Viral Penyakit Hantavirus, Yuk Kenali Gejalanya

Heri C
Penjelasan penyakit Hantavirus yang dibawa oleh tikus. (foto: Ai)

Praktisi dan pemerhati kesehatan masyarakat Kabupaten Banjarnegara, dr Ahmad Setiawan mengatakan, masyarakat agar tidak panik menghadapi kabar potensi penyebaran penyakit yang ditularkan melalui tikus.

Menurutnya, langkah paling penting yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membiarkan rumah menjadi tempat berkembang biaknya tikus.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki populasi tikus yang cukup banyak. Kondisi tersebut diperparah dengan perilaku masyarakat yang masih kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan, seperti membiarkan sampah menumpuk di sekitar permukiman.

“Virus atau penyakit itu mungkin masih jauh, tetapi kita tidak pernah tahu. Dunia sekarang sangat kompleks, mobilitas manusia sangat cepat. Dalam hitungan jam orang dari belahan dunia lain bisa sampai ke Indonesia,” ujarnya.

Salah satunya adalah Hantavirus. Hantavirus sendiri terdiri dari berbagai jenis atau strain yang tersebar di beberapa wilayah dunia. Belakangan ini, strain Andes hantavirus dari Amerika Selatan menjadi perhatian karena diduga lebih mudah menular daripada jenis hantavirus lainnya.

Hantavirus adalah kelompok virus yang menyebabkan gangguan pada paru-paru (hantavirus pulmonary syndrome) atau pembuluh darah dan ginjal (hemorrhagic fever with renal syndrome). Virus ini dibawa dan disebarkan oleh tikus dan hewan pengerat lainnya.

Baca juga  Pegawai Rutan Banjarnegara Arung Jeram Bersama, Ini Tujuannya

Penyakit hantavirus tergolong dalam penyakit zoonosis, karena penyebarannya dimulai dari hewan ke manusia. Penularan infeksi hantavirus ke manusia umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan feses, urine, dan air liur tikus yang terinfeksi.

Berbeda dengan kebanyakan hantavirus yang umumnya menular dari hewan pengerat ke manusia, strain Andes diketahui dalam beberapa kasus dapat menular antarmanusia. Penularan virus ini diduga terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan dengan individu yang terinfeksi.

Meski begitu, WHO menegaskan bahwa penularan antarmanusia pada strain Andes hantavirus masih tergolong jarang dan risiko penyebarannya ke masyarakat umum tetap rendah.

Sampai Mei 2026, strain Andes hantavirus belum ditemukan di Indonesia. Kasus hantavirus yang pernah dilaporkan di Indonesia umumnya berkaitan dengan strain Seoul virus (SEOV), yang penularannya terjadi dari tikus ke manusia, bukan antarmanusia.

Penyakit hantavirus tergolong jarang terjadi, tetapi bisa berbahaya. Tingkat kematian akibat hantavirus pulmonary syndrome sekitar 40% dan pada hemorrhagic fever with renal syndrome sekitar 5–15%.

 

Penyebab Infeksi Hantavirus

Hantavirus adalah kelompok virus yang disebarkan oleh tikus atau hewan pengerat lain. Meski begitu, penularan infeksi hantavirus antarmanusia sangat jarang terjadi.

Baca juga  Kominfo Goes to School di Wanadadi, Siswa Diajak Jadi Generasi Digital yang Cerdas dan Aman

Berikut ini adalah sejumlah kondisi yang bisa menyebabkan seseorang terinfeksi hantavirus:

  • Menyentuh feses, liur, atau urine, dari tikus yang terinfeksi hantavirus
  • Menghirup partikel udara yang mengandung hantavirus
  • Mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi hantavirus
  • Mengalami luka akibat gigitan tikus yang terinfeksi hantavirus
  • Menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah kontak dengan benda yang terkontaminasi hantavirus

 

Faktor risiko hantavirus

Sementara beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terinfeksi hantavirus adalah:

  • Tinggal di rumah atau area yang terdapat banyak tikus
  • Memiliki pekerjaan yang dapat sering berkontak dengan tikus atau cairan yang dikeluarkannya, seperti industri konstruksi atau jasa pengendalian hama
  • Memiliki hobi berkemah, mendaki gunung, berburu, atau melakukan aktivitas lain yang memiliki potensi tinggi untuk berkontak dengan tikus.

 

Gejala Infeksi Hantavirus

Gejala hantavirus umumnya baru muncul sekitar 1–8 minggu setelah seseorang terpapar dan terinfeksi virus tersebut. Keluhan yang timbul bisa berbeda-beda, tergantung organ yang diserang.

Infeksi hantavirus bisa menyebabkan terjadinya hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Berikut ini adalah beberapa gejalanya:

Baca juga  Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Hantavirus pulmonary syndrome (HPS). Pada tahap awal, HPS akan menimbulkan gejala berupa: Demam, Meriang dan tidak enak badan, Sakit kepala, Mual dan muntah, Sakit perut dan diare, Nyeri otot, Rasa lelah.

Bila dibiarkan dalam waktu beberapa minggu, penderita HPS akan mengalami gejala berikut: Demam, Batuk, Sesak napas atau sulit bernapas, Detak jantung cepat, Nyeri dada, seperti terikat kuat.

“Intinya jangan mengundang tikus masuk ke rumah. Rumah harus bersih. Kalau memang ada potensi sarang tikus, maka prosedur pencegahan dan perlindungan diri harus dijalankan,” katanya.

dr Ahmad Setiawan juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap informasi yang beredar. Ia meminta warga tetap mengikuti perkembangan informasi secara bijak, menjaga kebersihan, dan meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan.

“Prinsipnya, jika mengalami gejala sakit, masyakarat segera mendatangi fasilitas kesehatan yang terdekat sejak awal,” katanya.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!