Indahnya Toleransi di Banjarnegara, Umat Buddha dan Kristen Belajar Membuat Dawet Ayu dari Penyuluh Islam

Nestya Zahra
Membuat dawet ayu menjadi satu sarana toleransi umat beragama di Banjarnegara pada moment ramadan ini. (dok. warga)

SEMANGAT toleransi dan kebersamaan antarumat beragama kembali terlihat di Kabupaten Banjarnegara. Di tengah suasana bulan suci Ramadan, umat Buddha dan Kristen mengikuti pelatihan membuat minuman tradisional Dawet Ayu yang digelar di Vihara Dhammaloka Merden, Kecamatan Purwanegara.

Menariknya, kegiatan tersebut diprakarsai oleh seorang penyuluh agama Islam dari Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara. Pelatihan ini tidak hanya bertujuan mempererat kerukunan antarumat beragama, tetapi juga memberikan keterampilan usaha kepada masyarakat lintas agama.

Kegiatan berlangsung dengan suasana hangat dan penuh kebersamaan. Para peserta terlihat antusias mempelajari cara membuat minuman khas Banjarnegara yang sudah dikenal luas oleh masyarakat.

Peserta Praktik Langsung Membuat Dawet Ayu

Pelatihan tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung. Peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk mempelajari proses pembuatan Dawet Ayu secara bertahap.

Dalam sesi praktik tersebut, peserta mempelajari berbagai tahapan pembuatan minuman tradisional tersebut, mulai dari menyiapkan bahan baku, merebus adonan, mencetak butiran dawet, hingga meracik santan serta juruh gula merah yang menjadi ciri khas rasanya.

Baca juga  Korban Banjir Purwanegara Terima Bantuan Logistik

Narasumber kegiatan, Hendriyanto, yang merupakan penyuluh agama Islam, menjelaskan bahwa Dawet Ayu dipilih karena memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan.

Selain mudah dibuat, minuman tradisional tersebut juga memiliki pasar yang luas, baik untuk usaha rumahan maupun penjualan di tempat wisata.

“Dawet Ayu memiliki potensi ekonomi yang baik dan relatif mudah dipasarkan. Karena itu kami memilihnya sebagai materi pelatihan,” kata Hendriyanto.

Ia juga memperkenalkan sejumlah inovasi varian Dawet Ayu, seperti Dawet Ayu salak, Dawet Ayu terong Belanda, hingga penggunaan pati irut yang membuat minuman tersebut lebih ramah bagi lambung.

Wujud Nyata Kerukunan Antarumat Beragama

Bagi Hendriyanto, kegiatan ini tidak sekadar pelatihan keterampilan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi antarumat beragama di Banjarnegara.

Pendeta Gereja Suara Kebenaran Injil, Heru Siswanto, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi contoh nyata bahwa masyarakat dari berbagai latar belakang agama dapat saling mendukung dan bekerja sama.

“Kegiatan ini menunjukkan kerukunan antarumat beragama yang sangat baik. Kami dari gereja sangat mengapresiasi inisiatif penyuluh agama Islam yang mengadakan pelatihan ini,” ujarnya.

Baca juga  Siapa Sekda Banjarnegara Selanjutnya? Ini Empat Nama yang Resmi Masuk Tahap Uji Kompetensi

Hal senada disampaikan penyuluh agama Buddha Ade Retno Purwati. Ia mengatakan bahwa peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari umat Buddha dan Kristen yang ingin mengembangkan keterampilan wirausaha.

“Tujuan pelatihan ini untuk melatih keterampilan umat dalam berwirausaha, khususnya usaha Dawet Ayu yang menjadi ikon kuliner Banjarnegara,” katanya.

Pelatihan di Vihara Dhammaloka Jadi Ruang Silaturahmi Lintas Agama

Sementara itu, Ketua Vihara Dhammaloka Budhi Primadana menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat ganda, yaitu memperkuat moderasi beragama sekaligus memberdayakan masyarakat.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Selain memperkuat toleransi, pelatihan ini juga bisa membuka peluang usaha bagi masyarakat, terutama kaum perempuan,” ujarnya.

Melalui kegiatan sederhana tersebut, Banjarnegara kembali menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk membangun kebersamaan. Justru dari keberagaman itu lahir harmoni sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.