Sebuah pesan menyentuh hati dari seorang ayah kepada anaknya mendadak jadi sorotan. Lewat untaian kata yang penuh haru, sang ayah mengungkapkan penyesalan terdalamnya karena merasa telah melewatkan peran krusial sebagai sosok guru pertama bagi sang buah hati sebelum mengenal dunia luar.
Ayah menyesal karena seharusnya ayah yang pertama mengajarkanmu tentang keindahan membaca, tentang cinta yang tulus, tentang doa yang memanggil pertolongan Allah. Ayah menyesal karena terlalu sering tersita oleh kesibukan dunia, sehingga ketika engkau bertanya, ayah hanya tersenyum tanpa jawaban, atau bahkan menuntunmu pada arah yang salah, bukan pada cahaya yang hakiki.
Nak, Allah dalam Al-Qur’an berfirman,”Dan perintahkanlah kepada keluargamu shalat dan bersabarlah kamu dalam menunaikannya…” (QS. Thaha: 132).
Ini bukan sekadar perintah formal, Nak. Ayah menyesal karena ayah lalai menempatkan diri sebagai pemimpin spiritualmu pertama, yang seharusnya menuntunmu menapaki jalan iman sejak engkau bisa memahami kata, sejak engkau bisa meniru gerak tangan ayah yang menunduk dalam sujud.
Ayah menyesal, Nak, karena dunia begitu menggoda. Kesibukan, ambisi, dan tuntutan hidup membuat ayah lupa bahwa waktu yang berlalu tidak bisa diputar kembali. Setiap detik yang seharusnya ayah gunakan untuk membimbingmu, membacakan ayat, mengajarkan doa, atau sekadar menanyakan kabarmu, terkikis oleh urusan yang tampak penting, tapi tak akan menolong ayah di akhirat nanti.
Nak, apakah engkau pernah merasa sendiri ketika engkau bertanya tentang Allah, tentang hidup, atau tentang bagaimana menjadi anak yang shalih dan shalihah? Ayah menyesal jika engkau harus belajar dari dunia sebelum belajar dari ayah, karena dunia, Nak, tidak selalu mengajarkan yang benar. Dunia seringkali memberi jawaban yang semu, dan kadang menyesatkan hati.
Ayah menyesal, Nak, karena seharusnya ayah menjadi teladan pertama tentang kesabaran. Tentang bagaimana menghadapi ujian tanpa mengeluh, tentang bagaimana tetap bersyukur ketika rezeki sedikit, dan tetap rendah hati ketika keberhasilan datang. Ayah menyesal jika ayah gagal menuntunmu pada akhlak mulia sejak awal, sehingga hatimu harus belajar dari pengalaman sendiri, kadang dengan luka.
Nak, pernahkah engkau memperhatikan, ayah menatapmu diam-diam ketika engkau tertidur, berharap engkau tumbuh menjadi manusia yang takut kepada Allah, yang mencintai ilmu, yang menjaga shalat, yang menghormati orang tua, yang peka terhadap kesusahan sesama? Ayah ingin engkau tahu, Nak, bahwa setiap doa ayah yang tidak sempat diucapkan di depanmu, telah ayah sampaikan dalam sujud dan doa malam.
Allah berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang makruf, mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat…” (QS. At-Taubah: 71).
Ayah Ingin Jadi Penolong Pertama
Ayah ingin menjadi bagian dari ayat ini, Nak. Ingin menjadi penolongmu yang pertama, mendidikmu sejak awal, menanamkan nilai-nilai yang tidak lekang oleh zaman. Tapi ayah sadar, ayah menunda. Dan menunda, Nak, adalah penyesalan terbesar bagi seorang ayah.
Nak, Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…” (QS. Luqman: 14).
Ayah menyesal karena terkadang ayah lupa bahwa mendidikmu bukan hanya kewajiban ibumu. Ayah, sebagai lelaki dan kepala keluarga, seharusnya menjadi guru pertamamu. Menjadi cahaya pertama yang menuntun langkahmu sebelum dunia menodai hatimu dengan kebingungan dan kesesatan.
Nak, penyesalan ayah bukanlah untuk menyesali masa lalu semata, tapi untuk menyadarkan ayah dan engkau bahwa waktu ini sangat berharga. Masih ada kesempatan. Masih ada hari-hari di mana ayah bisa menuntunmu, membimbingmu, dan menjadi guru yang ayah sesali tidak hadir lebih awal. Masih ada waktu untuk membaca Al-Qur’an bersama, mengajarkan doa-doa harian, membimbingmu memahami akhlak mulia, dan menanamkan nilai kebaikan yang abadi.
Nak, jangan pernah merasa terlambat belajar dari ayah. Jangan biarkan penyesalan ayah menjadi beban bagi hatimu. Ayah ingin engkau tumbuh dalam keimanan yang kokoh, dalam akhlak yang mulia, dan dalam kasih sayang yang menyejukkan. Ayah menyesal karena tidak hadir di awal, tetapi ayah bertekad untuk hadir sepenuhnya sekarang.
Nak, doa ayah untukmu sederhana namun dalam: semoga Allah menjaga hatimu tetap bersih, semoga Allah menuntun langkahmu di jalan yang benar, semoga Allah memberikan ayah kesempatan untuk menjadi guru pertamamu sejati, bukan hanya dalam kata, tapi dalam teladan.
Nak, ayah juga ingin engkau mengingat ini: manusia bisa menyesal, tapi Allah Maha Pengampun. Allah menilai usaha, niat, dan perubahan. Jika ayah menyesal karena kelalaian, itu adalah bentuk kesadaran yang mendalam. Dan Nak, kesadaran itu adalah awal dari amal yang bisa memperbaiki masa lalu dalam bentuk amal kebaikan hari ini.
Nak, jangan biarkan dunia mengajarmu sebelum ayah sempat menuntunmu. Jangan biarkan hati dan akalmu tersesat karena penasaran yang tak terarah. Ayah akan menjadi guru pertamamu, meski sedikit terlambat. Ayah akan menuntunmu dengan kesabaran, dengan doa, dan dengan kasih sayang yang tulus. Ayah akan menanamkan ilmu agama, akhlak mulia, dan nilai kehidupan yang hakiki, sebelum dunia menanamkan yang sesat dan fana.
Nak, pada akhirnya, penyesalan ayah adalah bentuk cinta. Cinta yang sadar, cinta yang ingin memperbaiki, cinta yang tak ingin terlambat lagi. Ayah menyesal karena tidak hadir menjadi guru pertamamu, tapi ayah bertekad hadir sekarang, sepenuhnya, dengan hati yang tulus, dengan niat yang bersih, dan dengan doa yang tak pernah putus.
Nak, jadikan kisah ini pelajaran bagi kita berdua. Ayah belajar dari kesalahan, dan engkau belajar dari teladan. Semoga Allah memberkahi kita, menjaga hubungan kita, dan menuntun kita dalam setiap langkah hidup. Semoga ayah bisa menjadi guru pertamamu, bukan sekadar sebagai ayah biologis, tapi sebagai cahaya pertama yang menerangi jalanmu menuju Allah.
Dan semoga engkau, Nak, tumbuh menjadi anak yang shalih atau shalihah, yang kelak akan menjadi guru bagi generasi berikutnya, yang menebarkan cahaya kebaikan, yang menuntun langkah anak-anaknya di jalan Allah, sebagaimana ayah ingin menuntunmu sekarang.
Nak, ayah menyesal, tapi ayah juga berharap. Harapan itu adalah doa yang tak pernah putus, doa yang selalu menuntun ayah dan engkau, Nak, menuju ridha Allah.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.




