Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja, berulang, dan melibatkan ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Fenomena ini bukan sekadar persoalan perilaku menyimpang, tetapi telah diakui dunia akademik sebagai masalah serius yang berdampak luas terhadap kesehatan mental, fisik, akademik, sosial, hingga ekonomi korban. Berbagai penelitian ilmiah lintas disiplin membuktikan bahwa bullying memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang yang mengkhawatirkan. Berikut tujuh bahaya utama bullying berdasarkan hasil penelitian ilmiah.
1. Gangguan Kesehatan Mental Jangka Panjang
Penelitian longitudinal oleh Copeland et al. (2013) menunjukkan bahwa korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma, hingga gangguan psikiatrik di masa dewasa. Arseneault (2018) juga menemukan keterkaitan kuat antara pengalaman bullying di masa kanak-kanak dengan munculnya gangguan mental serius, termasuk gangguan psikotik. Dampak ini menunjukkan bahwa bullying bukan luka sementara, melainkan trauma psikologis yang dapat bertahan seumur hidup.
2. Penurunan Prestasi dan Motivasi Akademik
Bullying terbukti berdampak signifikan terhadap dunia pendidikan. Penelitian Nakamoto dan Schwartz (2010) menemukan korelasi negatif antara pengalaman bullying dan prestasi akademik. Korban cenderung mengalami penurunan konsentrasi, motivasi belajar, serta meningkatnya angka ketidakhadiran di sekolah. Studi Mundy et al. (2017) bahkan menunjukkan bahwa dampak akademik bullying dapat bertahan hingga 7–8 tahun setelah kejadian.
3. Masalah Kesehatan Fisik
Meta-analisis yang dilakukan oleh Gini dan Pozzoli (2013) menyimpulkan bahwa korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan fisik seperti sakit kepala kronis, nyeri perut, gangguan tidur, dan kelelahan berkepanjangan. Takizawa et al. (2014) melalui studi kohort selama 50 tahun menemukan bahwa korban bullying di masa kecil memiliki risiko lebih besar terkena penyakit kardiovaskular, obesitas, dan peradangan kronis di usia dewasa.
4. Kerusakan Perkembangan Otak dan Regulasi Emosi
Penelitian di bidang neurosains memberikan bukti biologis tentang dampak bullying. Teicher et al. (2010) serta Quinlan et al. (2018) menunjukkan bahwa pengalaman bullying dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak, khususnya area yang berkaitan dengan regulasi emosi, memori, dan respons stres. Hal ini menjelaskan mengapa korban bullying sering mengalami kesulitan mengelola emosi dan tekanan dalam jangka panjang.
5. Gangguan Hubungan Sosial dan Kualitas Hidup
Wolke et al. (2013) menemukan bahwa individu yang menjadi korban bullying di masa kecil cenderung mengalami kesulitan menjalin hubungan sosial, memiliki kualitas hidup yang lebih rendah, serta menghadapi masalah ekonomi di usia dewasa. Harga diri yang rendah dan ketidakpercayaan terhadap lingkungan sosial menjadi dampak sosial yang sering menyertai korban bullying.
6. Dampak Ekonomi dan Produktivitas
Bullying tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak secara ekonomi. Brown dan Taylor (2008) mengungkapkan bahwa korban bullying cenderung memiliki pendapatan lebih rendah di usia dewasa. Di lingkungan kerja, penelitian Einarsen et al. (2011) menunjukkan bahwa bullying menurunkan produktivitas, kepuasan kerja, serta meningkatkan risiko gangguan mental karyawan. Dengan demikian, bullying memiliki konsekuensi ekonomi yang luas bagi masyarakat.
7. Eskalasi Kekerasan di Era Digital
Di era digital, bullying berkembang menjadi cyberbullying yang dampaknya sering kali lebih parah. Meta-analisis Kowalski et al. (2014) menunjukkan bahwa korban cyberbullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri dibandingkan korban bullying konvensional. Sifat digital yang masif, anonim, dan sulit dikendalikan membuat dampak cyberbullying lebih cepat menyebar dan lebih sulit dipulihkan.
Berbagai hasil penelitian ilmiah secara konsisten menunjukkan bahwa bullying merupakan ancaman serius bagi kesehatan individu dan kesejahteraan sosial. Dampaknya meluas dari aspek psikologis, akademik, biologis, sosial, hingga ekonomi. Oleh karena itu, bullying harus dipandang sebagai masalah multidisiplin dan isu kesehatan publik yang memerlukan intervensi komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis bukti ilmiah. Upaya pencegahan dan penanganan bullying bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga, institusi pendidikan, dunia kerja, media, dan negara.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







