SEBAGAI Bentuk kepedulian terhadap lingkungan, sejumlah relawan lingkungan bersama dengan masyarakat melakukan aksi bersih-bersih kawasan sungai Nyako, di Desa Cendana, Kecamatan Banjarnegara, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus bentuk nyata perlawanan terhadap praktik illegal dumping atau pembuangan sampah ilegal di kawasan hulu sungai.
Selain mengangkat sampah yang berserakan di sepanjang aliran sungai, para relawan lingkungan ini juga membuat sejumlah lubang biopori sebagai langkah konservasi sumber daya air dan upaya menjaga fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS).
Sungai Nyangko merupakan salah satu sungai alami yang berhulu di wilayah Sigaluh dan mengalir melalui kawasan perbukitan selatan Banjarnegara sebelum bermuara ke Sungai Serayu. Di wilayah Desa Cendana, sungai ini berada di kawasan yang berbatasan langsung dengan lahan Perhutani sehingga memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem hulu DAS.
Kepedulian Relawan Lingkungan Soal Kualitas Air Sungai Nyangko
Dengan lebar sekitar enam meter dan sumber air yang berasal dari mata air alami, Sungai Nyangko dikenal memiliki kualitas air yang masih jernih. Namun, kondisi tersebut kini menghadapi ancaman akibat masih adanya praktik pembuangan sampah sembarangan di sekitar bantaran sungai.
Untuk itu, ralawan lingkungan berupaya untuk menyelamatkan kualitas air Sungai Nyangko yang selama ini memiliki kualitas air cukup jernih.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPPKPLH) Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan membersihkan lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian sungai.
“Gerakan ini menjadi upaya bersama untuk menyadarkan masyarakat bahwa kita memiliki sungai yang masih alami dan jernih. Sayangnya, kesadaran menjaga lingkungan masih perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.
Ditemukan Sampah Rumah Tangga hingga Kasur Bekas di Area Hulu Sungai
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, sebagian besar sampah yang ditemukan tidak berasal dari aliran sungai. Sampah justru berasal dari praktik pembuangan ilegal di lahan kosong sekitar bantaran sungai yang kemudian digunakan sebagai material urukan.
Relawan menemukan berbagai jenis sampah rumah tangga, sampah anorganik, hingga kasur bekas yang dibuang di lokasi tersebut. Kondisi itu dinilai berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta merusak kualitas tanah di kawasan sekitar sungai.
Selain mencemari lingkungan, tumpukan sampah juga dapat memicu penurunan kualitas lahan dan menghasilkan gas metana yang berisiko terhadap keselamatan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, DPPKPLH Banjarnegara bersama warga memasang papan larangan membuang sampah di titik yang selama ini menjadi lokasi illegal dumping. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan efek edukasi sekaligus mempertegas larangan pembuangan sampah sembarangan.
Keterbatasan Armada Sampah Jadi Tantangan di Tingkat Desa
Usai kegiatan bersih sungai, peserta melanjutkan agenda dengan diskusi bersama warga dan perangkat lingkungan setempat mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, muncul persoalan keterbatasan armada pengangkut sampah yang masih menjadi kendala di sejumlah desa. Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat didorong membangun sistem pengelolaan sampah berbasis swadaya melalui iuran operasional dan pengembangan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai.
DPPKPLH Banjarnegara juga tengah menggagas pembentukan kader lingkungan di setiap desa sebagai langkah jangka panjang untuk memperkuat pengawasan dan edukasi lingkungan.
Nantinya, dua kader lingkungan dari masing-masing desa akan direkrut untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat serta memantau kondisi lingkungan secara berkelanjutan.
“Kalau hanya diundang rapat atau sosialisasi, sering kali setelah itu lupa. Dengan adanya dua kader asli daerah di setiap desa, mereka bisa mengedukasi keluarga dan tetangganya setiap hari sekaligus memantau kondisi lingkungan secara langsung,” kata Herrina.
Gerakan Lingkungan Berkelanjutan untuk Masa Depan Banjarnegara
Pendamping kegiatan, Slamet Riyadi, menegaskan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak.
“Lingkungan yang bersih bukan warisan dari leluhur, melainkan titipan untuk anak cucu kita. Aksi bersih sungai dan pembuatan biopori ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara berkelanjutan dampaknya akan sangat besar bagi masa depan,” ujarnya.
Aksi bersih Sungai Nyangko menambah daftar gerakan pelestarian lingkungan yang telah dilakukan di berbagai wilayah Banjarnegara. Sebelumnya, kegiatan serupa juga digelar di kawasan Semampir dan Blambangan dengan melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Karang Taruna, serta sekolah-sekolah Adiwiyata.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelajar, dan masyarakat, praktik pembuangan sampah sembarangan diharapkan dapat ditekan sehingga kualitas lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air di Kabupaten Banjarnegara tetap terjaga.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



