Mengintip Kampung Nopia Mino Banyumas, Sentra Kuliner Khas yang Jadi Edutourism di Desa Pekunden

Kurnia
Tugu Genthong yang jadi ciri khas di Kampung Nopia Mino di Desa Pekunden, Banyumas. (Foto: sisparnas.kemenparekraf.go.id) 

Kampung Nopia Mino di Pekunden Lor, Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kini tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi kuliner tradisional, tetapi juga berkembang menjadi destinasi edutourism berbasis budaya lokal.

Kampung ini menawarkan pengalaman edukatif bagi pengunjung untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan nopia dan mino, dua camilan khas Banyumas yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Keunikan Kampung Nopia Mino terletak pada konsistensi warga dalam mempertahankan cara produksi tradisional di tengah gempuran modernisasi industri pangan. Aktivitas memasak yang masih menggunakan tungku tanah liat menjadi daya tarik utama, sekaligus nilai edukasi bagi wisatawan yang ingin memahami warisan kuliner Banyumas secara langsung.

Kampung Nopia Mino Banyumas, Warisan Kuliner yang Hidup

Berlokasi di Desa Pekunden, Kampung Nopia Mino telah lama dikenal sebagai pusat produksi nopia. Hampir seluruh warga di kampung ini terlibat dalam usaha pembuatan nopia dan mino, baik sebagai pembuat adonan, pemanggang, hingga pengemas produk.

Baca juga  Internet IndiHome Gangguan Nasional Hari Ini

Kampung ini hidup dari aktivitas kuliner yang berlangsung setiap hari. Aroma khas nopia yang dipanggang memenuhi lingkungan kampung, menciptakan suasana autentik yang sulit ditemui di tempat lain.

Tidak heran jika Kampung Nopia Mino sering dikunjungi wisatawan lokal, pelajar, hingga komunitas pecinta kuliner tradisional.

Apa Itu Nopia?

Nopia adalah salah satu makanan khas Banyumas yang bahan bakunya terbuat dari tepung terigu dan gula kelapa/gula jawa.

Proses pembuatannya, adonan tepung terigu dibentuk bulat lonjong seperti telur dan diisi gula jawa. Kemudian dipanggang didalam tungku hingga mengembang dan kering.

Bahan utama nopia terdiri dari tepung terigu, gula, dan air, dengan isian yang bervariasi, seperti gula merah, cokelat, pandan, hingga durian. Proses pembuatannya menjadi ciri khas tersendiri, karena adonan nopia ditempelkan langsung pada dinding tungku tanah liat yang telah dipanaskan menggunakan kayu bakar.

Sementara itu, mino merupakan versi mini dari nopia. Ukurannya yang lebih kecil membuat mino banyak digemari sebagai camilan ringan atau oleh-oleh khas Banyumas. Meski berbeda ukuran, bahan dan teknik pembuatannya tetap sama.

Baca juga  Logo Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas Ditetapkan, Warganet Membandingkan

Proses Produksi Tradisional sebagai Media Edukasi

Salah satu alasan Kampung Nopia Mino berkembang sebagai edutourism adalah keterbukaan warga dalam memperlihatkan proses produksi kepada pengunjung.

Wisatawan dapat melihat langsung tahapan pembuatan nopia, mulai dari pengadonan, pembentukan, hingga proses pemanggangan di tungku tanah liat.

Teknik menempelkan adonan ke dinding tungku membutuhkan keterampilan khusus dan pengalaman panjang. Kesalahan kecil dapat memengaruhi kematangan dan rasa nopia.

Pengetahuan ini biasanya diwariskan dari orang tua kepada anak, menjadikan kuliner sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga.

Melalui konsep edutourism, Kampung Nopia Mino tidak hanya menawarkan produk kuliner, tetapi juga pengetahuan tentang sejarah, filosofi, dan teknik pembuatan makanan tradisional Banyumas.

Dampak Ekonomi dan Pelestarian Budaya Lokal

Keberadaan Kampung Nopia Mino memberikan dampak signifikan bagi perekonomian Desa Pekunden. Usaha rumahan yang dijalankan warga menjadi sumber penghasilan utama dan membuka lapangan kerja di tingkat lokal.

Nopia
Salah satu proses pembuatan Nopia Mino. (Foto: Tangkapan layar Instagram @desawisata_pekunden)

Produk nopia dan mino dari kampung ini telah dipasarkan ke berbagai daerah, baik melalui penjualan langsung maupun pemanfaatan platform digital. Di sisi lain, aktivitas edutourism turut mendorong kesadaran akan pentingnya pelestarian kuliner tradisional sebagai identitas budaya Banyumas.

Baca juga  Subagyo Tancap Gas Pimpin IMI Banyumas, Kejurnas Slalom Siap Digelar

 Kuliner Tradisional yang Terus Berkembang

Kampung Nopia Mino Banyumas di Desa Pekunden menjadi contoh nyata bagaimana kuliner tradisional dapat berkembang seiring zaman tanpa kehilangan jati diri.

Dengan menggabungkan produksi kuliner dan konsep edutourism, kampung ini tidak hanya menjaga warisan rasa, tetapi juga mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Ke depan, Kampung Nopia Mino berpotensi terus tumbuh sebagai destinasi kuliner edukatif unggulan, sekaligus memperkuat posisi Banyumas sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kekayaan kuliner lokal.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.