Takmir Mushola Al Ardli, Bancar, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga menggagas program urban farming atau berkebun dengan memanfaatkan lahan yang ada di tengah perkotaan.
Di sebelah mushola yang beralamat di RT 3 RW 4 ini, ada sepetak lahan kosong berukuran sekitar 5×15 meter. Selama ini lahan tersebut kurang terawat dan kurang elok dipandang karena suburnya rumput liar.
Tak hanya menjadikan lebih asri, namun Takmir ingin menjadikan lahan tersebut lebih bermanfaat. Rencananya akan ditanam pohon pepaya California serta ditumpangsari dengan sejumlah jenis sayuran.
“Rencananya akan menanam pohon pepaya California serta sayur-sayuran yang bisa dikonsumsi sehari-hari,” kata Tokoh masyarakat setempat, Gatot Herman Budi Prasetyo, Sabtu (15/11/2025).

Urban farming ini juga bagian upaya pengurus untuk menghidupkan aktivitas mushola. Tapi bisa menjadi sarana untuk membangun silaturahmi dan kehidupan sosial masyarakat. Karena mushola tidak sebatas menjadi tempat ibadah sholat.
“Nantinya, hasil panen bisa siapa saya memetik, bayarnya suka rela saja, uangnya sepenuhnya untuk kas mushola,” katanya.
Gagasan tersebut telah dibahas dengan sejumlah warga yang aktif berjamaah di mushola tersebut. Rencananya akan disegerakan untuk realisasi, ketika struktur organisasi takmir sudah dikukuhkan.
“Hampir satu tahun ini tidak ada struktur kepengurusan Takmir, karena pengurus yang sebelumnya mengundurkan diri,” katanya.
Heru Nindiarto, salah satu jamaah aktif, yang selama ini menjadi motor penggerak perawatan mushola, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Ia menyebut adanya pihak dari “saudara jauh” pewaqaf yang mempersoalkan keberadaan mushola hingga akhirnya takmir bubar. Padahal, menurutnya, anak kandung pewaqaf sama sekali tidak mempermasalahkan.
“Saya prihatin. Akhirnya saya berniat mengurus sukarela musola ini. Setiap hari saya bersihkan,” ujar Heru.
Ia berharap takmir bisa segera dibentuk kembali karena mushola sudah bersertifikat waqaf dan menjadi ruang kebersamaan warga yang plural.
“Kerukunan antar umat beragama di sini bagus. Banyak yang non-muslim juga, tapi tetap guyub rukun. Kalau Idul Adha, semua saling membantu,” kata Heru.
Imam Mushola Al Ardli, Nurkhatam Al Anwar, menyampaikan pentingnya pembentukan takmir baru agar berbagai kegiatan dapat berjalan lebih tertata.
“Kalau ada acara atau kegiatan akan lebih mudah. Urusan biaya, administrasi, penyelenggaraan jadi jelas siapa yang mengurusi,” katanya.
Dia menambahkan, meskipun hampir setahun ini tidak ada pengurus resmi, namun aktivitas masjid tetap berjalan. Selain untuk sholat jamaah, setiap sore juga rutin untuk TPQ anak-anak.
Merespon semangat baru dari para jamaah Mushola Al Ardli, DPC Peradi SAI Purwokerto, siap memberikan dorongan.
“Kami akan upayakan penanaman tanaman yang cocok untuk wilayah sini, seperti pepaya dan lainnya, agar bisa diberdayakan untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Ketua Peradi SAI Purwokerto, H. Djoko Susanto, SH.
Selain itu, Peradi SAI juga akan memasang wifi di mushola guna mendukung kegiatan belajar anak-anak dan warga sekitar.
Dengan berbagai upaya tersebut, Mushola Al Ardhli tidak hanya kembali hidup, tetapi juga berpeluang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat desa, sebuah titik harapan baru di Bancar, yang lahir dari kegotongroyongan antara warga dan para relawan.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!





