Bupati Amalia Tegaskan Stunting Bukan Sekadar Soal Ekonomi, Pola Asuh Jadi Penentu

Syarif TM
Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menegaskan stunting bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga pola asuh dan pola makan anak. Pemkab diminta fokus pada aksi nyata penurunan stunting tahun 2026. (dok. kominfo)

MASALAH stunting di Kabupaten Banjarnegara masih menjadi pekerjaan rumah serius. Meski berbagai program telah dijalankan, angka prevalensi kasus ini masih tergolong tinggi. Karena itu, Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana meminta seluruh pemangku kepentingan untuk tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan berani melangkah pada aksi nyata di lapangan.

Penegasan tersebut disampaikan Bupati saat membuka Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Pramusrenbang) Tematik Stunting Kabupaten Banjarnegara Tahun 2026.

Bupati Dorong Kolaborasi Nyata, Bukan Sekadar Seremonial

Dalam arahannya, Bupati Amalia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menurunkan angka stunting secara signifikan. Ia menilai, pembahasan stunting selama ini terlalu banyak berkutat pada teori dan seremonial.

“Melalui Pramusrenbang Tematik ini, saya berharap kita benar-benar memilih aksi. Kita sudah cukup lama berbicara teori, sekarang saatnya fokus pada langkah konkret di lapangan,” katanya.

Baca juga  Jelang Tandang ke Kendal, Persibara Banjarnegara Bidik Poin Penting

Menurutnya, masyarakat menunggu kehadiran pemerintah yang benar-benar dirasakan manfaatnya, bukan hanya sekadar program di atas kertas.

Banjarnegara Masuk 10 Besar Stunting Tertinggi di Jateng

Keseriusan Pemkab Banjarnegara juga dilandasi data yang cukup mengkhawatirkan. Kepala Dinas Kesehatan Banjarnegara, dr. Latifa Hesty Purwaningtyas, memaparkan bahwa berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, Banjarnegara masih berada di 10 besar daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Tengah, yakni 20,6 persen.

Meski terdapat perbedaan dengan data lokal yang mencatat angka lebih rendah, pemerintah daerah memilih bersikap waspada dan fokus pada penanganan riil.

Pola Asuh dan Pola Makan Jadi Faktor Kunci

Dalam arahannya, Bupati Amalia menyoroti bahwa stunting tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan. Pola asuh dan pola makan anak justru menjadi faktor yang sangat menentukan.

Ia mencontohkan pengalamannya sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang anak dengan menekankan konsumsi protein hewani, seperti ikan dan telur.

“Kuncinya memang banyak di protein. Jangan sampai anak hanya makan nasi dengan kuah saja, tapi kebutuhan gizinya tidak terpenuhi,” ujarnya.

Baca juga  Program Genting Cara Banjarnegara Cegah Stunting

Kecamatan Batur Jadi Sorotan, Ekonomi Baik Tapi Stunting Tinggi

Secara khusus, Bupati Amalia menyoroti Kecamatan Batur, wilayah yang secara ekonomi tergolong cukup baik, namun justru memiliki angka stunting tertinggi di Banjarnegara. Kondisi ini menjadi bukti bahwa kasus ini bukan semata persoalan ekonomi.

“Saya pernah ke Desa Sumberrejo, melihat anak kelas 6 SD tingginya sama dengan anak kelas 2 SD. Ini akibat pola asuh, anak lebih sering mengonsumsi junk food dibanding makanan bergizi,” katanya.

Komitmen Pemkab: Kurangi Seremonial, Perbanyak Aksi

Melalui forum Pramusrenbang Tematik Stunting ini, Bupati berharap Banjarnegara tidak hanya unggul dalam perencanaan, tetapi juga disiplin dalam pelaksanaan.

“Kurangi seremonial, perbanyak aksi nyata. Masyarakat berharap pemerintah hadir secara langsung dan memberikan dampak,” katanya.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.