Putusnya jembatan di Desa Karekan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, pascabanjir pada 14 Januari 2026 silam memunculkan sorotan terhadap kondisi lingkungan di wilayah hulu Sungai Merawu. Selain memutus akses transportasi warga, banjir juga menyebabkan aliran air bersih terganggu selama beberapa hari.
Belum lama, tim komunitas lingkungan Serayu Network yang melakukan penelusuran ke wilayah hulu Sungai Merawu menemukan adanya alih fungsi lahan dalam skala luas. Kawasan yang sebelumnya berupa hutan disebut telah berubah menjadi lahan pertanian.
Pegiat lingkungan dari Serayu Network, Hendra mengatakan, dalam penelusuran tersebut, ditemukan sejumlah pohon ditebang, bahkan ada dugaan pohon dimatikan secara perlahan. Kondisi itu dinilai mengurangi daya resap air di kawasan hulu. Padahal, kawasan hutan memiliki fungsi penting sebagai daerah tangkapan air saat hujan deras turun.
“Ketika tutupan lahan berkurang, air hujan lebih cepat masuk ke aliran sungai. Dampaknya debit air meningkat dan risiko banjir menjadi lebih besar,” katanya, Senin (25/5/2026).
Menurut Hendra, setelah meninjau kawasan hulu, tim kemudian mendatangi lokasi jembatan yang putus di Desa Karekan. Warga menyebut banjir tidak hanya merusak jembatan, tetapi juga memutus akses air bersih bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, kata dia, warga juga menyoroti adanya aktivitas penambangan batu di sekitar aliran sungai yang lokasinya tidak jauh dari jembatan. Aktivitas tersebut diduga ikut mempengaruhi kondisi struktur bantaran sungai dan memperbesar risiko kerusakan saat debit air meningkat. Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan kajian teknis dari pihak berwenang.
“Banjir bandang juga menyebabkan sejumlah lahan milik warga di sepanjang Sungai Merawu tergerus arus. Material tanah dari kawasan tebing dan bantaran sungai terbawa arus hingga memicu sedimentasi di aliran sungai,” katanya.
Kondisi itu diperparah dengan karakter tanah di wilayah sekitar Sungai Merawu yang didominasi tanah lempung. Jenis tanah tersebut dikenal rawan longsor apabila tidak memiliki tutupan vegetasi yang memadai.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga kawasan hulu sungai dan tutupan hutan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di wilayah Banjarnegara.
Aktivis lingkungan dari Pembela Tanah dan Air Banjarnegara, Cahyono mengatakan, semakin bertambah parahnya kerusakan hutan karena perilaku oknum masyarakat yang hanya mementingkan penghasilan sudah seharusnya ditindaklanjuti oleh pemerintah melalui aparat hukumnya.
“Mau sampai kapan kerusakan hutan dibiarkan. Apakah harus menunggu bencana besar dahulu baru ada tindakan tegas dari aparat,” katanya.
Menurut Cahyono, pemerintah dengan aparatnya sudah saatnya untuk turun dan membuktikan apa yang selama ini jadi temuan oleh kelompok aktivis lingkungan dan keluhan masyarakat sekitar hutan.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



