Dolar Melejit Perajin Tahu Tempe Menjerit, Kedelai Lokal Sulit Didapat

Heri C
Junedi saat memproduksi tahu di rumah produksinya, Jumat (22/5/2026). (Heri C)

Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali memukul pelaku usaha tahu dan tempe. Melemahnya rupiah membuat harga kedelai impor terus merangkak naik, sementara para perajin mengaku belum bisa sepenuhnya beralih ke kedelai lokal karena kualitasnya dinilai belum stabil untuk kebutuhan produksi harian.

Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bahkan sempat menyentuh level Rp17.700 lebih per dolar. Pada perdagangan 20 Mei 2026, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.743 per dolar AS.

Kondisi tersebut langsung berdampak pada harga bahan baku kedelai impor yang selama ini menjadi andalan industri tahu dan tempe nasional. Para perajin mengaku biaya produksi melonjak, sementara mereka sulit menaikkan harga jual secara drastis karena khawatir pelanggan beralih.

Di sejumlah sentra produksi tahu dan tempe, para perajin mulai melakukan berbagai cara agar usaha tetap berjalan. Ada yang mengecilkan ukuran tempe, mengurangi jumlah produksi, hingga menekan keuntungan seminimal mungkin.

Ketergantungan terhadap kedelai impor masih menjadi persoalan utama. Sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat. Saat dolar menguat dan rupiah melemah, harga kedelai otomatis ikut terdongkrak.

Baca juga  Amankan Tiket Porprov, Tim Voli Banjarnegara Fokus Porprov

Junedi, seorang perajin tahu di Kecamtan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara ini mengaku kenaikan dolar berdampak langsung terhadap biaya usaha yang dijalaninya setiap hari. Menurut dia, beban produksi kini semakin berat karena hampir seluruh kebutuhan ikut mengalami kenaikan harga.

“Bukan cuma kedelai. Minyak goreng, plastik, semuanya naik. Yang paling terasa sekarang itu minyak goreng,” kata Junedi, Jumat (22/5/2026).

Ia menjelaskan, harga minyak goreng yang sebelumnya berkisar Rp18 ribu per liter saat Ramadan kini naik menjadi sekitar Rp22 ribu. Sementara harga kedelai impor melonjak dari sekitar Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu per kilogram.

Kenaikan harga bahan baku membuat para perajin tidak punya banyak pilihan. Jika harga jual dinaikkan terlalu tinggi, pembeli dikhawatirkan akan berkurang. Karena itu, sebagian perajin memilih memperkecil ukuran tahu agar harga tetap terjangkau.

“Harganya tetap, tapi ukurannya diperkecil,” ujarnya.

Menurut Junedi, kenaikan biaya produksi bisa mencapai ratusan ribu rupiah dalam sekali pembelian bahan baku. Jika sebelumnya kebutuhan produksi berada di kisaran Rp400 ribu, kini bisa mencapai Rp500 ribu atau lebih.

Baca juga  Razia Rumah Kos di Banjarnegara, Satu Penghuni Dinyatakan Reaktif HIV

Meski pemerintah mendorong penggunaan kedelai lokal, Junedi mengaku para perajin masih bergantung pada kedelai impor karena pasokan kedelai lokal dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri.

Namun demikian, ia menilai kualitas kedelai lokal sebenarnya lebih baik untuk produksi tahu. Hasil tahu dari kedelai lokal disebut lebih enak dan kualitasnya lebih bagus dibanding kedelai impor.

“Kalau soal hasil, kedelai lokal sebenarnya lebih bagus, tahu lebih enak. Tapi barangnya kurang, jumlahnya tidak mencukupi,” katanya.

Karsono, pembuat tahu asal Kecamatan Kalibening mengatakan, kondisi ekonomi pasar saat ini membuat perajin berada dalam posisi sulit. Di satu sisi harga bahan baku terus naik akibat penguatan dolar, namun di sisi lain daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih.

“Kami berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok serta memperkuat produksi kedelai lokal agar ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi. Sebab selama industri tahu dan tempe masih mengandalkan kedelai impor, gejolak kurs dolar dipastikan akan terus memengaruhi harga dan produksi di tingkat pelaku usaha kecil,” katanya.

Baca juga  Konservasi Tekan Sedimentasi Waduk Mrica Hingga 100 Ribu Meter Kubik

Padahal, kata Karsono, tempe dan tahu merupakan makanan sehari-hari warga Indonesia. Jadi akan menjadi aneh jika tempe dan tahu menjadi barang mahal di negara sendiri.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!