Ki Ageng Selo: Sosok Hero Yang Hidup Dalam Kepercayaan Masyarakat Grobogan

Heri C
Ilustrasi Ki Ageng Selo yang dipercaya masyarakat kabupaten Grobogan. (Foto: AI)

Kepercayaan masyarakat terhadap kisah-kisah supranatural masih hidup kuat di sejumlah daerah, termasuk di Grobogan. Salah satu yang paling dikenal adalah legenda Ki Ageng Selo, tokoh yang diyakini memiliki kesaktian mampu menangkap petir.

Hingga kini, sebagian warga masih merapal ungkapan Jawa “bledek, aku gandreke Ki Ageng Selo” saat hujan disertai petir. Ungkapan tersebut dipercaya sebagai bentuk permohonan perlindungan agar terhindar dari sambaran petir.

Fenomena ini, menurut Ketua Jurusan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta, Muhamad Iqbal Birsyadha, tidak bisa dilepaskan dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat tradisional. Ia menjelaskan, kisah-kisah supranatural pada masa lalu menjadi semacam “ruang tanding” terhadap dominasi tradisi tulis yang berkembang di lingkungan kerajaan.

“Dulu, kemampuan literasi masyarakat bawah sangat terbatas. Karena itu, mereka membangun narasi sendiri melalui tradisi lisan, termasuk kisah-kisah yang bersifat supranatural,” ujar Iqbal dalam webinar yang diselenggarakan MGMP Sejarah dan AGSI Provinsi Jawa Tengah, Minggu (19/4/2026), yang diikuti ratusan peserta.

Lebih lanjut, Iqbal menilai kisah-kisah tersebut tidak sekadar mitos, melainkan memiliki fungsi sosial yang penting, yakni membangun legitimasi dan kebanggaan terhadap tokoh-tokoh yang dihormati masyarakat.

Baca juga  Jangan Asal Pakai Teleskop Saat Melihat Hilal Ramadan 2026, Ini Bahayanya Kata Para Astronom

Ia juga menguraikan bahwa pola pikir masyarakat Jawa umumnya melalui tiga tahapan, yakni imanen, eksistensial, dan esensial yang bermuara pada konsep manunggaling kawula gusti. Dalam proses itu, seseorang biasanya melalui fase belajar, pencarian makna hidup, hingga mencapai pemahaman hakikat.

“Hampir semua tokoh dalam cerita-cerita tradisional memiliki pola perjalanan seperti itu,” jelasnya.

Karena itu, Iqbal menegaskan bahwa para pendidik dan pemerhati sejarah lokal tidak seharusnya mengabaikan kisah-kisah supranatural yang hidup di tengah masyarakat. Ia merujuk pada pandangan sejarawan Husein Jaya Diningrat yang menekankan pentingnya menghargai sumber-sumber tradisional, meski tetap perlu melalui kritik dan verifikasi yang ketat.

“Di balik kisah-kisah itu, biasanya terdapat nilai utama yang ingin ditanamkan kepada masyarakat,” tambahnya.

Selain aspek kisah, Iqbal juga menyoroti pentingnya genealogi dalam budaya Jawa. Ia menyebut, keterkaitan garis keturunan sering menjadi dasar legitimasi sosial, termasuk dalam menghubungkan tokoh-tokoh besar dengan trah kerajaan.

Menurutnya, tidak mengherankan jika Ki Ageng Selo kerap disebut sebagai bagian dari leluhur trah Mataram Islam. Narasi serupa juga muncul pada sejumlah tokoh penting lain yang kerap dikaitkan dengan keturunan Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V.

Baca juga  Supermoon Cold Moon Terangi Indonesia Awal Desember 2025

Sementara itu, Ketua AGSI Jawa Tengah Heni Purwono menekankan pentingnya menghadirkan figur lokal sebagai teladan bagi generasi masa kini. Ia menilai, sejarah lokal perlu lebih diarusutamakan agar masyarakat memiliki kedekatan emosional dengan tokoh-tokoh daerahnya sendiri.

Ia mencontohkan tokoh Mangunyudha Seda Loji dari Banjarnegara yang dinilai layak lebih dikenal luas. Menurutnya, berbagai kisah yang menyertai tokoh tersebut, baik yang bersifat faktual maupun yang mengandung unsur supranatural yang perlu dilihat secara bijak.

“Mungkin ada unsur nyata, mungkin juga tidak. Namun yang jelas, nilai perjuangan beliau melawan kolonial VOC dan sikapnya yang tidak mau menjadi antek asing, itulah yang penting ditanamkan,” ujar Heni.

Ia menambahkan, penguatan pemahaman sejarah lokal masih menjadi pekerjaan rumah, terutama agar masyarakat dapat merasa bangga terhadap warisan tokoh dan nilai perjuangan dari daerahnya sendiri.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!