PEMBANGUNAN infrastruktur pengairan yang digencarkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sepanjang 2025 mulai menunjukkan dampak nyata. Dari wilayah pesisir hingga sentra pertanian, proyek-proyek tersebut tidak hanya menekan ancaman rob, tetapi juga menjaga keberlanjutan suplai air irigasi bagi lahan pertanian.
Di kawasan pesisir Kota Pekalongan, ancaman rob yang selama bertahun-tahun menghantui warga kini berangsur mereda. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun tanggul Sungai Bremi–Meduri sebagai perlindungan kawasan permukiman dari limpasan air pasang laut.
Tanggul sepanjang total 2.333 meter itu dilengkapi parapet beton cyclop setinggi sekitar 1,5 meter. Infrastruktur tersebut melindungi tiga desa rawan rob, yakni Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo, yang sebelumnya hampir setiap hari mengalami genangan.
Suplay Irigasi Pertanian, Hasilnya Dirasakan Langsung Masyarakat dan Petani
Kepala Desa Mulyorejo, Samroni, mengungkapkan perubahan signifikan yang dirasakan warganya setelah pembangunan tanggul rampung.
“Dulu hampir tiap hari sungai meluap dan jalan tergenang. Sekarang kondisi jauh lebih aman,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada kawasan pesisir, penguatan pengairan juga menyasar wilayah pertanian. Di Desa Triharjo, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, revitalisasi embung menjadi solusi krusial saat musim kemarau. Embung dengan kapasitas tampung sekitar 11.400 meter kubik kini mampu mengairi kurang lebih 25 hektare sawah.
Bagi petani setempat, embung tersebut menjadi penopang keberlangsungan panen.
“Kalau kemarau biasanya gagal panen. Sekarang air tersedia dan hasil panen meningkat,” kata Matori, petani Desa Triharjo.
Tahun Pembangunan Infrastruktur Pengairan Daerah
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menjelaskan bahwa 2025 menjadi tahun penting bagi pembangunan infrastruktur pengairan di daerahnya. Selama periode tersebut, Pemprov Jateng membangun delapan embung baru, merevitalisasi dua embung, serta menuntaskan 14 paket perbaikan daerah aliran sungai (DAS).
Untuk tanggul Bremi–Meduri, Henggar menyebut pembangunan pada 2025 mencakup 733 meter, sebagai bagian dari proyek tahun jamak yang dimulai sejak 2021.
“Dengan peninggian sekitar 1,5 meter, wilayah yang sebelumnya selalu tergenang kini relatif aman dari rob,” katanya.
Infrastruktur Pengairan dilakukan dengan penguatan DAS di sejumlah wilayah strategis, seperti DAS Pemali, Bodri, Kutho, dan Blorong. Meski di beberapa lokasi masih dilakukan penanganan darurat, arah kebijakan tetap diarahkan pada ketahanan pangan dan perlindungan wilayah rawan banjir.
Upaya pengendalian air juga diterapkan di Kabupaten Demak. Di Desa Dukuh Lengkong, Kecamatan Sayung, Pemprov Jateng menyiapkan pengoperasian Pompa Air Tenaga Surya (PATS) berkapasitas 2 x 125 liter per detik. Wilayah ini dikenal sebagai daerah rendah yang kerap terdampak rob dan genangan hujan berkepanjangan.
Pompa tersebut menggunakan sistem hibrida, memadukan energi surya dan listrik konvensional, dan dijadwalkan diresmikan pada Rabu (31/12/2025) atas instruksi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Siapkan 15 Unit Pompa Mobile Berkapasitas 250 Liter per Dektik
Selain itu, menyongsong 2026, Pemprov Jateng juga menyiapkan 15 unit pompa mobile berkapasitas 250 liter per detik untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologis.
Meski demikian, Henggar menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian air tidak hanya bergantung pada infrastruktur pengairan.
“Peran masyarakat dalam menjaga DAS dan lingkungan sangat penting agar dampak bencana hidrometeorologis bisa ditekan,” pungkasnya.
Dari Pekalongan, Kendal, hingga Sayung, pembangunan pengairan kini tak sekadar mengendalikan air, tetapi juga menjaga harapan: pesisir tetap layak dihuni dan sawah terus menghasilkan panen.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







