Ada sebuah paradoks yang kerap kita jumpai dalam kehidupan umat Muslim hari ini: dada membara ketika Islam dihina, namun hati tetap tenang saat ajaran Islam sendiri dilanggar. Lidah lantang membela kehormatan agama, tetapi langkah sering lalai menjaga perintah-Nya. Kita tersinggung oleh hinaan orang lain, namun sering abai terhadap peringatan dari Allah.
Ketika Muslim Mudah Marah namun Lalai Taat
Saat simbol Islam dicela, emosi meledak, status media sosial membanjir, amarah tumpah tanpa kendali. Namun ketika shalat ditunda, amanah diabaikan, dusta dianggap sepele, kita justru merasa biasa saja. Seolah-olah kehormatan Islam hanya terletak pada simbol, bukan pada ketaatan.
Padahal Islam tidak hanya terluka oleh hinaan dari luar, tetapi lebih perih oleh pengkhianatan dari dalam. Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pemeluknya sendiri adalah luka sunyi yang sering tak kita sadari. Islam tidak menuntut pembelaan emosional semata, tetapi pembuktian nyata dalam amal dan akhlak.
Kita marah ketika Nabi dihina, namun sering lupa meneladani sunnahnya. Kita menangis saat Al-Qur’an dilecehkan, tetapi jarang membuka dan mengamalkannya. Cinta yang hanya berhenti di emosi tanpa ketaatan sejati adalah cinta yang rapuh.
Paradoks ini menunjukkan bahwa marah lebih mudah daripada taat. Emosi bisa muncul seketika, namun istiqamah menuntut perjuangan panjang. Membela Islam di luar diri terasa heroik, sementara memperbaiki diri sendiri terasa berat dan melelahkan.
Ironisnya, sebagian dari kita merasa sudah cukup membela agama dengan teriakan dan kecaman. Padahal Islam tidak akan terangkat hanya oleh kemarahan, tetapi oleh akhlak yang jujur, amanah yang dijaga, dan ibadah yang ditegakkan dengan penuh kesadaran.
Tanggung Jawab Muslim Menjaga Kehormatan Islam
Sejarah mengajarkan bahwa Islam berjaya bukan karena umatnya mudah marah, tetapi karena mereka konsisten taat. Musuh paling berbahaya bagi Islam bukan selalu mereka yang menghina, melainkan kelalaian umatnya sendiri terhadap nilai-nilai Islam.
Ketika riba dianggap wajar, ghibah menjadi hiburan, dan kecurangan dianggap cerdas, saat itulah Islam dilanggar dengan senyap. Tidak ada keributan, tidak ada protes, tidak ada amarah. Padahal pelanggaran inilah yang paling merusak citra Islam di mata Allah dan manusia.
Kita sering lupa bahwa dosa yang kita lakukan sendiri lebih berbahaya bagi iman kita daripada hinaan orang lain. Hinaan mungkin melukai perasaan, tetapi maksiat mengeraskan hati. Amarah pada penghinaan tidak akan menyelamatkan kita, jika ketaatan terus diabaikan.
Islam tidak membutuhkan pembela yang kasar, tetapi hamba yang taat. Tidak butuh teriakan penuh kebencian, tetapi teladan penuh kasih dan keteguhan prinsip. Akhlak yang lurus sering kali lebih ampuh daripada seribu argumen emosional.
Marah karena agama memang bisa menjadi tanda kecemburuan iman. Namun kecemburuan itu harus dibuktikan dengan ketaatan yang konsisten. Jika tidak, marah itu hanya menjadi topeng untuk menutupi kelalaian diri.
Cerminan Iman Muslim dalam Amal dan Akhlak
Sudah saatnya kita bercermin dengan jujur: seberapa sering kita membela Islam, dan seberapa sering kita mengkhianatinya melalui perbuatan? Jangan-jangan kita sibuk menjaga kehormatan Islam di mata manusia, tetapi lalai menjaga amanah di hadapan Allah.
Membela Islam yang paling hakiki dimulai dari diri sendiri. Dari shalat yang tepat waktu, dari kejujuran dalam muamalah, dari adab dalam berbicara, dan dari kesungguhan meninggalkan maksiat meski tidak ada yang melihat.
Jika kemarahan kita terhadap penghinaan sebanding dengan kesedihan kita saat melanggar perintah Allah, niscaya umat ini akan berubah. Islam akan kembali mulia bukan karena teriakan, tetapi karena ketaatan. Bukan karena emosi sesaat, tetapi karena kesungguhan iman yang hidup dalam amal nyata.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!






