Waspada Leptospirosis Saat Musim Hujan, Kenali Bahaya dan Cara Pencegahannya

Heri C
Waspada Leptospirosis Saat Musim Hujan, Kenali Bahaya dan Cara Pencegahannya

Leptospirosis menjadi ancaman kesehatan yang kerap muncul saat musim hujan dan banjir. Penyakit infeksi akut ini disebabkan oleh bakteri Leptospira sp yang menyebar melalui urine atau darah hewan, terutama tikus, yang mencemari lingkungan.

Pemerhati dan praktisi kesehatan masyarakat, dr Ahmad Setiawan mengatakan, penularan ke manusia umumnya terjadi saat seseorang kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi bakteri tersebut. Kondisi ini sering ditemukan saat banjir, ketika genangan air bercampur dengan limbah dan kotoran hewan.

Menurut dr Ahmad, penularan ke manusia umumnya terjadi saat seseorang kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi bakteri tersebut. Kondisi ini sering ditemukan saat banjir, ketika genangan air bercampur dengan limbah dan kotoran hewan.

“Gejala awal leptospirosis kerap tidak disadari karena menyerupai penyakit biasa. Penderitanya biasanya mengalami demam mendadak, mata merah, serta nyeri otot—terutama di bagian betis. Namun, jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat berkembang menjadi lebih serius hingga menyebabkan kerusakan organ seperti hati dan ginjal,” katanya, Selasa (14/4/2026).

Baca juga  Lepas Atlet Balap Purbalingga, Ini Pesan Wabup Dimas

Selain itu, kata dr Ahmad, keterlambatan penanganan dapat berujung fatal. Padahal, leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik jika terdeteksi sejak dini.

dokter Ahmad turut mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi penularan, terutama saat beraktivitas di lingkungan yang rawan banjir.

“Masyarakat sebaiknya menghindari kontak langsung dengan air banjir atau menggenang tanpa pelindung. Jika terpaksa, gunakan alas kaki atau pelindung tubuh, serta segera bersihkan diri setelahnya,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memahami pola hidup dan kebiasaan tikus sebagai sumber utama penularan. Menurutnya, tikus kerap masuk melalui sela-sela rumah dan meninggalkan jejak berupa urin yang dapat mencemari peralatan maupun makanan.

“Yang penting adalah semua orang harus paham pola hidup dan kebiasaan tikus. Hati-hati dengan alat makan, pastikan selalu tertutup. Jangan meninggalkan sisa makanan secara terbuka, tetapi langsung dibuang ke tempat sampah,” kata Ahmad.

Ia menambahkan, kebiasaan sederhana seperti segera mencuci alat makan setelah digunakan, menyimpan makanan dan bahan pangan dalam kondisi tertutup, serta memastikan tempat sampah tertutup dan berada di luar rumah sangat penting untuk mencegah keberadaan tikus di lingkungan hunian.

Baca juga  Cegah Judi Online dan Pinjol Ilegal, FinExpo 2025 Ajak Masyarakat Banyumas Kelola Keuangan dengan Cerdas

Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala setelah terpapar banjir atau lingkungan kotor. Deteksi dini menjadi kunci utama agar penyakit ini tidak berkembang menjadi kondisi yang membahayakan jiwa.

Dengan meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memahami sumber penularan, risiko penyebaran leptospirosis dapat ditekan, terutama di wilayah yang rawan banjir.

“Yang paling penting, jangan ragu untuk memeriksakan diri jika mengalami hal tersebut ke fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas dan rumah sakit,” katanya.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!