Di dunia yang hiruk-pikuk oleh popularitas, nama Uwais Al-Qarni nyaris tak terdengar. Ia bukan sahabat Nabi, tidak memimpin pasukan, tidak pula dikenal sebagai ulama besar yang dipuja manusia. Namun langit mengenalnya dengan sangat baik. Di antara jutaan manusia yang berlomba mengejar sorotan, Uwais justru dipilih Allah menjadi sosok istimewa yang doanya ditunggu-tunggu. Inilah ironi yang menggetarkan: tak dikenal di bumi, tetapi disebut namanya oleh Rasulullah ﷺ di hadapan para sahabat.
Uwais Al-Qarni hidup sederhana di Yaman. Ia seorang penggembala, berpakaian kasar, hidup dalam keterbatasan, dan nyaris tak punya apa-apa untuk dibanggakan di mata manusia. Namun di balik kesederhanaan itu, ia menyimpan kekayaan langit yang tak ternilai: hati yang penuh tauhid, keikhlasan yang murni, dan bakti luar biasa kepada ibunya. Ia bukan siapa-siapa menurut ukuran dunia, tetapi ia segalanya menurut ukuran Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa akan datang seorang dari Yaman bernama Uwais Al-Qarni, yang memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Di tubuhnya pernah ada penyakit belang, lalu sembuh kecuali satu bagian kecil. Jika ia bersumpah atas nama Allah, Allah akan mengabulkannya. Dan Nabi ﷺ berpesan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib agar meminta doa darinya jika bertemu. Bayangkan, seorang yang tak pernah bertemu Nabi, justru didoakan dan direkomendasikan oleh Nabi.
Uwais Sangat Mencintai Rasulullah
Yang lebih menyayat hati, Uwais sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Ia rindu bertemu, rindu melihat wajah Nabi yang mulia. Namun kerinduan itu dikalahkan oleh satu hal yang lebih besar: baktinya kepada sang ibu. Ia tahu, ibunya tak sanggup ditinggal. Maka ia memilih tinggal, merawat, dan mengabdikan hidupnya untuk ibunya, meski itu berarti tak pernah berjumpa langsung dengan Nabi ﷺ. Inilah cinta yang tak banyak dipahami manusia modern: cinta kepada Allah yang dibuktikan dengan bakti, bukan sekadar perasaan.
Uwais tak pernah memamerkan amalnya. Ia tak menulis kisah hidup, tak mengunggah kesalehan, dan tak meminta pengakuan. Bahkan ketika Umar dan Ali mencarinya, Uwais awalnya menolak dikenal. Ia takut hatinya ternodai oleh pujian. Ia khawatir amalnya rusak hanya karena manusia mulai menunjuk dan berdecak kagum. Betapa berbanding terbalik dengan zaman kini, ketika kebaikan sering baru dilakukan jika ada kamera dan saksi.
Kisah Uwais mengguncang standar kesuksesan kita. Dunia mengajarkan bahwa dikenal adalah prestasi, viral adalah bukti nilai, dan popularitas adalah keberhasilan. Namun Uwais membantah semuanya. Ia menunjukkan bahwa nilai seseorang bukan pada seberapa banyak manusia mengenalnya, tetapi seberapa dekat ia dengan Allah. Ia mengajarkan bahwa surga tidak dibangun dari sorotan, melainkan dari kesunyian yang jujur.
Lebih menggemparkan lagi, Uwais adalah simbol bahwa pintu kemuliaan sangat terbuka bagi orang biasa. Ia bukan bangsawan, bukan tokoh besar, bukan pemimpin umat. Ia hanyalah anak yang setia kepada ibunya. Tapi justru dari situ Allah mengangkat derajatnya. Seakan Allah ingin berkata kepada dunia: siapa pun bisa mulia, jika hatinya lurus dan baktinya tulus.
Ketika kita membaca kisah Uwais Al-Qarni, sejatinya kita sedang bercermin. Sudahkah kita ikhlas dalam amal, atau masih sibuk menghitung pengakuan? Sudahkah kita memuliakan orang tua, atau justru menjadikan mereka penghalang ambisi? Sudahkah kita mengejar ridha Allah, atau masih terjebak mengejar tepuk tangan manusia?
Uwais telah wafat, namun jejaknya abadi. Namanya tak terpahat di monumen dunia, tetapi terukir kuat di catatan langit. Kisahnya menyayat hati karena menyadarkan: boleh jadi kita hidup dikelilingi pujian, tetapi kosong di sisi Allah. Dan boleh jadi ada orang yang hidupnya sepi dari sanjungan, tetapi doanya mengguncang langit.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tak silau oleh dunia, tak mabuk oleh pengakuan, dan tak lalai dari bakti. Karena sejatinya, yang paling aman adalah menjadi kecil di mata manusia, namun besar di hadapan Allah.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







