Dilansir dari berbagai sumber yang ada, tanggal 25 Februari menjadi momentum berbagai peringatan penting di sejumlah negara. Mulai dari ajakan untuk hening sejenak di tengah kebisingan dunia modern, kampanye global melawan perundungan, hingga peringatan revolusi yang mengubah arah politik sebuah bangsa.
Beragamnya peringatan ini menunjukkan bahwa satu tanggal dalam kalender dapat memuat makna refleksi pribadi, kepedulian sosial, hingga sejarah perjuangan demokrasi.
Hari Kampanye Global Anti-Bullying
Selain Hari Ketenangan, 25 Februari juga berkaitan dengan kampanye anti-perundungan yang dikenal sebagai Pink Shirt Day. Gerakan ini bermula di Kanada, ketika dua siswa mengenakan kaus berwarna merah muda sebagai bentuk solidaritas terhadap seorang teman yang dirundung karena memakai pakaian berwarna pink.
Aksi sederhana tersebut berkembang menjadi kampanye global. Di berbagai negara, masyarakat memperingatinya dengan mengenakan pakaian berwarna pink sebagai simbol penolakan terhadap bullying.
Pada 2012, Perserikatan Bangsa-Bangsa turut mendorong kampanye anti-perundungan secara internasional. Meski demikian, tanggal peringatannya berbeda-beda di sejumlah negara, ada yang merayakannya pada akhir Februari, sementara lainnya memilih 4 Mei.
Revolusi EDSA, Tonggak Demokrasi Filipina
Di Filipina, 25 Februari diperingati sebagai EDSA People Power Revolution, yang juga dikenal sebagai Revolusi Februari. Peristiwa yang terjadi pada 1986 itu menjadi tonggak sejarah penting karena menandai berakhirnya rezim otoriter dan awal era demokrasi yang lebih terbuka.
Gerakan rakyat tanpa kekerasan tersebut berlangsung di sepanjang Epifanio de los Santos Avenue (EDSA) dan berhasil menggulingkan pemerintahan diktator. Revolusi ini kerap disebut sebagai salah satu gerakan sipil paling berpengaruh pada abad ke-20.
Hingga kini, peringatan tersebut menjadi hari libur nasional di Filipina dan dikenang sebagai simbol kekuatan rakyat dalam memperjuangkan demokrasi.
Quiet Day, Ajakan Hening di Tengah Kebisingan Modern
Salah satu peringatan yang cukup relevan dengan kehidupan masa kini adalah Quiet Day atau Hari Ketenangan. Peringatan ini umumnya jatuh setiap 25 Februari, meski sejumlah sumber menyebutkan peringatan serupa juga dilakukan pada 14 September.
Quiet Day mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat, membatasi penggunaan gawai, serta menikmati kesunyian sebagai ruang refleksi dan pemulihan kesehatan mental.
Tradisi ini berakar dari praktik Gereja Anglikan yang menetapkan hari khusus untuk doa dan meditasi. Seiring waktu, maknanya meluas menjadi gerakan yang mendorong individu untuk menata ulang keseimbangan diri atau re-center.
Aktivitas yang dianjurkan pada hari ini antara lain mematikan notifikasi telepon, mengurangi percakapan, membaca buku, berjalan santai, hingga bermeditasi. Dalam berbagai tradisi spiritual, kesunyian diyakini mampu membawa kedamaian emosional sekaligus kesehatan fisik.
Di sejumlah negara Asia, praktik meditasi bahkan dilakukan hingga 10 hari penuh, seperti metode vipassana, praktik Buddhis kuno yang masih dijalankan hingga kini.
Peringatan Lain yang Tak Kalah Unik
Selain tiga momentum utama tersebut, 25 Februari juga diperingati sebagai Let’s All Eat Right Day, yang mengajak masyarakat untuk menerapkan pola makan sehat demi menjaga kesehatan fisik dan mental.
Sejumlah peringatan unik lainnya juga jatuh pada tanggal ini, seperti Hari Paten Pistol, Hari Kacang Berbalut Cokelat, Launceston Cup di Australia, hingga Hari Nasional Kuwait.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




