Harga Plastik Melambung, Petani dan Pelaku UMKM Menjerit Dan Ancaman Harga Pangan Menguat

Heri C
Seorang petani holtikultura saat merawat tanaman cabai yang menggunakan mulsa sebagai bagian dari pertaniannya, Sabtu (4/4/2026). (Foto: Gatot )

Kenaikan harga plastik selain dirasakan konsumen biasa, ternyata berimbas juga pada sektor pertanian terutama petani holtikultura. Sejak beberapa hari ini, harga mulsa atau penutup tanah, mulai dirasakan berat oleh petani hortikultura di wilayah Banjarnegara. Lonjakan harga yang mencapai dua kali lipat dinilai berpotensi menekan produksi hingga memicu kenaikan harga hasil panen di tingkat konsumen.

Suripto, petani cabai asal Kecamatan Kalibening, mengungkapkan harga mulsa plastik kini melonjak drastis. Jika sebelumnya hanya berkisar Rp750 ribu per rol, saat ini telah menembus Rp1 juta bahkan lebih.

“Semua jenis plastik naik, termasuk plastik kemasan, plastik polybag dan semua jenis plastik. Ini sangat menyedihkan bagi petani,” kata Suripto, Sabtu (4/4/2026).

Ia menjelaskan, mulsa plastik menjadi kebutuhan utama dalam budidaya hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran lainnya. Selain menjaga kelembapan tanah, mulsa juga berfungsi menekan pertumbuhan gulma serta meningkatkan kualitas hasil panen.

Kenaikan harga ini, menurutnya, tidak hanya menambah beban biaya produksi, tetapi juga berpotensi mengurangi luas tanam petani.

Baca juga  Teknologi Cairan Imun Asal Rusia Diujicoba di Banjarnegara, Klaim Panen Padi Naik 30 Persen

“Kalau biaya terus naik, kami terpaksa mengurangi tanam. Dampaknya nanti produksi bisa turun,” ujarnya.

Sejumlah petani lain juga mengeluhkan hal serupa. Mereka menyebut kenaikan harga plastik terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan belum menunjukkan tanda-tanda akan stabil.

Slamet (45), petani sayur lainnya, mengatakan kenaikan ini datang di saat yang tidak tepat.

“Harga hasil panen belum tentu bagus, tapi biaya sudah naik duluan. Petani jadi serba salah,” katanya.

Menurut Slamet, jika kondisi ini terus berlanjut, harga komoditas hortikultura di pasaran berpotensi ikut terdongkrak. Kenaikan biaya produksi biasanya akan dibebankan ke harga jual hasil panen.

“Ketika input produksi seperti plastik naik signifikan, hampir pasti akan berimbas ke harga jual. Ini hukum pasar,” ujarnya.

Petani berharap pemerintah dapat segera turun tangan, baik melalui stabilisasi harga bahan baku maupun pemberian subsidi untuk sarana produksi pertanian. Tanpa intervensi, mereka khawatir tekanan ekonomi di sektor pertanian semakin berat.

“Kalau tidak ada solusi, yang terdampak bukan hanya petani, tapi juga masyarakat sebagai konsumen,” katanya.

Baca juga  Dari Sawah hingga Sungai Serayu, Aspirasi Banjarnegara Mengemuka di Reses Darori

Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan pelaku usaha kecil. Trio, penjual jajanan kemasan asal Kalibening, mengaku kebingungan menentukan harga jual produknya akibat lonjakan harga plastik kemasan.

“Harga plastik kemasan dulunya Rp28 ribu per kilogram, sejak tiga hari ini sudah naik menjadi Rp48 ribu per kilogram,” kata Trio.

Ia menilai, kenaikan bahan kemasan ini cukup memberatkan, terutama bagi usaha kecil yang margin keuntungannya terbatas. Jika harga jual dinaikkan, dikhawatirkan daya beli konsumen menurun. Namun jika tidak, keuntungan usaha akan tergerus.

“Kalau harga dinaikkan, takut pembeli berkurang. Tapi kalau tidak naik, kami rugi,” ujarnya.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!