Di tengah maraknya kuliner kekinian, Kupat Tahu Hj. Sapen tetap bertahan sebagai salah satu kuliner legendaris Cilacap yang tak lekang oleh waktu. Dirintis sejak 1969, warung sederhana di Majenang ini terus menjaga cita rasa tradisional yang sudah dikenal lintas generasi.
Bagi warga Majenang dan sekitarnya, nama Kupat Tahu Hj. Sapen bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari perjalanan kuliner daerah. Konsistensi rasa dan kesederhanaan penyajian membuatnya tetap menjadi pilihan utama hingga kini.
Dari Pasar Lama ke Jalan Yos Sudarso
Kupat Tahu Hj. Sapen memulai perjalanannya dari sebuah lapak kecil di kawasan Pasar Lama Majenang, yang pada masanya menjadi pusat aktivitas masyarakat di wilayah barat Cilacap. Area tersebut kini telah berubah menjadi taman kota, namun jejak sejarah kuliner ini tetap dikenang.
Sejak awal berjualan, racikan kupat tahu yang khas berhasil menarik perhatian warga. Pelanggan berdatangan dan menjadikannya sebagai salah satu menu favorit harian.
Perkembangan kota membuat lokasi usaha ini ikut berpindah. Pada 2009, warung Kupat Tahu Hj. Sapen menetap di Jalan Yos Sudarso, Tanjungsari, Sindangsari, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Lokasinya berada di sisi jalan lingkar selatan dan berseberangan dengan SMK Yos Sudarso, sehingga mudah dijangkau masyarakat maupun pengunjung dari luar daerah.

Kini, usaha tersebut diteruskan oleh Darsih, menantu almarhumah Hj. Sapen. Di usianya yang telah melewati 60 tahun, ia tetap menjaga resep asli tanpa modifikasi berarti. Bersama seorang pekerja, ia memastikan setiap sajian tetap menghadirkan kualitas yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Kupat Tahu Hj. Sapen, Sajian Sederhana dengan Cita Rasa Khas
Seporsi kupat tahu di tempat ini dihidangkan tanpa tampilan berlebihan. Potongan kupat dan tahu disajikan bersama tauge segar, kerupuk, serta suwiran ayam yang gurih. Selanjutnya, kuah santan hangat disiramkan, menghadirkan aroma yang langsung menggoda selera.
Perpaduan santan yang gurih dengan kupat yang lembut menciptakan rasa yang harmonis. Tahu goreng yang empuk semakin memperkaya tekstur dalam setiap suapan.
Keunikan lainnya terletak pada penggunaan kerupuk singkong khas Majenang berwarna merah muda. Kerupuk ini terasa renyah saat pertama digigit, kemudian perlahan melunak ketika bercampur dengan kuah santan. Perubahan tekstur tersebut menjadi sensasi tersendiri yang membedakannya dari kupat tahu di daerah lain.
Pengunjung juga dapat menyesuaikan rasa sesuai selera. Selain ayam suwir, tersedia opsi tambahan ati ampela. Di atas meja, sambal, kecap manis, dan cuka tersedia untuk diracik sendiri sesuai preferensi masing-masing.
Dengan harga Rp20 ribu per porsi, hidangan ini dinilai tetap terjangkau dan sebanding dengan kualitas serta porsinya yang mengenyangkan.
Tetap Menjadi Rujukan Kuliner Majenang
Lebih dari lima dekade bertahan, Kupat Tahu Hj. Sapen telah menjelma menjadi salah satu ikon kuliner Majenang. Keberadaannya menunjukkan bahwa kekuatan rasa dan konsistensi dapat menjaga eksistensi usaha di tengah persaingan kuliner yang terus berkembang.
Bagi warga lokal, warung ini menyimpan kenangan dan nilai nostalgia. Sementara bagi wisatawan, Kupat Tahu Hj. Sapen menawarkan pengalaman menikmati kuliner legendaris Cilacap dengan cita rasa autentik.
Dengan sejarah panjang, lokasi yang kini strategis, serta racikan yang tetap dipertahankan, Kupat Tahu Hj. Sapen terus memperkuat posisinya sebagai destinasi kuliner wajib saat berkunjung ke Majenang.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.




