Ketupat Landan telah menjadi ikon kuliner tradisional yang menarik wisatawan ke Kedungbenda, Purbalingga. Berbeda dengan ketupat biasa, ketupat ini memiliki bentuk panjang dan tekstur yang kenyal, menjadikannya favorit di berbagai acara adat maupun sajian sehari‑hari.
Popularitas Ketupat Landan kini tidak hanya sebagai hidangan lokal, tetapi juga sebagai daya tarik wisata kuliner yang mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.
Selain rasanya yang khas, proses pembuatan Ketupat Landan menjadi pengalaman menarik bagi pengunjung. Mulai dari pemilihan beras, pembungkusan dengan janur muda, hingga perebusan secara tradisional, setiap tahap dilakukan dengan ketelitian tinggi oleh pengrajin lokal.
Hal ini membuat wisatawan tidak hanya menikmati kuliner, tetapi juga belajar tentang tradisi dan budaya Kedungbenda yang kaya.
Asal Usul dan Ragam Keunikan Ketupat Landan
Ketupat atau orang jawa biasa menyebutnya kupat, menjadi makanan khas dengan tampilan unik yang terbungkus daun kelapa yang masih muda (janur).
Sedangkan, nama “landan” merujuk pada bahan yang digunakan untuk merebusnya, yaitu campuran abu batang padi (blukang) atau pelepah daun kelapa yang dicampur air, menciptakan kuah rebusan ketupat yang gurih.
Namun, berbeda dari ketupat pada umumnya yang berwarna putih, Kupat Landan memiliki warna coklat kemerahan baik pada selongsong kupat (anyaman janur) maupun kupatnya sendiri.
Menurut para pengrajin, kunci kenikmatan Ketupat Landan terletak pada kualitas beras dan teknik perebusan yang diterapkan. Beras unggulan dipilih sebagai bahan dasar, kemudian dibungkus dengan rajutan janur muda yang rapat dan rapi.
Proses perebusan dilakukan di dalam panci besar dengan waktu yang cukup lama agar tekstur ketupat menjadi sempurna — empuk di dalam namun tetap kokoh ketika dipegang.
Proses Pembuatan: Tradisi yang Layak Disaksikan
Bagi banyak wisatawan, rangkaian tahapan pembuatan Ketupat Landan merupakan bagian paling menarik dari pengalaman kuliner di Kedungbenda.
Para pengrajin membuka rumah mereka untuk dilihat langsung oleh pengunjung, sehingga siapa pun bisa melihat secara dekat bagaimana ketupat dibentuk satu per satu.
Kegiatan ini bukan sekadar atraksi, tetapi juga bentuk pelestarian kearifan lokal. Turis tidak hanya duduk dan menikmati makanan, tetapi dapat menyaksikan dan belajar teknik pembungkusan tradisional yang jarang ditemui di tempat lain.
Beberapa pengunjung bahkan diberi kesempatan untuk mencoba sendiri mengambil janur, merajut, dan membungkus ketupat di bawah bimbingan pengrajin setempat.
Ketupat Landan sebagai Produk Wisata Kuliner
Keberadaan Ketupat Landan kini menjadi magnet wisata kuliner di wilayah Purbalingga. Setiap akhir pekan dan musim liburan, kawasan pasar tradisional Kedungbenda dipenuhi pengunjung yang ingin mencicipi ketupat ini lengkap dengan aneka lauk pendamping seperti opor ayam, rendang, sambal goreng, dan sayur lodeh.
Pedagang‑pedagang lokal menyediakan ragam pilihan menikmati Ketupat Landan — dari porsi sederhana hingga sajian lengkap untuk keluarga.
Tidak sedikit pengunjung yang membagikan pengalaman mereka di media sosial, memicu tren kuliner baru di kalangan pecinta wisata makanan.
Foto‑foto proses pembuatan dan tampilan ketupat panjang yang unik sering menjadi sorotan akun kuliner dan travel food vlogger.
Dukungan Komunitas dan Pemerintah Daerah
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama komunitas budaya setempat aktif mempromosikan Ketupat Landan sebagai bagian dari strategi pengembangan wisata berkelanjutan.
Program pelatihan bagi generasi muda pengrajin digelar untuk memastikan teknik tradisional tetap hidup dan dapat diwariskan.
Promosi Ketupat Landan juga dilakukan melalui event festival kuliner dan pameran budaya di luar daerah Purbalingga. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga membuka peluang pemasaran produk kuliner lokal ke tingkat yang lebih luas.
Dengan pendampingan yang tepat, diharapkan Ketupat Landan dapat menembus pasar oleh‑oleh dan ritel kuliner nusantara.
Tantangan Pelestarian Tradisi
Meningkatnya permintaan Ketupat Landan bukan tanpa tantangan. Para pengrajin menghadapi tekanan untuk mempercepat produksi tanpa mengorbankan kualitas.
Sementara itu, regenerasi pengrajin muda kerap terhambat oleh tren urbanisasi dan pilihan karier generasi milenial yang beragam.
Untuk merespons hal ini, komunitas lokal menggagas workshop teknik produksi yang lebih efisien namun tetap tradisional. Pemerintah daerah juga menyalurkan dukungan dalam bentuk fasilitas produksi dan pelatihan pemasaran digital untuk membantu pengrajin menjangkau pasar lebih luas.
Ketupat Landan, Khasanah Budaya Kuliner Purbalingga
Ketupat Landan di Kedungbenda, Purbalingga tidak sekadar makanan khas — ia adalah representasi tradisi, kreativitas, dan daya tarik wisata kuliner yang patut dibanggakan.
Perpaduan antara cita rasa autentik, proses pembuatan yang menarik, serta dukungan komunitas menjadikan Ketupat Landan pengalaman wajib bagi wisatawan dan penggemar budaya Nusantara.
Dengan terus dilestarikan dan dikembangkan, Ketupat Landan berpotensi menjadi ikon kuliner nasional yang tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di mata dunia.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.



