Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Risalah > Fenomena Bibir Fasih Bicara Siksa Neraka tapi Tangan Ringan Berbuat Dosa
Risalah

Fenomena Bibir Fasih Bicara Siksa Neraka tapi Tangan Ringan Berbuat Dosa

Bahron Ansori
Terakhir diperbarui: 19 Januari 2026 07:46
Bahron Ansori
Membagikan
Siksa neraka
Ilustrasi gambar siksa neraka.(dok Freepik.com)
Membagikan

Banyak dari kita yang dengan fasih menyebut ngerinya api Jahannam, pedihnya azab kubur, hingga siksa neraka yang tak terbayangkan. Namun, sebuah fenomena miris justru sering terjadi di depan mata.

Meski lisan mengaku takut, kaki seolah tetap ringan melangkah menuju maksiat, dan tangan masih saja gemar berbuat dosa. Di sinilah paradoks itu bermula: Kita seolah ‘berani’ melanggar perintah Allah sementara hati terasa biasa-biasa saja. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kita gemetar ketika mendengar ceramah tentang siksa neraka, tetapi tenang saat menunda shalat. Kita tersentuh ketika ayat azab dibacakan, tetapi santai saat menipu, berbohong, atau menyakiti sesama. Seakan-akan dosa telah menjadi teman akrab, bukan musuh yang harus dihindari.

Ketakutan kita sering kali lebih bersifat emosional sesaat, bukan kesadaran yang mengubah arah hidup. Air mata bisa jatuh di majelis ilmu, namun mengering begitu keluar dari masjid. Hati tersentuh, tetapi tidak menetap. Takut, tetapi tidak cukup kuat untuk taat.

Akar masalahnya sering tersembunyi: kita mengenal neraka, tetapi belum benar-benar mengenal Allah. Takut azab-Nya, namun belum mencintai perintah-Nya. Padahal, ketaatan sejati lahir dari cinta yang mendalam, bukan sekadar rasa takut yang dangkal.

Baca juga  Tangis Ammar bin Yasir Pecah di Hadapan Rasulullah, Merasa Khianat karena Tak Kuat Disiksa, Justru Ini yang Terjadi!

Ada dosa-dosa yang kita anggap kecil, padahal terus diulang. Kita berkata, “Ini hanya sekali,” lalu mengulanginya berkali-kali. Dosa yang diremehkan itulah yang perlahan mengeraskan hati, hingga maksiat terasa biasa dan taat terasa berat.

Lebih berbahaya lagi, ketika kita pandai mencari pembenaran. Kita tahu itu salah, tapi selalu punya alasan: keadaan, tekanan, atau dalih “semua orang juga begitu.” Pembenaran adalah pintu masuk paling halus menuju kebiasaan dosa.

Takut Siksa Neraka Harusnya Lahirkan Kewaspadaan

Kita lupa bahwa rasa takut kepada siksa neraka seharusnya melahirkan kewaspadaan, bukan sekadar kekhawatiran kosong. Takut yang benar akan membuat seseorang menjauh, bukan mendekat. Jika api terasa panas, tak mungkin kita mendekat dengan santai.

Ironisnya, kita takut mati dalam keadaan buruk, tetapi hidup dengan kebiasaan buruk. Kita berharap husnul khatimah, namun istiqamah dalam maksiat. Padahal akhir kehidupan sering kali cerminan dari kebiasaan sepanjang hidup.

Allah Maha Pengampun, benar. Namun rahmat-Nya bukan alasan untuk berani bermaksiat. Pengampunan Allah adalah harapan bagi yang bertaubat, bukan tameng bagi yang sengaja berbuat dosa.

Baca juga  Cahaya di Tengah Kegelapan, Cek Cara Mendapatkannya Dalam Agama Islam

Paradoks ini harus diakhiri dengan kejujuran pada diri sendiri. Berani bertanya: apakah ketakutan ini sungguh-sungguh, atau hanya rasa tidak nyaman sesaat? Apakah iman ini hidup, atau sekadar identitas?

Taubat bukan hanya berhenti, tetapi berbalik arah. Bukan sekadar menyesal, tetapi membangun jarak dengan dosa. Bukan hanya menangis, tetapi bertekad untuk berubah, meski perlahan dan tertatih.

Kita tidak diminta menjadi malaikat dalam semalam. Tetapi kita diminta untuk jujur dalam perjuangan. Jatuh boleh, asal bangkit. Tersandung boleh, asal tidak betah berlama-lama di jalan maksiat.

Ketika rasa takut bertemu dengan cinta kepada Allah, di situlah iman menemukan keseimbangannya. Takut membuat kita waspada, cinta membuat kita rindu untuk taat. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Jangan tunggu dosa menjadi kebiasaan, baru ingin berubah. Jangan tunggu hati mati rasa, baru ingin hidup. Siksa neraka bukan sekadar cerita untuk ditakuti, tetapi peringatan agar kita kembali sebelum terlambat.

Semoga kita tidak lagi menjadi Muslim yang paradoks: takut Siksa neraka, tapi akrab dengan dosa. Semoga ketakutan itu berubah menjadi ketaatan, kegelisahan menjadi kesungguhan, dan iman yang rapuh menjadi iman yang hidup—yang menuntun langkah kita pulang kepada Allah.

Baca juga  7 Krisis Akidah yang Diam-diam Menghancurkan Hidup, Nomor 3 Sering Tidak Disadari!

*Anda bisa lebih lihat info lain di Instagram kami.

TAG:islamneraka jahanamsiksa neraka
Artikel Sebelumnya jogging Jogging Bareng Klien ke Tempat Kerja Kian Populer di Cina
Artikel Selanjutnya Wijayakusuma FC Wijayakusuma FC Bisa Lolos ke Babak Gugur Liga 4 Jateng Hari Ini, Berikut Syaratnya
ISRA MIRAJ
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

syahadat
Risalah

Apa Gunanya Syahadat Jika Sujud Saja Enggan? Menelisik Paradoks Iman yang Kian Mengkhawatirkan

Oleh Bahron Ansori
Ammar bin Yasir
Risalah

Tangis Ammar bin Yasir Pecah di Hadapan Rasulullah, Merasa Khianat karena Tak Kuat Disiksa, Justru Ini yang Terjadi!

Oleh Bahron Ansori
Paradoks muslim islam
Risalah

Paradoks Muslim: Garang saat Agama Dihina, Tapi Adem Ayem saat Langgar Perintah Allah

Oleh Bahron Ansori
Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?