Sampah Tak Lagi Menumpuk, TPA Winong Kini Produksi Kompos dan BBM

Heri C
Sejumlah petugas di TPA Winong saat melakukan proses pengolahan sampah menggunakan mesin, Selasa (24/2/2026). (Foto: Heri C)

Upaya mengatasi persoalan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Winong terus dilakukan. Selain mengoptimalkan pengolahan sampah organik menjadi kompos, pengelola TPA juga memanfaatkan sampah anorganik melalui teknologi pirolisis untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM).

Kepala UPT TPA Winong, Andar Wahono, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah dilakukan dengan pemisahan berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik dimanfaatkan sebagai bahan baku mesin pirolisis.

“Untuk sampah organik masih kami olah menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik digunakan untuk alat pirolisis yang menghasilkan BBM,” kata Andar, Rabu (25/2/2026).

Menurut Andra, teknologi pirolisis bekerja dengan cara memanaskan sampah plastik pada suhu tinggi tanpa oksigen, sehingga menghasilkan bahan bakar cair yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif energi. Inovasi ini dinilai mampu mengurangi volume sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan utama di TPA.

Namun demikian, operasional mesin pirolisis belum berjalan maksimal. Saat ini, mesin baru dioperasikan tiga hari sekali karena keterbatasan tenaga operasional.

“Mesin beroperasi tiga hari sekali karena kami masih kekurangan tenaga untuk menjalankan operasionalnya secara rutin,” ujarnya.

Baca juga  Supir Truk Minta Dewan Ikut Tolak Odol, Ini Tanggapan Dishub dan Komisi III DPRD BAnjarnegara

Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi BBM dari sampah belum optimal. Padahal, jika didukung sumber daya manusia yang memadai, mesin pirolisis berpotensi mengurangi timbunan sampah anorganik secara signifikan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi tambahan.

Kepala DPKPLH Banjarnegara, Herrina Andri Hastuti mengatakan, selain pengolahan untuk jadi BBM, pengelolaan kompos dari sampah organik juga terus dikembangkan untuk mendukung sektor pertanian lokal. Kompos yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kebutuhan pupuk tanaman, termasuk penghijauan dan pertanian masyarakat sekitar.

“Upaya inovatif ini menjadi bagian dari strategi pengurangan sampah menuju sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” kata Herrina.

Dengan kombinasi pengolahan kompos dan teknologi pirolisis, TPA Winong diharapkan tidak lagi sekadar menjadi lokasi penumpukan sampah, melainkan pusat pengolahan yang memberi nilai tambah.

Ke depan, pengelola berharap ada tambahan dukungan, baik dari sisi tenaga kerja maupun fasilitas, agar operasional mesin pirolisis bisa berjalan setiap hari dan memberikan dampak lebih besar terhadap pengurangan sampah di Kabupaten Banjarnegara.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

Baca juga  Nasib Apes Wanita Pembawa Uang Palsu di Banjarnegara, Diteriaki Pedagang hingga Diamankan Polisi