Menghadapi dunia kerja yang makin dinamis, kampus Unsoed baru saja meluncurkan inovasi seru bernama Griya Cendekia. Bukan sekadar kafe tempat nongkrong, tempat ini hadir sebagai laboratorium bisnis kuliner nyata bagi para mahasiswa untuk mengasah skill lapangan mereka.
Konsep hasil kolaborasi dengan Pringsewu Grup ini adalah memindahkan teori dari ruang kelas ke ekosistem bisnis yang sebenarnya. Kerennya lagi, program ini sudah dikonversi setara 20 SKS. Jadi, sambil mendalami manajemen dan operasional usaha secara profesional, mahasiswa juga tetap memenuhi kewajiban akademiknya.
“Pada dasarnya, kita butuh media praktik untuk mahasiswa. Maka ditangkap oleh pihak rektorat bahwa prinsip ini harus difasilitasi melalui beberapa tempat praktik. Karena itu, di sini tidak semata-mata kafe, tetapi menjadi Cendekia Cafe di Griya Cendekia,” kata Direktur Utama Pringsewu Cemerlang, Totok Sutrisno.

Bukan Sekadar Kejar Cuan
Di sini, mahasiswa belajar banyak hal, mulai dari urusan dapur (produksi) hingga manajerial. Meski saat ini mayoritas mahasiswa yang terlibat berasal dari Fakultas Ekonomi, kedepannya pengelola ingin menjadikan mahasiswa sebagai motor utama operasional dengan target partisipasi hingga 90 persen.
“Memang saat ini keterlibatannya masih kecil, tetapi ini akan terus kita kembangkan. Targetnya, mahasiswa menjadi bagian utama dari operasional,” jelas Totok.
Menariknya, inisiatif ini tidak melulu mengejar profit. Totok menekankan bahwa fokus utamanya adalah edukasi dan pembentukan karakter.
“Di kampus ini kan dunia pendidikan, bukan sekadar bisnis. Kita lebih mengedepankan silaturahmi, nanti rezeki mengikuti,” tambahnya.
Solusi Mentalitas buat Gen Z
Langkah ini juga menjadi strategi jitu untuk menjembatani gap karakter kerja pada generasi Z. Program ini hadir untuk menjawab keluhan dunia industri yang sering menganggap Gen Z punya tantangan dalam hal mentalitas dan tanggung jawab.
“Problem utamanya sebenarnya di mentalitas dan budaya kerja. Banyak yang bilang Gen Z sulit diatur, tapi bukan hanya mengklaim, harus ada solusi. Nah ini salah satu bentuk solusi kita, membekali mereka sejak dini,” kata Totok.
Di Griya Cendekia, mahasiswa dilatih mengubah pola pikir. Masalah tidak lagi dilihat sebagai beban yang bikin menyerah, tapi sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.
“Kalau hambatan dianggap beban, mereka akan mudah menyerah. Tapi kalau kita ubah menjadi tantangan, mereka akan terdorong untuk menyelesaikannya. Itu yang kita tanamkan sejak di bangku kuliah,” ungkapnya.
Bekal Jadi Pengusaha Masa Depan
Totok berharap pengalaman magang ini bisa menjadi modal kuat bagi mahasiswa untuk membuka usaha sendiri setelah lulus nanti.
“Harapannya, lulusan-lulusan kami di sini pulang ke kampung halamannya buka seperti ini. Syukur-syukur dengan nama Pringsewu,” tutupnya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



