Seringkali, seseorang begitu lantang menyuarakan kebaikan dan menasihati orang lain, namun lupa bahwa nasihat terbaik adalah cerminan dari dirinya sendiri. Fenomena ini disorot tajam dalam Al-Qur’an, yang mengingatkan kita untuk tidak menyuruh kebaikan sementara lupa pada diri sendiri (QS. Al-Baqarah: 44).
Para ulama dan ahli hikmah sepakat: perbaikan diri adalah fondasi utama dakwah. Ketika diri sudah bersih, nasihat akan memiliki daya tarik dan wibawa yang lebih kuat, bukan sekadar teori di mulut.
Lantas, bagaimana cara memulai perbaikan diri yang substansial agar nasihat kita benar-benar mengena dan diterima? Berikut adalah 10 langkah perbaikan diri yang harus dikuasai sebelum seseorang layak menasihati orang lain, dihimpun dari tuntunan agama dan nasihat para ulama:
1. Kenali dan Akui Kekurangan Pribadi
Fondasi perubahan adalah kesadaran. Banyak orang gagal karena enggan mengakui kesalahan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang bertaubat adalah orang yang mengakui dosanya. Kesadaran ini adalah kunci pertama menuju pintu perubahan besar.
2. Perbaiki Niat (Ikhlaskan)
Niat adalah “Raja Amal.” Niat yang salah (misalnya, ingin dipuji saat menasihati) akan membuat amalan terasa berat dan mudah gagal. Meluruskan niat, menjadikannya murni karena Allah, akan membuat proses perbaikan diri menjadi ringan dan berkelanjutan.
3. Poles Akhlak
Akhlak yang buruk dapat merusak nasihat, meskipun isinya benar. Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Ketika seseorang memperhalus tutur kata dan perilakunya, orang lain secara otomatis akan lebih mudah menerima kata-katanya.
4. Perbanyak Amal Rahasia (Sembunyi)
Amal yang tidak diketahui orang lain adalah penjaga keikhlasan terbaik dan pembersih jiwa paling cepat. Dengan memperbanyak amal rahasia (seperti shalat malam atau sedekah tersembunyi), seseorang terhindar dari sifat riya’ dalam memberi nasihat.
5. Jauhi Dosa Kecil dan Besar
Dosa memiliki efek mengeraskan hati, membuat ucapan kehilangan wibawa. Ulama seperti Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa dosa melahirkan dosa lain. Meninggalkan dosa adalah cara mengembalikan cahaya ke dalam hati, sehingga nasihat keluar dengan penuh nur (cahaya).
6. Perkuat Ibadah Wajib
Shalat, puasa, dan amalan pokok adalah penopang keteguhan hati. Allah berfirman bahwa shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-Ankabut: 45). Ibadah wajib yang baik akan memperkuat diri dan meningkatkan pengaruh nasihat.
7. Perluas Ilmu
Nasihat tanpa didasari ilmu bisa menyesatkan diri sendiri dan orang lain. Ilmu membuat nasihat memiliki cahaya dan hujjah (alasan kuat). Semakin luas wawasan agama seseorang, semakin bijak ia dalam menyampaikan pesan.
8. Latih Kesabaran
Menasihati adalah tugas berat. Para nabi pun diuji dengan kesabaran. Sabar membuat seseorang tidak mudah marah, tidak mudah putus asa, dan mampu menghadapi penolakan dengan kepala dingin, sesuai perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW (QS. Al-Ahqaf: 35).
9. Perbaiki Cara Berbicara (Lembah Lembut)
Kelembutan adalah kunci. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berkata lembut kepada Firaun, sosok paling bengis sekalipun. Kata-kata lembut lebih mudah masuk ke hati daripada kata-kata yang keras dan menghakimi.
10. Jadikan Diri sebagai Contoh (Keteladanan)
Keteladanan adalah bahasa paling kuat. Umar bin Khattab pernah berpesan, “Jangan kamu larang anakmu dari sesuatu yang kamu lakukan.” Ketika nasihat didukung oleh praktik nyata, setiap kalimat menjadi hidup. Inilah pilar terpenting agar nasihat diterima manusia dan dicintai oleh Allah.
Pada akhirnya, menasihati orang lain sejatinya adalah proses untuk memperbaiki jiwa sendiri. Ulama berkata bahwa nasihat yang keluar dari hati akan sampai ke hati. Ketika diri sudah benar, nasihat akan keluar dengan penuh hikmah, bukan sekadar omong kosong.
Jangan hanya ingin menjadi orator, jadilah inspirator melalui perbuatan.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







