Mengapa shalat menjadi ibadah pertama yang dihisab di Hari Kiamat? Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan umat Islam. Pengasuh Pondok Pesantren Alif Baa Banjarnegara, Muhammad Mikhdlom Nihrir atau Gus Mikh, menjelaskan bahwa kedudukan shalat sangat menentukan nasib amal seorang Muslim di akhirat.
Menurut Gus Mikh, dalam ajaran Islam shalat merupakan rukun Islam sekaligus ibadah wajib yang dikerjakan lima waktu sehari semalam: Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Namun, keutamaannya tidak berhenti pada kewajiban semata.
“Dalam hadis disebutkan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Ini menunjukkan betapa sentralnya posisi shalat dalam kehidupan seorang Muslim,” ujarnya.
Hadis yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW menyebutkan:
“Sesungguhnya amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)
Tolok Ukur Amal
Gus Mikh menjelaskan, hadis tersebut menegaskan bahwa kualitas shalat menjadi tolok ukur bagi amal-amal lainnya. Artinya, baik buruknya ibadah lain sangat berkaitan dengan kualitas shalat seseorang.
Shalat, kata dia, adalah ibadah yang menghubungkan langsung seorang hamba dengan Allah tanpa perantara. Dalam shalat, seorang Muslim menghadap Sang Pencipta, memohon ampun, berdzikir, dan menyatakan ketundukan sepenuhnya.
“Karena sifatnya langsung dan personal antara hamba dengan Allah, maka wajar jika shalat menjadi yang pertama diperiksa,” katanya.
Tiang Agama
Dalam tradisi Islam, shalat juga dikenal sebagai ‘imad al-din atau tiang agama. Jika tiang itu kokoh, bangunan agama pun berdiri tegak. Sebaliknya, jika shalat ditinggalkan, keimanan seseorang dapat goyah.
Karena itu, lanjut Gus Mikh, shalat menjadi indikator paling nyata atas komitmen seorang Muslim dalam menjalankan perintah Allah secara konsisten sejak baligh hingga akhir hayat.
Pengaruh terhadap Perilaku
Lebih jauh, shalat juga memiliki dampak sosial dan moral. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 45 disebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, shalat yang dilaksanakan dengan khusyuk akan membentuk akhlak dan menjaga seseorang dari perbuatan dosa.
Jika shalatnya baik, maka perilaku sehari-harinya pun cenderung baik. Sebaliknya, jika shalat diabaikan, maka kontrol moral dalam diri bisa melemah.
Awal Penentuan di Akhirat
Gus Mikh menambahkan, hisab atas shalat menjadi awal penentuan nasib seseorang di akhirat. Bila shalat diterima, maka ada harapan besar amal lainnya turut diterima. Namun jika shalat bermasalah, maka amal lain berpotensi ikut terdampak.
“Shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi cerminan hubungan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya. Karena itu ia menjadi ukuran utama dalam hisab,” ujarnya.
Penjelasan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi umat Islam agar menjaga kualitas shalat, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kekhusyukan dan konsistensinya dalam kehidupan sehari-hari.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




