Ada masa ketika pemimpin berjalan paling depan dalam kesederhanaan, tetapi paling belakang dalam menikmati fasilitas. Ada masa ketika suara pemimpin menenangkan, bukan menakutkan. Namun hari ini, kita sering melihat yang sibuk mengatur, tapi lupa merawat. Sibuk memerintah, tapi jarang mendengar. Padahal dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang akan ditanya hingga ke detail terkecil.
- 1. Adab Takut kepada Allah, Bukan Takut Kehilangan Jabatan
- 2. Adab Mendengar Sebelum Berbicara
- 3. Adab Pemimpin adalah Lemah Lembut dalam Bersikap
- 4. Adab Adil, Meski kepada yang Tidak Disukai
- 5. Adab Rendah Hati di Tengah Pujian
- 6. Adab Menjadi Pelayan, Bukan Tuan
- 7. Adab Bertanggung Jawab dan Berani Mengakui Kesalahan
- Yang Dirindukan
Artikel ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah. Ia hadir sebagai cermin. Karena siapa pun, pada level apa pun—pemimpin negara, organisasi, jamaah, bahkan keluarga—sedang memikul peran kepemimpinan. Dan mungkin, tanpa sadar, sebagian adab mulia itu mulai menjauh dari keseharian kita.
1. Adab Takut kepada Allah, Bukan Takut Kehilangan Jabatan
Dahulu, para pemimpin gemetar bukan karena kritik rakyat, tetapi karena takut pada hisab Allah. Umar bin Khattab menangis hanya karena seekor keledai yang tersandung di Irak, khawatir Allah akan menuntutnya. Hari ini, yang sering kita lihat justru ketakutan kehilangan kursi, pengaruh, dan citra.
Ketika rasa takut kepada Allah memudar, keputusan pun mudah tergelincir. Yang benar bisa dikalahkan oleh yang menguntungkan. Yang adil bisa dikalahkan oleh yang aman. Padahal, memimpin dalam Islam bermula dari hati yang sadar: jabatan ini sementara, tapi pertanggungjawabannya abadi.
2. Adab Mendengar Sebelum Berbicara
Pemimpin Islam bukan yang paling banyak bicara, tetapi yang paling mampu mendengar. Rasulullah ﷺ dikenal mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan kepada orang yang berbeda pendapat, kasar, atau awam. Mendengar bukan sekadar menunggu giliran bicara, tetapi benar-benar hadir dengan empati.
Kini, adab ini kian jarang. Banyak yang cepat menyimpulkan, tergesa menilai, dan lebih senang didengar daripada mendengar. Padahal, sering kali suara yang paling lemah justru membawa kebenaran yang paling jujur.
3. Adab Pemimpin adalah Lemah Lembut dalam Bersikap
Islam tidak memuliakan pemimpin yang keras, meski ia merasa sedang menegakkan kebenaran. Al-Qur’an mengingatkan bahwa dengan kelembutan, hati bisa didekati. Dengan kekerasan, manusia justru menjauh.
Sayangnya, hari ini ketegasan sering disalahartikan sebagai kekasaran. Nada tinggi dianggap wibawa. Amarah dianggap kekuatan. Padahal, yang lembut bukan yang lemah—ia kuat karena mampu mengendalikan dirinya sendiri.
4. Adab Adil, Meski kepada yang Tidak Disukai
Keadilan adalah mahkota. Ia tidak memilih berdasarkan kedekatan, loyalitas, atau kesamaan kelompok. Ia berdiri di atas kebenaran, meski harus menyakitkan diri sendiri.
Namun realitas hari ini sering berbalik. Yang dekat dimaafkan, yang jauh dipersulit. Yang sejalan dirangkul, yang kritis disingkirkan. Ketika keadilan tergantikan oleh kepentingan, kepercayaan pun pelan-pelan mati.
5. Adab Rendah Hati di Tengah Pujian
Pujian adalah ujian yang halus. Banyak yang tumbang bukan karena dihina, tetapi karena terlalu lama dipuji. Dalam Islam, pemimpin sejati justru takut saat dipuji, khawatir hatinya condong pada ujub dan merasa paling berjasa.
Hari ini, rendah hati sering tergantikan oleh pencitraan. Kesederhanaan kalah oleh kemasan. Padahal, yang membumi akan selalu menemukan jalan ke hati umatnya, tanpa perlu meninggikan diri.
6. Adab Menjadi Pelayan, Bukan Tuan
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa memimpin adalah melayani. Ia hadir untuk memudahkan, bukan menyulitkan. Mengayomi, bukan menekan. Memimpin bukan soal dilayani, tetapi melayani dengan ikhlas.
Namun adab ini kian kabur. Ada yang lebih sibuk dilayani protokoler daripada menyapa rakyat. Lebih fokus pada fasilitas daripada penderitaan. Padahal, semakin tinggi amanah, semakin rendah seharusnya hati.
7. Adab Bertanggung Jawab dan Berani Mengakui Kesalahan
Pemimpin dalam Islam tidak anti salah. Ia manusia. Tetapi ia mulia karena berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Mengelak, menyalahkan bawahan, atau menutup-nutupi adalah tanda rapuhnya jiwa memimpin.
Hari ini, kita jarang mendengar permintaan maaf yang tulus dari pemimpin. Yang ada pembelaan panjang, klarifikasi berlapis, dan pengalihan isu. Padahal, satu pengakuan jujur sering lebih menyembuhkan daripada seribu pembenaran.
Yang Dirindukan
Umat ini tidak selalu merindukan pemimpin yang sempurna. Yang dirindukan adalah pemimpin yang mau belajar, mau mendengar, dan mau merendahkan hati. Pemimpin yang menyadari bahwa kekuasaan bukan hadiah, melainkan titipan.
Mungkin kita belum menjadi pemimpin besar. Tapi setiap dari kita memimpin sesuatu: diri sendiri, keluarga, amanah kecil di sekitar kita. Dan di situlah adab-adab ini bisa dihidupkan kembali.
Karena ketika adab pemimpin hidup, keadilan terasa. Ketika adab itu mati, kekuasaan kehilangan ruhnya. Semoga kita tidak hanya sibuk mencari yang ideal, tetapi juga pelan-pelan menjadi pribadi yang layak memimpin—dengan hati yang takut kepada Allah, dan jiwa yang lembut kepada manusia.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.







