AMIKOM – Peningkatan angka harapan hidup membawa dampak positif bagi kualitas kesehatan masyarakat. Namun di sisi lain, bertambahnya usia juga menghadirkan tantangan baru, khususnya pada kelompok lanjut usia (lansia). Salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami lansia adalah gangguan sistem muskuloskeletal, terutama rheumatoid arthritis (RA) atau yang dikenal sebagai rematik.
RA merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan pada lapisan sinovial sendi. Kondisi ini umumnya menyerang tangan, kaki, dan lutut, serta ditandai dengan nyeri tekan, pembengkakan sendi, dan keterbatasan gerak. Nyeri yang terus-menerus sering kali membuat lansia enggan bergerak, sehingga berisiko menurunkan fungsi otot dan sendi.
Peningkatan Usia, Tantangan Kesehatan Lansia
Data di Kabupaten Cilacap menunjukkan bahwa terdapat 174.143 jiwa lansia, di mana 10,50% di antaranya mengalami gangguan arthritis. Untuk mengatasi nyeri, pengobatan dapat dilakukan secara farmakologi (obat-obatan) maupun non-farmakologi (terapi komplementer).
Pelatihan hydrotherapy dan foot massage di Posyandu ILP
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Amikom Purwokerto melalui Fakultas Ilmu Kesehatan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema Terapi Komplementer, Solusi Mandiri Mengatasi Nyeri Rematik (RA) pada Lansia Melalui Foot Massage dan Hydrotherapy. Kegiatan ini dipimpin oleh dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Ernawati, S.Si.T., M.Kes.
“Salah satu intervensi non-farmakologi yang terbukti efektif adalah pemberian terapi komplementer berupa hydrotherapy dan foot massage. Kedua terapi ini bekerja dengan memberikan efek vasodilatasi pada pembuluh darah, melancarkan aliran darah, dan pada akhirnya dapat menurunkan rasa nyeri,” ujar Ernawati, Sabtu (13/12/2025).

Foot Massage
Foot Massage merupakan teknik pijat pada punggung dan telapak kaki ini dilakukan dengan menggosok dan memberi tekanan lembut. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kadar dopamin yang memicu rasa nyaman dan rileks, sehingga nyeri berkurang.
Hydrotherapy
Hudrotherapy Metode perawatan tubuh menggunakan air (panas, hangat, atau dingin) yang dapat memberikan efek pijat. Air hangat khususnya, memberikan efek terapeutik seperti menghilangkan rasa sakit, meningkatkan aliran darah, serta mengurangi kejang otot dan kekakuan sendi.
“Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pelatihan foot massage dan hydrotherapy kepada lansia dan pendamping lansia di Posyandu ILP RW 21, Sidanegara, Cilacap Tengah, untuk mengurangi nyeri RA. Setelah pelatihan, pendamping lansia mampu melakukan terapi ini secara mandiri di rumah,” ungkapnya.
Metode Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan pelatihan dilaksanakan melalui empat tahapan utama:
1. Identifikasi Masalah: Dilakukan melalui wawancara dan observasi untuk mengetahui faktor penyebab dan pola kebiasaan harian lansia penderita RA
2. Sosialisasi: Penyampaian materi melalui ceramah dan diskusi kepada lansia dan pendamping mengenai patofisiologi, faktor penyebab, serta cara mengatasi nyeri RA
3.Pelatihan (Training): Tim mempraktikkan langsung foot massage dan hydrotherapy, lalu mengajarkannya kepada pendamping dan lansia. Pendampingan dilakukan ketat untuk memastikan teknik terapi tepat dan meminimalisir cedera.
4. Evaluasi: Pengukuran keberhasilan menggunakan kuesioner, khususnya untuk mengukur skala nyeri setelah terapi. Alat ukur yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS) dengan rentang nilai 0 (Tidak Nyeri) hingga 10 (Nyeri sangat Hebat).
Hasil dan Simpulan
Kegiatan pelatihan foot massage dan hydrotherapy ini berhasil dilaksanakan. Berdasarkan hasil evaluasi menggunakan NRS pada lansia penderita RA, intervensi ini menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri yang signifikan. Penurunan intensitas nyeri kaki tercatat dari kategori sedang–berat menjadi ringan.
Keberhasilan ini didukung oleh peran aktif pendamping lansia yang mampu menerapkan terapi secara mandiri dan tepat setelah mendapatkan pelatihan. Intervensi ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia serta pendamping dalam pengurangan nyeri kaki, yang pada akhirnya berdampak positif pada peningkatan kualitas hidup lansia.








