Menanggapi maraknya kasus tawuran antarremaja, Psikolog klinis utama di RSUD Hj. Anna Lasmanah Gones Saptowati, S.Psi., M.A, mengatakan fenomena tersebut dapat dipahami dari sudut pandang psikologi perkembangan dan neuroscience atau ilmu tentang perkembangan otak.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi perilaku remaja adalah belum matangnya perkembangan bagian otak yang disebut prefrontal cortex (PFC). Bagian otak ini berfungsi sebagai pusat pengendalian diri, pengambilan keputusan, analisis risiko, penalaran, serta pengaturan emosi.
“Prefrontal cortex baru berkembang secara optimal pada usia sekitar 20 hingga 25 tahun. Sementara remaja usia SMP masih berada pada fase perkembangan sehingga fungsi-fungsi tersebut belum bekerja secara maksimal,” ujar Gones.
Kondisi tersebut membuat remaja cenderung lebih mengandalkan emosi dibandingkan pertimbangan rasional saat mengambil keputusan. Akibatnya, mereka lebih rentan terlibat dalam perilaku berisiko, termasuk tawuran, perkelahian antarkelompok, merokok, maupun bentuk kenakalan remaja lainnya.
Ia menjelaskan, pada usia remaja seseorang juga sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Pada masa ini, kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan pergaulan menjadi sangat kuat. Demi mendapatkan pengakuan dan diterima dalam kelompoknya, seorang remaja terkadang bersedia melakukan berbagai tindakan, termasuk yang berisiko dan melanggar norma.
“Sering kali mereka lebih mengutamakan loyalitas terhadap kelompok. Karena kemampuan menganalisis risiko belum matang, keputusan yang diambil lebih banyak dipengaruhi emosi dan dorongan untuk diterima oleh teman sebaya,” katanya.
Meski demikian, Gones menegaskan bahwa keterlibatan remaja dalam tawuran tidak bisa dijelaskan hanya dari faktor perkembangan otak semata. Ada berbagai faktor lain yang turut memengaruhi perilaku seorang anak, seperti pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan, hingga karakter atau kepribadian masing-masing individu.
Menurutnya, kondisi keluarga yang kurang memberikan dukungan emosional juga dapat menjadi salah satu pemicu. Remaja yang merasa kurang diterima, sering mendapat penilaian negatif, dibanding-bandingkan, atau kurang mendapatkan perhatian di rumah, berpotensi mencari pengakuan di lingkungan luar.
“Bisa jadi di rumah mereka merasa tidak diterima sepenuhnya. Namun ketika berada di kelompok atau geng tertentu, mereka merasa dihargai, dipuji, dan mendapatkan pengakuan. Perasaan diterima inilah yang kemudian membuat mereka semakin loyal terhadap kelompok tersebut, meskipun aktivitas yang dilakukan sebenarnya berisiko,” jelasnya.
Karena itu, upaya mencegah tawuran tidak cukup hanya dilakukan melalui penegakan aturan. Peran keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, serta pendampingan psikologis juga sangat penting untuk membantu remaja mengembangkan kemampuan mengelola emosi, berpikir rasional, dan mengambil keputusan yang lebih sehat.
“Perilaku remaja merupakan hasil interaksi banyak faktor. Selain perkembangan otak, lingkungan keluarga dan sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara mereka berpikir dan mengambil keputusan, termasuk keputusan untuk terlibat atau tidak dalam tawuran,” pungkasnya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



