Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Risalah > Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah
Risalah

Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah

Bahron Ansori
Terakhir diperbarui: 15 Januari 2026 13:54
Bahron Ansori
Membagikan
Muslim
Adzan berkumandang, namun bagi banyak dari kita, suara itu tidak lagi terdengar seperti undangan cinta, melainkan alarm yang mendesak. (Sumber gambar freepik.com)
Membagikan

Adzan berkumandang, namun bagi banyak dari kita yang mangaku sebagai umat muslim, suara itu tidak lagi terdengar seperti undangan cinta, melainkan alarm yang mendesak. Ada sebuah ruang sunyi di antara lisan yang bersyahadat dan kaki yang berat melangkah menuju kiblat. Kita terjebak dalam sebuah paradoks: mengakui Tuhan sebagai pusat kehidupan, namun menempatkan perjumpaan dengan-Nya sebagai beban yang menyela kesibukan.

Di banyak sudut kehidupan hari ini, kita menemukan pemandangan yang sunyi namun nyata: Muslim yang lisannya fasih menyebut iman, tetapi langkah kakinya terasa berat saat adzan berkumandang. Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang menunjuk, namun realitas itu hadir seperti bayangan—tenang, tapi mengusik nurani.

Paradoks ini bukan cerita tentang siapa yang salah atau siapa yang paling benar. Ini adalah potret bersama, cermin yang diam-diam memantulkan wajah kita sendiri. Iman tetap diakui, syahadat tetap dijaga, tetapi shalat perlahan bergeser dari kebutuhan jiwa menjadi kewajiban yang terasa membebani.

Banyak Muslim hari ini hidup dalam ritme yang melelahkan. Pagi diburu target, siang ditelan kesibukan, malam dikuras keletihan. Di tengah hiruk-pikuk itu, shalat sering datang seperti “interupsi”—bukan perjumpaan, bukan pelepas, melainkan jeda yang dianggap mengganggu alur hidup.

Baca juga  Dirikanlah Shalat untuk Mengingat Allah

Padahal shalat tidak pernah meminta lebih dari kejujuran hati. Ia tidak menuntut kesempurnaan, hanya kehadiran. Namun justru di situlah masalahnya: menghadirkan hati jauh lebih berat daripada sekadar menggerakkan tubuh. Kita mampu berdiri, rukuk, sujud, tetapi hati tertinggal entah di mana.

Fenomena ini sering lahir bukan karena kebencian pada shalat, melainkan karena kelelahan batin yang tak disadari. Jiwa yang lama tak disapa, iman yang jarang dirawat, membuat ibadah terasa kering. Seperti orang kehausan yang lupa bahwa airlah yang ia butuhkan.

Di sisi lain, dunia menawarkan ribuan alasan untuk menunda. Notifikasi lebih cepat dari adzan, deadline terasa lebih mendesak daripada panggilan langit. Perlahan, prioritas pun bergeser, bukan karena sengaja, tapi karena terbiasa.

Ironisnya, banyak yang tetap merasa “baik-baik saja”. Identitas Muslim tetap melekat, nilai-nilai agama tetap dibicarakan, tetapi hubungan personal dengan Allah menjadi formal dan berjarak. Shalat tetap dilakukan—atau ditinggalkan—tanpa rasa kehilangan.

Inilah paradoks itu: iman diyakini sebagai kebenaran, tetapi tidak selalu dirasakan sebagai kebutuhan. Padahal, shalat tidak diturunkan untuk membebani hidup, melainkan untuk menopangnya. Ia bukan beban, tetapi penyangga; bukan tugas, tetapi tempat kembali.

Baca juga  Sok Sibuk Tapi Nggak Ada yang Selesai, Ini Pertanda Apa?

Saat shalat terasa berat, mungkin yang perlu ditanya bukan “mengapa aku malas?”, melainkan “apa yang sedang lelah dalam diriku?”. Bisa jadi iman tidak mati, hanya tertutup debu panjangnya perjalanan hidup.

Ada Muslim yang rindu kepada Allah, tetapi tidak tahu bagaimana cara kembali mendekat. Ada yang ingin khusyuk, tetapi pikirannya penuh. Ada yang ingin taat, tetapi hatinya kosong. Semua itu manusiawi, dan justru di sanalah pintu perbaikan terbuka.

Shalat yang hidup lahir dari iman yang disirami, bukan dipaksa. Ia tumbuh dari pemahaman, bukan sekadar hafalan. Ketika shalat dipahami sebagai dialog, bukan formalitas, beban perlahan berubah menjadi kebutuhan yang dirindukan.

Jurnalisme kehidupan hari ini mencatat satu hal penting: krisis umat bukan semata kurangnya ibadah, tetapi melemahnya makna ibadah. Kita melakukan banyak hal, namun lupa menghidupkan ruhnya. Kita bergerak cepat, tetapi kehilangan arah pulang.

Paradoks Muslim ini bukan vonis, melainkan undangan halus untuk merenung. Bahwa mungkin, di balik rasa berat itu, Allah sedang memanggil dengan cara yang paling lembut: “Datanglah, bukan karena kewajibanmu, tapi karena engkau butuh Aku.”

Baca juga  Misteri di Balik Kemunculan Yakjuj dan Makjuj Dalam Perspektif Agama Islam

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

TAG:makna ibadahmuslimparadoks muslim
Artikel Sebelumnya Gus Mikh Makna Isra Miraj 1447 H: Gus Mikh Banjarnegara Ajak Umat Jadikan Salat sebagai Penguat Iman di Era Modern
Artikel Selanjutnya Jenazah Jenazah Pendaki Syafiq Akhirnya Dievakuasi Melalui Gunung Malang Purbalingga
TAHUN BARU
HUT PBG 25
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Sahabat nabi
Risalah

Darah Mengucur Dihajar Kaum Quraisy, Inilah Sosok Sahabat Nabi yang Nyalinya Tak Ciut Baca Al-Quran di Depan Ka’bah

Oleh Bahron Ansori
Kiamat
Risalah

‘Panggilan Cinta dari Langit’ untuk Kita yang Terlalu Sibuk dengan Dunia Padahal Kiamat Sudah di Depan Mata

Oleh Bahron Ansori
Neraka
Risalah

Ngeri! Ngaku Takut Neraka tapi Malah ‘Akrab’ dengan Dosa, Simak Renungan Tentang Paradoks Muslim Masa Kini

Oleh Bahron Ansori
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?