Ratusan warga dari tiga dusun di Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, menggelar tradisi Tukar Takir dan kirab gunungan hasil bumi untuk menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah pada Selasa, 16 Juni 2026. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun itu menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Sejak pagi, warga yang didominasi kaum perempuan tampak memanggul tenong berisi takir, yakni nasi lengkap dengan aneka lauk yang dibungkus daun pisang. Mereka berjalan dari berbagai penjuru desa menuju taman desa sebagai lokasi pelaksanaan tradisi.
Kepala Desa Kemranggon, Sutoyo mengatakan, selain membawa takir, masing-masing dusun juga mengarak gunungan yang disusun dari berbagai hasil pertanian, seperti sayuran dan komoditas pertanian lainnya. Setelah rangkaian doa bersama dipimpin sesepuh desa, warga saling menukar takir yang mereka bawa, kemudian menikmati hidangan tersebut secara bersama-sama sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan.
“Suasana semakin semarak ketika gunungan hasil bumi diperebutkan warga. Bagi masyarakat setempat, hasil bumi yang diperoleh dari gunungan dipercaya sebagai simbol doa dan harapan agar keluarga diberikan keberkahan serta rezeki yang baik,” katanya, Selasa 16 Juni 2026.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan ritual Pamendeman, yaitu menanam sebagian hasil bumi ke dalam tanah. Tradisi tersebut dimaknai sebagai bentuk harapan agar lahan pertanian tetap subur dan hasil panen masyarakat terus melimpah pada musim-musim berikutnya.
Menurut Sutoyo, tradisi Tukar Takir tidak sekadar menjadi perayaan Tahun Baru Islam, tetapi juga merupakan upaya menjaga warisan budaya leluhur yang sarat nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur.
“Tahun ini sekitar enam ribu takir berhasil dikumpulkan dari partisipasi warga tiga dusun. Antusiasme masyarakat terus meningkat karena tradisi ini menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Sekitar 6.000 takir terkumpul dalam pelaksanaan tradisi tahun ini. Besarnya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa Tukar Takir dan kirab gunungan hasil bumi masih menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Kemranggon. Selain mempertahankan kearifan lokal, tradisi ini juga menjadi media memperkuat nilai gotong royong, silaturahmi, dan kebersamaan antarwarga dalam menyambut datangnya Tahun Baru Islam.
Wawan, wisatawan yang hadir di acara tersebut mengatakan jika dirinya selalu berpartisipasi setiap tahun karena tradisi tersebut bukan hanya menjadi momentum berkumpul bersama keluarga dan tetangga, tetapi juga sebagai bentuk doa agar kehidupan masyarakat tetap rukun dan hasil pertanian semakin melimpah.
“Saya selalu bawa keluarga melihat langsung prosesi dan ngalab berkah di tukar takir dan rebutan gunungan. Selain itu, tradisi tersebut memang sudah menjadi ritual tahunan sehingga membuat rindu masa-masa kecil dulu,” katanya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



