Wah Ternyata Sungai Merawu Penyebab Terbesar Sedimentasi di Waduk Mrica Banjarnegara

Heri C
Kondisi jembatan Karekan Kecamatan Pagentan pada 17 Januari 2026. Tampak kerusakan sungai sangat terlihat. (Foto: Serayu Network Banjarnegara

Sedimentasi dari Sungai Serayu dan Merawu masih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan Waduk Mrica Banjarnegara. Data periode September 2024 hingga Agustus 2025 menunjukkan, dua sungai utama itu menyumbang jutaan meter kubik sedimen ke waduk setiap tahunnya.

Berdasarkan data dari Serayu Network, jumlah air dan sedimen yang masuk melalui Sungai Serayu, Merawu, Lumajang dan Liangan Kiri, data tersebut dibuat untuk periode pengamatan September 2024 sampai Agustus 2025.

“Total sedimen layang yang masuk dari Sungai Serayu mencapai 1.682.461,87 meter kubik. Sementara Sungai Merawu justru lebih tinggi dengan total 2.108.205,31 meter kubik,” kata Ketua Serayu Network, Maman Fansyah, Kamis (28/5/2026).

Data tersebut diperoleh Maman dari PLN IP saat mengikuti rakor penyelematan DAS Serayu di Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional bersama PLN Indonesia Power Mrica yang diikuti sejumlah pejabat kementerian pada 5 Mei 2026.

Menurut Maman, berdasarkan data tersebut, jumlah itu tidak hanya sedimen layang, sedimen dasar dari kedua sungai juga sangat besar. Sungai Serayu menyumbang sedimen dasar sebesar 1.277.425,40 meter kubik dan Sungai Merawu mencapai 1.600.675,22 meter kubik.

Baca juga  Gubernur Ahmad Luthfi Siap Kawal ke Pemerintah Pusat Soal Penanganan Sedimen Waduk Mrica

Jika digabungkan antara sedimen layang dan sedimen dasar, total sedimentasi dari Sungai Serayu mencapai 2.959.887,27 meter kubik. Sedangkan Sungai Merawu menembus 3.708.880,52 meter kubik.

“Angka tersebut menunjukkan Sungai Merawu menjadi penyumbang sedimentasi terbesar ke Waduk Mrica selama periode pengamatan itu. Total sedimentasi dari dua sungai tersebut bahkan mencapai lebih dari 6,6 juta meter kubik,” katanya.

Lonjakan sedimentasi tertinggi terjadi pada November dan Desember 2024. Pada November 2024, total sedimen layang yang masuk dari seluruh sungai mencapai 543.354,23 meter kubik. Angka itu meningkat pada Desember 2024 menjadi 746.643,34 meter kubik.

Besarnya sedimentasi tidak bisa dilepaskan dari kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di kawasan hulu Serayu dan Merawu. Sejumlah penelitian menyebut sedimentasi Waduk Mrica dipicu tingginya erosi akibat perubahan penggunaan lahan, pembukaan lereng pertanian, serta degradasi kawasan hutan di DAS Serayu Hulu dan Sungai Merawu.

Menurut Maman, ada tiga fungsi utama bendungan yang akan terganggu jika sedimentasi yang terus meningkat yaitu berberpotensi mengurangi kapasitas tampung waduk, mengganggu fungsi waduk sebagai Flood Control dan meningkatkan risiko banjir di kawasan hilir Sungai Serayu. Saluran irigasi Banjarcahyana sepanjang 57 kilometer yang mengairi 5.000 hektar lahan pertanian pun terancam kering.

Baca juga  Sedimentasi Waduk Mrica Kritis, Manajemen PLN Turun Langsung ke Lapangan

“Selain itu peningkatan laju sedimentasi tentu saja akan memperpendek usia operasional PLTA Panglima Besar Sudirman,” katanya.

Ulin, salah satu pegiat konservasi sungai mengatakan, sungai Merawu adalah gabungan dari sungai Bojong di Desa karekan dan sungai Penaraban Desa Dawuhan Kecamatan Pejawaran. Adapun bentangan sungai Penaraban ada curug Giri Tirta di pejawaran dan sungai-sungai kecil di Desa wanayasa, Wanaraja, Jatilawang, Dawuhan dan beberapa sungai di wilayah kecamatan Wanayasa bagian atas.

“Pertemuan sungai Merawu dan Sungai Serayu ada di titik sekitar TRMS SerulingMas Banjarnegara sebelum masuk ke Waduk Mrica Banjarnegara,” kata Ulin.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!