Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Banjarnegara > Makna Mendalam Tradisi Takiran di Bulan Jumadil Akhir, Warisan Spiritual yang Tetap Lestari di Banjarnegara
BanjarnegaraOpiniRagam

Makna Mendalam Tradisi Takiran di Bulan Jumadil Akhir, Warisan Spiritual yang Tetap Lestari di Banjarnegara

Syarif TM
Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025 17:31
Syarif TM
Membagikan
Tradisi takiran Kampung Gagot
Tradisi takiran masih terus lestari dan menjadi satu tradisi yang dijaga secara turun temurun di Kampung Gagot Banjarnegara. (dok. Kampung Gagot)
Membagikan

BANYAK Tradisi bagi masyarakat jawa dalam kalender atau penanggalan Hijriyah maupun Jawa, seperti pada bulan Jumadil Akhir ini. Bagi sebagain masyarakat Banjarnegara, ada Tradisi Takiran, dimana kegiatan ini biasa dilaksanakan pada tanggal 27 Jumadil Akhir.

Contents
  • Apa Itu Tradisi Takiran?
  • Rangkaian Tradisi Penuh Makna
  • Seluruh Warga Berperan
  • Tradisi yang Turun-Temurun dan Tetap Lestari
  • Lebih dari Sekadar Tradisi

Bagi masyarakat khususnya tanah jawa, setiap bulan dalam penanggalan Hijriyah maupun kalender Jawa memiliki makna dan tradisi tersendiri. Salah satunya adalah Tradisi Takiran, sebuah kearifan lokal masyarakat Banjarnegara yang rutin digelar setiap 27 Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriyah.

Tradisi Takiran bukan sekadar kegiatan berkumpul dan makan bersama, tetapi mengandung filosofi mendalam sebagai bentuk syukur, refleksi, dan persiapan memasuki bulan suci Ramadan yang akan datang dua bulan kemudian.

Apa Itu Tradisi Takiran?

Nama Takiran berasal dari Bahasa Jawa, gabungan dua kata: “Nata Pikir” yang berarti menata pikiran. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mulai menenangkan hati, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan sosial menjelang Ramadan.

Tradisi ini biasanya dilakukan dengan membawa makanan yang ditempatkan dalam takir, yaitu wadah tradisional dari daun pisang. Isi takir berupa nasi lengkap dengan lauk pauk, kemudian dikumpulkan dalam wadah besar bernama tenong sebelum akhirnya disantap bersama.

Baca juga  Jumlah Terus Bertambah, Ini Kebutuhan Mendesak Pengungsi Longsor Pandanarum

Rangkaian Tradisi Penuh Makna

Di sejumlah desa di Banjarnegara, termasuk Kampung Gagot, Desa Kutawuluh, Kecamatan Purwanegara, rangkaian acara Takiran dimulai sejak pagi hari. Kegiatan meliputi:

  • Bersih desa
  • Membersihkan lorong kampung dan area makam leluhur
  • Ziarah dan doa bersama
  • Makan bersama seluruh warga

Tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat gotong royong, sekaligus menumbuhkan rasa syukur.

Menariknya, tradisi ini juga dipersembahkan untuk mengenang Kiyai Gagot, tokoh sesepuh desa yang disebut memiliki hubungan sejarah dengan babad tanah Jawa bersama Syekh Subakir.

Seluruh Warga Berperan

Tradisi ini melibatkan seluruh warga tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin. Kaum laki-laki lebih banyak bertugas membersihkan lingkungan dan area makam, sementara kaum perempuan menyiapkan makanan yang akan dibawa dalam bentuk takir.

Setelah doa bersama, seluruh warga berkumpul di jalanan kampung dan makan bersama dengan suasana penuh tawa dan keakraban. Dalam beberapa momen, warga juga saling bertukar takir sebagai simbol persaudaraan.

Tradisi yang Turun-Temurun dan Tetap Lestari

Menurut Amrullah, tokoh pemuda Kampung Gagot, tradisi Takiran memiliki makna spiritual sekaligus sosial yang sangat penting bagi masyarakat.

Baca juga  Buka Peluang Usaha Baru, Santri di Banjarnegara Dilatih Olah Eceng Gondok Jadi Pakan Ikan

“Takiran adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus pengingat untuk mulai menata hati dan pikiran menyambut bulan Ramadan dua bulan lagi,” ujarnya.

Amrullah menambahkan, tradisi ini sudah berjalan turun-temurun dan menjadi sarana untuk menjaga hubungan antarwarga agar tetap harmonis.

“Hidangan dalam takir itu nanti dimakan bersama dan sebagian ditukar antarwarga. Di situlah makna kebersamaan dan persaudaraan benar-benar terasa,” katanya.

Tradisi Takiran Kampung Gagot
Kampung Gagot merupakan satu eduwisata pertanian di Banjarnegara yang masih mempertahankan tradisi takiran. (dok. Kampung Gagot)

Lebih dari Sekadar Tradisi

Takiran bukan hanya acara budaya, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Banjarnegara. Nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, gotong royong, dan rasa syukur yang terkandung di dalamnya membuat tradisi ini tetap bertahan lintas generasi.

Di era modern sekalipun, tradisi ini terus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus pengingat bahwa persiapan menyambut Ramadan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga batin.

Tradisi Takiran (Nata Pikir):

  • Makna: Nama “Takiran” berasal dari singkatan bahasa Jawa Nata Pikir yang secara harfiah berarti menata pikiran atau mempersiapkan diri. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mulai fokus dan menata hati serta pikiran untuk memasuki bulan-bulan suci, terutama Ramadan.
  • Pada kegiatan ini, seluruh warga berkumpul bersama dan membawa makanan dalam wadah yang disebut “takir” (wadah tradisional dari daun pisang). Makanan tersebut biasanya berupa nasi lengkap dengan lauk-pauknya, kemudian dikumpulkan dalam wadah besar bernama “tenong”.
  • Tujuan: Selain sebagai wujud syukur kepada Tuhan, tradisi ini juga mempererat tali silaturahmi dan semangat gotong royong antar warga.
  • Kegiatan ini biasanya diawali dengan bersih desa bersama, seluruh Lorong dan jalan-jalan desa dibersihkan bersama, termasuk melakukan ziarah ke makam sesepuh desa, melakukan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas limpahan rizki serta meminta keberkahan dan keselamatan pada yang maha kuasa.
Baca juga  Slamet SM Resmi Jabat Ketua DPRD Banjarnegara Periode 2024–2029

Tradisi ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat Banjarnegara dalam menyelaraskan antara budaya leluhur dengan nilai-nilai keagamaan, menjadikannya momen penting dalam kalender sosial dan spiritual mereka.

Pada tahun ini, tradisi takiran yang biasa dilaksanakan tanggal 27 Jumadil Akhir ini bertepatan dengan Kamis Wage 18 Desember 2025. Moment ini tentu akan menjadi satu jalinan untuk memperkuat serta kebersamaan warga.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

TAG:berita banjarnegaraberita seputar banyumaskampung gagotTradisi takiran
Artikel Sebelumnya Satgas Parkir Kabupaten Banyumas melakukan razia penertiban juru parkir liar di kawasan kota Purwokerto, Sabtu (06/12/2025) malam. Satgas Parkir Pemkab Banyumas Tertibkan Juru Parkir Liar dan Tak Beridentitas di Purwokerto
Artikel Selanjutnya Hari Anti Korupsi tahun 2025 Peringatan Hari Anti Korupsi 2025 di Banjarnegara, Momentum Teguhkan Komitmen Anti Korupsi
TAHUN BARU
HUT PBG 25
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Prakiraan cuaca purwokerto banyumas 16-17 januari 2026
BanyumasRagam

Prakiraan Cuaca Purwokerto Saat Long Weekend 16–18 Januari 2026, Hujan atau Cerah?

Oleh Kurnia
Rapat MBG dan Validasi data penerima manfaat
Banjarnegara

Rakor MBG Digelar, Pemkab Banjarnegara Tekankan Akurasi Data Penerima Manfaat

Oleh Syarif TM
Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Gus Mikh
Banjarnegara

Makna Isra Miraj 1447 H: Gus Mikh Banjarnegara Ajak Umat Jadikan Salat sebagai Penguat Iman di Era Modern

Oleh Heri C
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?