Ada masa ketika tanda-tanda kiamat tidak lagi mengejutkan manusia. Ia bukan karena tidak terlihat, melainkan karena hati telah terbiasa menolak peringatan. Padahal, tanda-tanda itu berserakan di sekitar kita—di layar ponsel, di jalanan, di rumah-rumah, bahkan di dalam diri kita sendiri. Namun anehnya, manusia tetap tertawa, tetap sibuk, tetap merasa aman, seolah kematian dan hari akhir adalah cerita untuk orang lain.
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan tanda-tanda akhir zaman dengan sangat jelas. Akhlak runtuh, amanah dikhianati, zina dinormalisasi, kebohongan dipuja, orang bodoh diangkat menjadi pemimpin, dan agama dianggap penghalang kemajuan. Ironisnya, semua itu kini bukan lagi nubuat, melainkan realitas harian. Namun alih-alih takut dan bertaubat, manusia justru menyesuaikan diri, berdamai dengan kerusakan, dan menyebutnya sebagai “perkembangan zaman”.
Kiamat tidak selalu datang dengan gempa dan api dari langit. Ia sering diawali dengan kematian rasa takut kepada Allah. Ketika dosa tidak lagi membuat gelisah, ketika maksiat tak lagi menimbulkan penyesalan, ketika nasihat agama dianggap berlebihan—di situlah tanda paling mengerikan bermula. Hati membeku, nurani mati, dan manusia berjalan menuju kehancuran dengan mata terbuka.
Lihatlah bagaimana waktu terasa semakin cepat. Hari berlalu tanpa makna. Umur habis, namun amal minim. Kita bangun pagi dengan niat dunia, tidur malam dengan kelelahan dunia, lalu heran mengapa hati kosong dan doa terasa hampa. Padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan, bahwa manusia di akhir zaman akan sibuk namun miskin keberkahan. Banyak aktivitas, sedikit ketaatan. Banyak rencana, minim persiapan akhirat.
Lebih menyedihkan lagi, ketika kematian orang lain tidak lagi menjadi pelajaran. Kita mengantar jenazah, membaca doa singkat, lalu kembali tertawa seolah liang lahat bukan tujuan akhir kita juga. Kuburan menjadi pemandangan biasa, bukan peringatan luar biasa. Padahal, setiap tanah yang ditimbun di atas jasad manusia sedang berteriak: “Giliranmu akan datang.”
Tanda kiamat juga tampak ketika kebenaran terasa asing. Orang yang mengajak taat dianggap kolot. Yang mengingatkan neraka disebut menghakimi. Yang menjaga kehormatan dicibir, sementara yang mempertontonkan dosa dielu-elukan. Dunia terbalik, nilai dibengkokkan, dan kebatilan dipoles agar tampak indah. Inilah fitnah yang paling berbahaya—bukan karena ia memaksa, tapi karena ia membuat manusia rela.
Namun, puncak pengabaian tanda kiamat adalah ketika manusia menunda taubat. “Nanti kalau sudah tua.” “Nanti kalau sudah tenang.” “Nanti kalau sudah siap.” Padahal, kematian tidak pernah menunggu kesiapan. Ia datang tiba-tiba, memutus rencana, dan menutup semua peluang perbaikan. Berapa banyak orang yang ingin shalat lebih khusyuk, tapi nyawanya habis sebelum sempat rukuk terakhir?
Meski demikian, rahmat Allah jauh lebih besar dari murka-Nya. Di balik semua tanda kiamat yang menakutkan, Allah tetap membuka pintu harapan. Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, selama matahari belum terbit dari barat, pintu taubat masih terbuka lebar. Justru di zaman penuh fitnah ini, nilai satu ketaatan menjadi sangat mahal di sisi Allah.
Menjadi orang beriman di akhir zaman bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang bertahan. Bertahan menjaga iman di tengah arus kerusakan. Bertahan shalat ketika yang lain lalai. Bertahan jujur ketika dusta menjadi budaya. Bertahan menundukkan pandangan ketika zina diumbar. Bertahan takut kepada Allah ketika dunia menawarkan segalanya kecuali keselamatan akhirat.
Mungkin kita tidak bisa menghentikan kiamat. Tapi kita bisa memilih bagaimana menghadapinya. Apakah sebagai orang yang lalai, atau sebagai hamba yang bersiap. Apakah sebagai penonton kehancuran, atau sebagai pejuang iman yang meski lemah, tetap berusaha taat.
Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti tanpa arah. Ini adalah panggilan cinta dari langit. Teguran yang menyakitkan karena ia jujur. Jika hati terasa terhimpit saat membacanya, itu bukan karena kebencian, tapi karena iman Anda masih hidup. Hati yang mati tidak akan tersentuh oleh peringatan.
Kini pertanyaannya sederhana namun menentukan:
Ketika tanda-tanda kiamat semakin jelas, apakah kita masih ingin mengabaikannya?
Ataukah hari ini kita memilih berhenti sejenak, menunduk, menangis, dan berkata:
“Ya Allah, jika dunia akan berakhir, izinkan aku menghadap-Mu dalam keadaan Engkau ridha.”
Karena pada akhirnya, yang paling mengerikan bukanlah kiamat itu sendiri— melainkan datangnya kiamat sementara kita belum siap bertemu Allah.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







