Saat Gending Jawa Mengiringi Puncak Perayaan Nyepi Di Somagede

Besari
Suasana kemeriahan arak-arakan ogoh-ogoh perayaan Nyepi di Desa Klinting Kecamatan Banyumas, Kamis (17/03/2026). (Besari)

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Banyumas, Rabu (18/3/2026). Udara dingin perlahan memuai, berganti hangat oleh derap langkah ratusan warga yang mulai memadati jalanan desa.

Di sana, di antara aroma tanah basah dan sapaan akrab tetangga, sebuah keriuhan spiritual sedang bersiap membelah kesunyian.

Di tengah kerumunan, sesosok raksasa setinggi dua meter berdiri angkuh. Wujudnya ganjil, ornamen kerbau yang tampak menghujam babi. Namun, bagi warga setempat, ini bukan sekadar patung dekoratif.

Ia adalah personifikasi dari kemelut batin manusia yang sesaat lagi akan diarak, dipertontonkan, lalu dilebur. Bagi umat Hindu di Klinting, hiruk-pikuk hari ini adalah puncak dari perjalanan panjang menuju titik nol.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyumas, Slamet, mengenang kembali awal perjalanan ini yang dimulai pada 15 Maret lalu di pesisir Pantai Sodong melalui upacara Melasti.

“Melasti itu bagaimana kita melakukan pembersihan, baik manusianya maupun sarana-prasarana yang digunakan untuk persembahyangan di pura,” kata Slamet.

Baca juga  Malam Takbiran di Bali Bersamaan dengan Nyepi, Ini Panduannya
Nyepi somagede banyumas
Suasana kemeriahan arak-arakan ogoh-ogoh perayaan Nyepi di Desa Klinting Kecamatan Banyumas, Kamis (17/03/2026). (Besari)

Setelah raga dan alat ibadah disucikan oleh asinnya samudra, tibalah saatnya menghadapi sisi gelap dalam diri melalui prosesi Pengrupukan. Di sinilah simbol-simbol menyeramkan, visualisasi dari angkara murka, muncul ke permukaan.

“Pengrupukan itu bagian dari penyeimbang. Disimbolisasikan dengan sifat angkara murka, wujud yang menyeramkan. Itu simbol materialistik manusia yang harus dinetralisir,” jelas Slamet.

Baginya, racun-racun hati seperti iri, sombong, dan amarah harus diredam paksa agar tahun baru bisa disambut dengan jiwa yang selaras.

Uniknya, telinga kita tidak akan menangkap dentuman ceng-ceng atau gamelan Bali yang menderu-deru. Di tanah Banyumas ini, denyut nadi arak-arakan justru dipompa oleh irama ritmis musik tradisional Jawa, serupa iringan ebeg yang lincah.

“Kalau di sini pakai musik Jawa. Itu untuk membangkitkan semangat. Dulu bahkan hanya pakai kentongan,” ungkap Slamet.

Langkah kaki menempuh jarak lima kilometer. Di atas pundak-pundak pemuda desa yang bersimbah peluh, sosok Buta Mahesasura bergoyang mengikuti irama gending. Ada filosofi mendalam yang dipikul bersama beban patung tersebut.

Baca juga  Warga Kuwarasan Hilang Misterius di Pantai Suwuk Kebumen, Warga Hanya Temukan Sepeda Motor

“Ogoh-ogoh itu simbolisasi sifat manusia. Ada buta dan kala. Buta itu materi, kala itu waktu. Artinya manusia sering dikuasai materi seiring waktu,” kata Slamet.

Bahkan sosok babi pada patung itu membawa pesan moral yang membumi: pengingat akan bahaya rasa malas. “Malas itu harus kita perkecil supaya manusia bisa menghasilkan sesuatu dengan semangat,” ujarnya menambahkan.

Meski jumlah umat Hindu di Desa Klinting hanya berkisar 200 jiwa, kemeriahan ini terasa seperti hajatan milik bersama. Ogoh-ogoh itu bukan barang pesanan, melainkan lahir dari tangan-tangan yang bekerja secara kolektif. “Ini kolektif, kita buat bersama-sama,” ucapnya.

Toleransi pun tak perlu diteriakkan; ia hadir dalam senyum warga Muslim yang berjejer di pinggir jalan, menikmati atraksi budaya yang telah lama menjadi bagian dari identitas desa mereka.

Nyepi somagede banyumas
Suasana kemeriahan arak-arakan ogoh-ogoh perayaan Nyepi di Desa Klinting Kecamatan Banyumas, Kamis (17/03/2026). (Besari)

Perjalanan sang raksasa berakhir di sebuah lapangan terbuka saat senja mulai membayang. Di sana, api dinyalakan. Jilatan si jago merah melahap habis ornamen tersebut, sebuah ritual katarsis untuk memusnahkan sifat buruk dari muka bumi.

Baca juga  Mayoritas Saksi Tak Kenal Terdakwa, Sidang Tambang Emas Ilegal Ajibarang Ungkap Fakta Baru

“Setelah diarak kemudian diakhiri dengan upacara Pengrupukan, yaitu ogoh-ogoh dibakar di lapangan sini,” kata Slamet.

Padamnya api menjadi lonceng dimulainya Catur Brata Penyepian. Sebuah jeda total di mana lampu dipadamkan, mesin dimatikan, dan segala aktivitas dihentikan. Inilah momen paling sakral bagi umat Hindu Banyumas, saat manusia dan alam semesta sama-sama menarik napas panjang dalam keheningan yang pekat.

“Yang menarik dari Nyepi adalah keheningan. Bukan hanya manusia, tetapi alam juga perlu berhenti sejenak,” katanya.

Ia berharap, setelah segala hiruk-pikuk dan energi negatif dihentikan, hari esok akan membawa pembaruan. “Dari Nyepi itu diberhentikan sejenak agar nanti bisa lahir menjadi lebih tenteram dan damai,” pungkasnya.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!