sirup salak mampu bertahan hingga tiga bulan dalam kondisi prima. Bahkan setelah enam bulan, meski warna mulai berubah, rasa dan kualitasnya masih tetap terjaga.
Tak hanya nikmat, sirup salak ini juga dipercaya memiliki khasiat untuk kebugaran tubuh hingga mencegah masuk angin.
Tembus Singapura dan Malaysia, Tapi Sepi di Kampung Sendiri
Potensi produk olahan salak Desa Pakelen sejatinya sangat besar. Produk manisan salak buatan KWT Putri Gunung bahkan telah menembus pasar Singapura, Malaysia, hingga Kalimantan sebagai oleh-oleh khas.
Namun di balik pencapaian itu, terselip ironi. Di daerah asalnya sendiri, minat pasar lokal Banjarnegara justru masih terbilang minim.
“Kalau di luar kota permintaannya bagus, tapi di Banjarnegara sendiri masih sepi. Mungkin belum banyak yang tahu,” kata.
Selain soal popularitas, tantangan lain datang dari permodalan UMKM, terutama karena sistem konsinyasi atau titip jual yang mengharuskan produsen memiliki modal berputar cukup panjang.
Solusi Saat Harga Salak Anjlok di Musim Panen
Kepala Desa Pakelen, Kusnan, menilai inovasi olahan salak menjadi sirup dan manisan adalah jawaban atas masalah klasik petani saat panen raya tiba.
“Kalau panen raya, harga salak bisa jatuh murah sekali. Ini sudah hukum alam. Maka satu-satunya jalan adalah diolah,” katanya.
Menurutnya, keunggulan produk salak Pakelen terletak pada rasa manis alami tanpa tambahan bahan kimia. “Produk kami asli, tanpa pengawet, dan rasanya lebih manis dari karika karena bahan bakunya memang sudah manis,” katanya.
Kusnan pun berharap dukungan pemerintah daerah tidak berhenti pada wacana promosi semata. Ia mengusulkan agar produk UMKM desa menjadi sajian resmi dalam setiap kegiatan pemerintahan.
“Jangan hanya dibela, tapi juga dibeli. Kalau ada rapat dinas atau acara bupati, pesanannya ya sirup atau manisan salak Pakelen,” ujarnya.
Disdagkop Siap Jemput Bola Dukung UMKM Desa
Menanggapi aspirasi tersebut, Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disdagkop) Banjarnegara, Budi Wahyono, menyatakan pihaknya siap turun langsung melakukan pendampingan.
“Kami akan verifikasi ke lapangan. Nanti dilihat kebutuhan utamanya, apakah di kemasan, efisiensi produksi, atau strategi pemasaran,” katanya.
Meski keterbatasan anggaran menjadi tantangan, pemerintah daerah berkomitmen memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar produk UMKM Desa Pakelen benar-benar naik kelas.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



