Detik-detik Ruh Dicabut dari Jasad: Antara Wangi Surga atau Tarikan Besi Berduri yang Menyakitkan

Bahron Ansori
Ruh dicabut, kematian adalah satu-satunya kebenaran yang tidak bisa dinegosiasi.(dok Freepik.com)

Kematian adalah satu-satunya kebenaran yang tidak bisa dinegosiasi. Di detik ketika ruh terpisah dari jasad, segala atribut duniawi—pangkat, harta, hingga topeng kepalsuan—runtuh seketika, menyisakan manusia yang telanjang bulat di hadapan hakikat dirinya dan Sang Pencipta.

Allah berfirman,

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran. Itulah yang dahulu kamu coba hindari.” (QS. Qaf: 19)

Ayat ini menegaskan bahwa sakaratul maut bukan ilusi, bukan cerita menakut-nakuti. Ia datang membawa al-haqq—kebenaran mutlak yang selama hidup sering diabaikan.

Selama hidup, manusia mengira tubuhlah yang berkuasa. Kita menggerakkan tangan sesuka hati, melangkah ke mana pun mau, berbicara kapan saja. Namun saat ruh dicabut, tubuh berubah menjadi penjara, dan ruh mulai berpisah secara paksa.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ketika ruh dicabut, pandangan mata mengikutinya.”

(HR. Muslim). Inilah sebabnya orang yang sekarat sering memandang kosong ke atas, bukan karena halusinasi, tapi karena ia sedang melihat sesuatu yang tidak kita lihat.

Ruh Dicabut, Dua Jalan yang Sangat Berbeda

Hadis panjang dan sangat shahih tentang detik-detik pencabutan ruh diriwayatkan oleh Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah SAW menjelaskan dengan detail yang menggetarkan.

Baca juga  Mengerikan! Inilah Dialog Manusia Saat Jelang Kematian yang Digambarkan Al-Quran, Tak Ada Kata 'Nanti' Lagi

Pertama, Ruh Orang Beriman. Ketika seorang mukmin yang jujur imannya berada di ambang kematian, “Malaikat turun dari langit, wajah mereka putih seperti matahari, membawa kain kafan dari surga dan wewangian surga.” (HR. Ahmad – shahih)

Malaikat maut berkata dengan lembut, “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah.” Ruh keluar seperti tetesan air dari mulut bejana—ringan, lembut, tanpa perlawanan. Inilah buah dari: tauhid yang bersih, taubat yang jujur, amal yang ikhlas

Kedua, Ruh Orang Durhaka. Sebaliknya, ketika ruh orang yang lalai dan durhaka dicabut, “Malaikat turun dengan wajah hitam, membawa kain dari neraka.” Malaikat maut berkata dengan suara keras, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju murka Allah.”

Ruh tercabut paksa, seperti besi berduri yang ditarik dari kain basah—merobek, menyakitkan, dan penuh penderitaan. Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya manusia mendengar suara orang yang sedang disiksa di kuburnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa jeritan sakaratul maut itu nyata, hanya saja Allah menutup pendengaran kita sebagai bentuk rahmat agar kehidupan dunia masih bisa berjalan. Jika tabir ini disingkap sedikit saja, tak akan ada yang tertawa di dunia.

Baca juga  5 Kekeliruan Fatal Pemimpin Ini Bisa Bikin Umat Kehilangan Arah, Nomor 2 Sering Terabaikan

Detik yang Menghancurkan Kesombongan

Saat ruh dicabut, maka orang paling kaya tak bisa menebus nyawanya, orang paling berkuasa tak bisa menunda ajalnya dan orang paling pintar tak bisa berargumen

Allah berfirman:

أَيْنَ مَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, walaupun kamu berada di benteng yang kokoh.” (QS. An-Nisa: 78). Sakaratul maut adalah penghancur ego terakhir.

Pada saat ruh berada di tenggorokan, Allah menegaskan,

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ۝ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ

“Mengapa ketika ruh sampai di tenggorokan, dan kalian saat itu hanya bisa melihat?” (QS. Al-Waqi’ah: 83–84). Di saat itulah, taubat ditolak, janji berubah tidak diterima dan air mata tak bernilai. Karena iman tidak lagi ghaib, melainkan sudah nyata.

Pertanyaan yang mesti diajukan adalah, “Mengapa banyak orang sulit mati? Inlah jawaban para ulama. Para ulama menjelaskan, beratnya sakaratul maut sering disebabkan oleh beberapa hal antara lain karena; menunda-nunda taubat, meremehkan dosa kecil, zalim kepada manusia, hati terpaut pada dunia dan ibadah tanpa ikhlas. Bukan berarti orang saleh selalu mudah mati, tapi orang lalai hampir selalu berat.

Baca juga  Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah

Akhir Zaman: Kematian Tanpa Kesempatan Persiapan

Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda kiamat adalah dicabutnya nyawa secara tiba-tiba.” (HR. Thabrani). Hadis ini menjelasakan, mengapa di akhir zaman: banyak orang mati tanpa sempat wasiat, tanpa sempat taubat, tanpa sempat pamit. Jawabnya adalah karena Allah ingin menyadarkan manusia yang masih hidup.

Pertanyaan untuk diri sendiri adalah, “Jika ruh Anda dicabut malam ini: Dengan kalimat apa Anda akan dipanggil? Dengan lembut atau dengan murka? Dengan wangi surga atau bau neraka?

Karena cara mati adalah cermin cara hidup seseorang. Disinilah kita tahu mengapa orang cerdas bukan yang menunggu sakaratul maut, tapi yang menyiapkan jawabannya sejak sekarang.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dunia telah pergi membelakangi, akhirat telah datang mendekat. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat.” Ruh pasti akan dicabut. Tapi kita masih bisa memilih bagaimana ia dicabut.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.