Manusia hari ini tertawa di atas jurang kehancuran. Dunia bergemuruh oleh tanda-tanda akhir zaman, tetapi hati justru semakin keras. Ketika langit dan bumi memberi isyarat, manusia sibuk menertawakan peringatan. Hari kiamat bukan lagi cerita jauh, melainkan kenyataan yang kian mendekat, namun banyak manusia hidup seolah tidak akan pernah mati.
Allah ﷻ telah mengingatkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an,
“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedang mereka dalam kelalaian berpaling.” (QS. Al-Anbiya: 1). Ayat ini seperti cermin yang retak, memantulkan wajah umat manusia hari ini—sibuk, lalai, dan merasa aman dari azab Allah.
Ironisnya, semakin dekat kiamat, semakin manusia tenggelam dalam hiburan. Tertawa menjadi gaya hidup, candaan menjadi pelarian, sementara dosa dipoles menjadi kewajaran. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini bukan larangan untuk bahagia, tetapi peringatan agar manusia tidak tertipu oleh tawa yang melupakan akhir.
Akhir zaman ditandai bukan hanya oleh kehancuran fisik, tetapi runtuhnya nilai. Zina merajalela, riba dianggap biasa, dusta menjadi strategi, dan amanah dipermainkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara tanda kiamat adalah diangkatnya amanah dan merebaknya kebodohan.” (HR. Bukhari).
Hari ini, amanah dijual demi jabatan, ilmu kalah oleh sensasi, dan kebenaran dikalahkan oleh viralitas.
Manusia merasa cerdas karena teknologi, tetapi lupa bahwa kecerdasan tanpa iman hanyalah alat kehancuran. Allah ﷻ berfirman:
“Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, tetapi tentang akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7).
Betapa banyak orang yang ahli dunia, tetapi buta arah menuju akhirat.
Kematian pun tidak lagi ditakuti. Ia hanya berita, bukan peringatan. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi).
Namun manusia hari ini justru menunda taubat, seolah maut bisa dinegosiasikan.
Ketika bencana datang, manusia berkata, “Ini hanya musibah biasa.” Padahal Allah ﷻ berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).
Bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan peringatan langit agar manusia kembali.
Lebih mengerikan lagi, dosa tidak lagi terasa sebagai dosa. Hati mati tanpa disadari. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa, lalu dititikkan noda hitam di hatinya.” (HR. Tirmidzi).
Jika noda itu dibiarkan, hati akan mengeras, hingga tak lagi mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.
Akhir zaman juga ditandai oleh manusia yang takut miskin tapi tak takut neraka. Mereka bekerja siang malam untuk dunia, tetapi malas untuk akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang dunia menjadi tujuannya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya.” (HR. Ibnu Majah).
Hidupnya sibuk, tetapi jiwanya kosong.
Namun di balik kengerian itu, Allah ﷻ tetap membuka pintu harapan. Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, taubat masih diterima. Allah ﷻ berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini adalah cahaya di tengah gelapnya akhir zaman.
Keselamatan bukan milik mereka yang sempurna, tetapi milik mereka yang sadar dan kembali. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi).
Inilah kecerdasan sejati—hidup dengan kesadaran bahwa setiap langkah akan dipertanggungjawabkan.
Hari Kiamat Bukan Dongeng
Jika hari ini manusia masih tertawa, jangan sampai esok mereka menangis tanpa air mata. Hari kiamat bukan dongeng untuk menakut-nakuti, tetapi kepastian yang menunggu. Allah ﷻ berfirman:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).
Pertanyaannya bukan apakah hari kiamat akan datang, tetapi dalam keadaan apa kita menghadapinya. Tertawa dalam kelalaian, atau tunduk dalam taubat? Akhir zaman adalah panggilan terakhir. Siapa yang mendengar dan kembali, ia selamat. Siapa yang menertawakan, ia mempertaruhkan segalanya.
Karena ketika hari kiamat benar-benar tiba, tidak ada lagi tawa. Yang ada hanyalah penyesalan… dan saat itu, semuanya telah terlambat.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.







