PSCS Cilacap Absen Liga 4! Krisis Saham hingga Sponsor Mandek, Bupati Syamsul Buka Suara. Kekecewaan mendalam menyelimuti masyarakat Kabupaten Cilacap. Klub kebanggaan mereka, PSCS Cilacap, dipastikan tidak akan berlaga di Liga 4 Jawa Tengah pada musim kompetisi 2025/2026.
Kepastian tersebut menjadi pukulan berat bagi pendukung setia Laskar Nusakambangan, yang selama bertahun-tahun selalu setia mendukung perjalanan klub, mulai dari kejayaan ketika bersaing di Divisi Utama (Liga 2), hingga kini harus berjuang di kasta terbawah sepak bola Indonesia.
PSCS Cilacap diujung Tanduk
Masalah yang menimpa PSCS Cilacap bukan muncul tiba-tiba. Akar persoalan telah lama mencuat ke permukaan. Mulai dari gejolak internal manajemen, mundurnya Direktur Utama, isu pemain terlantar, hingga proses akuisisi yang tak kunjung jelas penyelesaiannya.
Harapan sempat menyala ketika Tim BBR bersama kelompok suporter Laskar Nusakambangan berinisiatif mengambil alih klub. Namun langkah itu gagal jelang tenggat pendaftaran Liga 4 karena adanya “keputusan sepihak” yang dianggap menghambat kesepakatan.

PSCS Cilacap Penuh Dinamika
Melihat situasi yang semakin memanas, Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman akhirnya memberikan pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa Pemkab Cilacap tidak tinggal diam dalam menyikapi dinamika PSCS.
“Beberapa waktu yang lalu kami berupaya untuk memfasilitasi teman-teman. Yang pertama kita memfasilitasi dulu ada Mas Suhud yang ditunjuk oleh Pak Gede selaku penguasa mayoritas saham,” ujar Bupati Syamsul, Sabtu (29/11/2025).
Bupati Syamsul mengungkap bahwa Pemkab juga sudah berusaha mencarikan sponsor untuk menyelamatkan klub. Namun upaya itu terhambat oleh ketidakjelasan status saham.
“Perusahaan ataupun rekanan yang mau memberikan sponsorship menanyakan bagaimana sahamnya sudah dibawa ke Cilacap atau belum. Karena itu memang kita tidak memiliki uang untuk membiayai,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa negosiasi terakhir bersama pemilik saham mayoritas, Fanny Irawatie, sempat menyentuh titik terang. Nilai kesepakatan saham berada di angka Rp1 miliar dengan penguasaan mayoritas sebesar 75 persen. Tetapi mendadak nilai itu berubah menjadi Rp2 miliar, sehingga investor lokal dan suporter merasa tidak ada konsistensi dalam pembicaraan.
“Begitu ada tanda tangan kesepakatan itu, ternyata kami mendapatkan informasi laporan jadi naik Rp2 miliar. Sehingga teman-teman dari Laskar ini merasa ada ketidakkonsistenan dari pemilik saham mayoritas,” ujarnya.
Bupati menyebut pihaknya sebenarnya sudah menyiapkan sejumlah dukungan strategis seperti pengajuan perbaikan stadion melalui CSR perusahaan. Namun, semuanya terhenti karena status kepemilikan yang belum final.
“Karena ini kembali lagi ada tidaknya kejelasan itu ya saya tidak bisa apa-apa. Karena memang secara aturan kita APBD belum bisa. Nanti kalau memang ada aturan, pasti kita akan anggarkan untuk optimalisasi pengembangan PSCS,” tuturnya.
Meski kondisi tampak buntu, ia memastikan masih melakukan upaya penyelamatan klub. “Saya sementara ini juga masih mencoba untuk mencari investor yang barangkali mau dengan komitmen yang sekarang,” pungkasnya.
Absennya PSCS Cilacap dari Liga 4 bukan hanya kehilangan satu musim, tetapi juga sinyal ancaman terhadap keberlanjutan klub. Namun bagi masyarakat Cilacap, PSCS bukan sekadar klub sepak bola tetapi identitas, kebanggaan, dan cerita panjang perjuangan. Karena itu, harapan untuk kebangkitan Hiu Selatan masih terus menyala. PSCS harus kembali, bukan perlahan menghilang.




