Sering Terkecoh! Ternyata Begini Cara Halus Fitnah Dunia Menjerat Manusia: Bukan Lewat Dosa Terang-terangan

Bahron Ansori
Tidak semua ujian atau fitnah dalam hidup datang dengan wajah yang menakutkan atau situasi yang mencekam. (dok Freepik.com)

​Hati-hati, tidak semua ujian atau fitnah dalam hidup datang dengan wajah yang menakutkan atau situasi yang mencekam.

​Sebaliknya, fitnah dunia justru sering kali hadir dengan “topeng” yang sangat memikat; mulai dari senyuman manis, gelimang kemewahan, hingga janji-janji kebahagiaan yang seolah tak ada habisnya.

​Banyak yang tidak menyadari bahwa fitnah dunia bekerja secara senyap, layaknya debu halus yang menempel perlahan. Ia tidak mengajak seseorang melakukan dosa secara frontal, melainkan membimbing langkah manusia secara perlahan untuk mencintai dunia secara berlebihan.

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa dunia memiliki daya tarik yang kuat, bukan karena ia jahat, tetapi karena ia manis dan hijau. Dalam sebuah hadits shahih beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian beramal.” (HR. Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa dunia adalah ladang ujian, bukan tujuan akhir. Yang diuji bukan seberapa banyak dunia yang kita miliki, melainkan bagaimana sikap hati kita terhadapnya.

Allah SWT sendiri membuka tabir hakikat dunia dalam firman-Nya, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20). Ayat ini tidak sedang mencela dunia secara mutlak, tetapi mengingatkan bahwa dunia mudah menipu jika hati tidak dijaga.

Baca juga  Pesan Al-Quran Kepada Seluruh Umat Manusia: Wasjud Waqtarib!

Ibnu Katsir rh. menjelaskan bahwa ayat ini adalah peringatan agar manusia tidak terperdaya oleh gemerlap dunia dan melupakan akhirat. Fitnah dunia semakin berbahaya ketika ia berwujud sesuatu yang tampak halal dan wajar: ambisi yang dibungkus cita-cita, kesibukan yang disebut produktivitas, bahkan amal yang perlahan tercemari riya.

Rasulullah SAW sampai mengatakan bahwa yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya (HR. Ahmad). Riya tidak membatalkan amal secara lahiriah, tetapi menggerogoti nilainya di sisi Allah. Imam Al-Ghazali rh. menggambarkan riya seperti semut hitam di atas batu hitam di malam gelap—sangat halus, nyaris tak terlihat, namun nyata keberadaannya.

Di sinilah letak bahaya fitnah dunia: ia tidak selalu menjauhkan manusia dari ibadah, justru sering menyelinap ke dalam ibadah itu sendiri. Seseorang tetap shalat, tetap bersedekah, bahkan tetap berdakwah, namun perlahan hatinya mencari pengakuan manusia, bukan ridha Allah. Padahal Allah telah mengingatkan bahwa siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, maka ia akan kehilangan akhirat. “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan kepada mereka balasan di dunia, tetapi di akhirat mereka tidak memperoleh apa-apa kecuali neraka.” (QS. Hud: 15–16).

Baca juga  9 Kunci Suami Istri Jaga Cinta Tetap Hangat Setelah Bertahun-Tahun, Fondasi Harmonis Dunia Akhirat

Hasan Al-Bashri rh. berkata dengan sangat dalam, “Dunia itu seperti bayangan. Jika engkau kejar, ia akan menjauh. Jika engkau berpaling darinya, ia akan mengikuti.” Dunia bukan musuh, namun cinta dunia yang berlebihan adalah awal dari kerusakan hati.

Jalan Menjaga Hati di Tengah Gemerlap Dunia

Fitnah dunia semakin halus di zaman ini karena sering dibungkus dengan bahasa yang indah dan logika yang meyakinkan. Pamer disebut inspirasi, keserakahan disebut penghargaan diri, kelalaian dibungkus dengan istilah healing, dan meninggalkan prinsip agama disebut toleransi. Rasulullah SAW telah menubuatkan keadaan seperti ini dalam sabdanya, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan.” (HR. Ibnu Majah).

Kebenaran menjadi samar, dan kebatilan tampil dengan wajah yang ramah. Allah bahkan menyebut harta dan anak—dua hal yang paling dicintai manusia—sebagai fitnah, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah.” (QS. At-Taghabun: 15). Ali bin Abi Thalib ra. menegaskan, “Harta tidak mengapa berada di tanganmu, selama ia tidak masuk ke dalam hatimu.”

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia, tetapi untuk mengelolanya dengan hati yang terikat kepada akhirat. Jalan selamat dari fitnah dunia dimulai dengan menguatkan keyakinan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. Hati yang sering mengingat mati akan lebih waspada terhadap tipu daya dunia. Dzikir, muhasabah, dan meluruskan niat adalah penjaga utama agar amal tidak kosong dari keikhlasan. Ibnul Qayyim rh. berkata, “Amal tanpa ikhlas adalah tubuh tanpa ruh.” Rasulullah SAW pun memuji orang yang hidup sederhana meski mampu, seraya bersabda, “Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya qana‘ah.” (HR. Muslim).

Baca juga  Mengulik Sejarah Awal Puasa Ramadan: Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan hingga Aturan Ketat Masa Lalu

Fitnah Dunia Lebih Halus dari Debu

Fitnah dunia memang lebih halus dari debu. Ia tidak selalu terasa, namun jika tidak dibersihkan, ia akan menutupi cahaya iman di dalam hati. Dunia boleh kita miliki, tetapi jangan sampai ia memiliki kita. Sebab ketika ajal tiba, semua yang kita banggakan akan tertinggal, dan yang menemani kita ke liang lahat hanyalah iman dan amal yang ikhlas.

Maka pantaslah doa Rasulullah SAW menjadi renungan kita bersama, “Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak ilmu kami.” (HR. Tirmidzi). Semoga Allah menjaga hati kita tetap hidup, jernih, dan tidak tertipu oleh fitnah dunia yang halus namun mematikan.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.