Terkait Tanggul Irigasi Jebol, Dirjen SDA Soroti Praktik Penyodetan Liar Hingga Infrastruktur Tua

Heri C
Bupati Banjarnegara beserta Dirjen SDA dan Kepala BBSWO saat meninjau proses pengerjaan perbaikan irigasi di Banjarnegara, Senin (1/6/2026). (Foto: Kominfo Banjarnegara)

Maraknya praktik penyodetan saluran irigasi secara ilegal diduga menjadi salah satu faktor yang memicu ambrolnya tanggul irigasi di Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Temuan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum, Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, saat meninjau langsung lokasi kerusakan, Senin (1/6/2026).

Menurut Arnold, hasil investigasi awal menunjukkan kerusakan tanggul tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga diperparah oleh aktivitas manusia yang mengubah aliran dan kondisi struktur irigasi.

“Selain faktor cuaca dan kondisi bangunan yang sudah tua, kami menemukan adanya praktik penyodetan irigasi yang turut memengaruhi stabilitas tanggul,” ujarnya.

Arnold menjelaskan, tanggul yang jebol sebelumnya memang berada dalam kondisi rentan. Usia bangunan yang sudah tua, minimnya rehabilitasi dalam jangka panjang, serta penurunan struktur tanah membuat fondasi tanggul semakin lemah. Saat debit air meningkat akibat cuaca ekstrem, struktur yang rapuh tidak mampu menahan tekanan hingga akhirnya ambrol.

Dalam kunjungan tersebut, Dirjen SDA didampingi Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Maryadi Utama dan Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana. Rombongan meninjau langsung titik kerusakan serta progres penanganan darurat yang tengah dilakukan menggunakan alat berat.

Baca juga  Tim Verval Pembangunan Koperasi Merah Putih Banjarnegara Resmi Dibentuk, Fokus Cek Lokasi dan Progres Fisik

Menurut Arnold, percepatan perbaikan menjadi prioritas karena saluran irigasi tersebut merupakan infrastruktur vital yang mengairi ratusan hektare lahan pertanian warga.

Sementara itu, Kepala BBWSSO Maryadi Utama mengatakan penanganan dilakukan melalui dua skema yang berjalan bersamaan, yakni penanganan darurat dan rekonstruksi permanen.

Saat ini, petugas fokus menutup bagian tanggul yang jebol menggunakan material batu dan bronjong guna menghentikan kerusakan lebih lanjut. Bersamaan dengan itu, desain rekonstruksi permanen juga sedang disiapkan.

“Kami menargetkan perbaikan tanggul ini dapat selesai dalam waktu sekitar satu bulan. Sampai saat ini proses penanganan di lapangan berjalan lancar,” kata Maryadi.

Untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap sektor pertanian, BBWSSO juga menyiapkan langkah darurat berupa pompanisasi. Air akan dipompa dari Saluran Sekunder Siwuluh guna menjaga pasokan air ke area persawahan yang terdampak.

“Sementara ini kami akan memompa air dari Saluran Sekunder Siwuluh untuk mengairi lahan terdampak selama proses rekonstruksi berlangsung,” ujarnya.

Data sementara menunjukkan jebolnya tanggul utama tersebut mengancam pasokan air bagi sekitar 161 hektare lahan persawahan di Kecamatan Bawang. Akibat terputusnya aliran irigasi utama, ratusan petani sempat menghadapi risiko kekeringan dan harus mencari alternatif sumber pengairan.

Baca juga  Panas! Tolak PMK 81, FKPD Dipayudha Banjarnegara Sepakat Geruduk Jakarta

Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menyampaikan apresiasi atas respons cepat Kementerian PU dan BBWSSO dalam menangani kerusakan tersebut. Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sangat diperlukan untuk meminimalkan dampak yang dirasakan masyarakat.

“Mengenai teknik perbaikan, kami serahkan kepada BBWSSO yang memiliki kompetensi dan pengalaman. Sementara Pemerintah Kabupaten Banjarnegara akan mendukung pemenuhan kebutuhan air petani melalui berbagai alternatif sumber air yang tersedia, termasuk pompanisasi dari Saluran Siwuluh,” kata Amalia.

Bupati berharap proses perbaikan dapat selesai sesuai target sehingga distribusi air irigasi kembali normal dan aktivitas pertanian masyarakat tidak terganggu dalam waktu yang lebih lama.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!