Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Risalah > Ngeri! Ngaku Takut Neraka tapi Malah ‘Akrab’ dengan Dosa, Simak Renungan Tentang Paradoks Muslim Masa Kini
Risalah

Ngeri! Ngaku Takut Neraka tapi Malah ‘Akrab’ dengan Dosa, Simak Renungan Tentang Paradoks Muslim Masa Kini

Bahron Ansori
Terakhir diperbarui: 12 Januari 2026 11:17
Bahron Ansori
Membagikan
Neraka
Banyak dari kita mengaku takut neraka. Namun anehnya, kaki tetap melangkah menuju maksiat, tangan tetap ringan berbuat dosa, dan hati terasa biasa saja saat melanggar perintah Allah.(Sumber gambar Freepik.com)
Membagikan

Banyak dari kita mengaku takut neraka. Lidah fasih menyebut api Jahannam, azab kubur, dan siksa akhirat. Namun anehnya, kaki tetap melangkah menuju maksiat, tangan tetap ringan berbuat dosa, dan hati terasa biasa saja saat melanggar perintah Allah. Di sinilah paradoks itu bermula: takut di lisan, berani dalam perbuatan.

Kita gemetar ketika mendengar ceramah tentang neraka, tetapi tenang saat menunda shalat. Kita tersentuh ketika ayat azab dibacakan, tetapi santai saat menipu, berbohong, atau menyakiti sesama. Seakan-akan dosa telah menjadi teman akrab, bukan musuh yang harus dihindari.

Ketakutan kita sering kali lebih bersifat emosional sesaat, bukan kesadaran yang mengubah arah hidup. Air mata bisa jatuh di majelis ilmu, namun mengering begitu keluar dari masjid. Hati tersentuh, tetapi tidak menetap. Takut, tetapi tidak cukup kuat untuk taat.

Kenal Neraka Tapi Tak Benar-benar Kenal Allah

Akar masalahnya sering tersembunyi: kita mengenal neraka, tetapi belum benar-benar mengenal Allah. Takut azab-Nya, namun belum mencintai perintah-Nya. Padahal, ketaatan sejati lahir dari cinta yang mendalam, bukan sekadar rasa takut yang dangkal.

Baca juga  Renungkan! Ini Tanda-tanda Kiamat yang Sudah Terjadi

Ada dosa-dosa yang kita anggap kecil, padahal terus diulang. Kita berkata, “Ini hanya sekali,” lalu mengulanginya berkali-kali. Dosa yang diremehkan itulah yang perlahan mengeraskan hati, hingga maksiat terasa biasa dan taat terasa berat.

Lebih berbahaya lagi, ketika kita pandai mencari pembenaran. Kita tahu itu salah, tapi selalu punya alasan: keadaan, tekanan, atau dalih “semua orang juga begitu.” Pembenaran adalah pintu masuk paling halus menuju kebiasaan dosa.

Kita lupa bahwa rasa takut kepada neraka seharusnya melahirkan kewaspadaan, bukan sekadar kekhawatiran kosong. Takut yang benar akan membuat seseorang menjauh, bukan mendekat. Jika api terasa panas, tak mungkin kita mendekat dengan santai.

Ironisnya, kita takut mati dalam keadaan buruk, tetapi hidup dengan kebiasaan buruk. Kita berharap husnul khatimah, namun istiqamah dalam maksiat. Padahal akhir kehidupan sering kali cerminan dari kebiasaan sepanjang hidup.

Allah Maha Pengampun, benar. Namun rahmat-Nya bukan alasan untuk berani bermaksiat. Pengampunan Allah adalah harapan bagi yang bertaubat, bukan tameng bagi yang sengaja berbuat dosa.

Baca juga  Makna dan Keutamaan Surat Al Fatihah dalam Kehidupan Sehari-Hari

Paradoks ini harus diakhiri dengan kejujuran pada diri sendiri. Berani bertanya: apakah ketakutan ini sungguh-sungguh, atau hanya rasa tidak nyaman sesaat? Apakah iman ini hidup, atau sekadar identitas?

Taubat bukan hanya berhenti, tetapi berbalik arah. Bukan sekadar menyesal, tetapi membangun jarak dengan dosa. Bukan hanya menangis, tetapi bertekad untuk berubah, meski perlahan dan tertatih.

Kita tidak diminta menjadi malaikat dalam semalam. Tetapi kita diminta untuk jujur dalam perjuangan. Jatuh boleh, asal bangkit. Tersandung boleh, asal tidak betah berlama-lama di jalan maksiat.

Ketika rasa takut bertemu dengan cinta kepada Allah, di situlah iman menemukan keseimbangannya. Takut membuat kita waspada, cinta membuat kita rindu untuk taat. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Jangan tunggu dosa menjadi kebiasaan, baru ingin berubah. Jangan tunggu hati mati rasa, baru ingin hidup. Neraka bukan sekadar cerita untuk ditakuti, tetapi peringatan agar kita kembali sebelum terlambat.

Semoga kita tidak lagi menjadi Muslim yang paradoks: takut neraka, tapi akrab dengan dosa. Semoga ketakutan itu berubah menjadi ketaatan, kegelisahan menjadi kesungguhan, dan iman yang rapuh menjadi iman yang hidup—yang menuntun langkah kita pulang kepada Allah.

Baca juga  Mau Bisnis yang Berkah? Begini Konsepnya Menurut Agama Islam

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.

 

TAG:Neraka
Artikel Sebelumnya Petugas Damkar dan warga saat pemadaman kebakaran rumah di Gandrungmangu Cilacap. (Damkar Cilacap). Rumah Lansia 93 Tahun di Gandrungmangu Cilacap Ludes Terbakar
Artikel Selanjutnya tebak skor Persibara Banjarnegara Kian Terpuruk di Liga 4 Jateng Usai Dibekuk Persak Kebumen 0-3
TAHUN BARU
HUT PBG 25
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Muslim
Risalah

Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah

Oleh Bahron Ansori
Sahabat nabi
Risalah

Darah Mengucur Dihajar Kaum Quraisy, Inilah Sosok Sahabat Nabi yang Nyalinya Tak Ciut Baca Al-Quran di Depan Ka’bah

Oleh Bahron Ansori
Kiamat
Risalah

‘Panggilan Cinta dari Langit’ untuk Kita yang Terlalu Sibuk dengan Dunia Padahal Kiamat Sudah di Depan Mata

Oleh Bahron Ansori
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?