Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya mewaspadai terjadinya potensi tekanan inflasi menjelang Ramadan dan Idul Fitri tahun 2026. Salah satu langkah yang akan diambil adalah penguatan sinergi dan kolaborasi.
Antisipasi Tekanan Inflasi
TPID Banyumas Raya melalui Pelaksana Harian Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Mahdi Abdillah, dalam press release, Rabu (4/2/2026). Untuk mengantisipasi tekanan inflasi, fokus kebijakan diarahkan pada peningkatan produksi pangan berbasis pesantren, pengembangan kelompok tani milenial, perluasan penerapan digital farming, intensifikasi operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM).”Selain itu juga penguatan kerja sama antar daerah guna menjamin ketersediaan pasokan pangan strategis,” ungkapnya.
Bank Indonesia (BI) Purwokerto berkomitmen untuk terus mengawal stabilitas harga di wilayah Banyumas Raya melalui sinergi yang erat dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk mewujudkan inflasi Banyumas Raya yang tetap terkendali dalam sasaran nasional.
Deflasi di Purwokerto
TPID Banyumas Raya juga mencatat di bulan Januari 2026, terjadi deflasi di Purwokerto dan Cilacap. Kondisi tersebut terjadi seiring normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Purwokerto pada Januari 2026 tercatat sebesar -0,36% (mtm) dan 2,79% (yoy), lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mengalami inflasi 0,58% (mtm) dan 2,61% (yoy). Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Cilacap, yang mencatatkan deflasi pada Januari 2026 sebesar -0,42% (mtm) dan 2,63% (yoy), menurun dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,53% (mtm) dan 2,79% (yoy). ‘’Dengan demikian, secara tahunan inflasi kedua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Banyumas Raya pada Januari 2026 tetap terjaga dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1%,’’paparnya.
TPID Banyumas Raya melihat Deflasi di Purwokerto pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas pangan, khususnya komoditas hortikultura. Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi di Purwokerto terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar -1,73% (mtm), dengan andil sebesar -0,52% (mtm). Adapun berdasarkan komoditasnya, inflasi di Purwokerto didorong oleh penurunan harga daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras dengan andil masing-masing sebesar
-0,13% (mtm), -0,10% (mtm), -0,09% (mtm), -0,08% (mtm), dan -0,05% (mtm). Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi pada komoditas emas perhiasan, mobil, telepon seluler, bawang putih, dan sepeda motor dengan andil sebesar 0,10% (mtm), 0,03% (mtm), 0,01% (mtm), 0,01% (mtm), dan 0,01% (mtm).
Deflasi Cilacap
TPID Banyumas Raya juga melihat Di Cilacap, deflasi bulanan juga didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar -2,07% (mtm), dengan andil sebesar -0,67% (mtm). Berdasarkan komoditasnya, deflasi didorong oleh komoditas cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah dan telur ayam ras dengan andil masing-masing sebesar -0,17% (mtm), -0,16% (mtm),
-0,15% (mtm), -0,08% (mtm), dan -0,06% (mtm). Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi komoditas emas perhiasan, tarif rumah sakit, sepeda motor, jeruk, dan bawang putih dengan andil masing-masing sebesar 0,14% (mtm), 0,10% (mtm), 0,02% (mtm), 0,01% (mtm), dan 0,01% (mtm).
TPID Banyumas Raya menyampaikan penurunan tekanan inflasi komoditas pangan tersebut dipengaruhi oleh meredanya permintaan pasca periode HBKN Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Selain itu juga meningkatnya pasokan cabai merah dan cabai rawit pasca panen di sejumlah sentra produksi. Diperkuat oleh berjalannya program pengendalian inflasi daerah. Sementara, inflasi komoditas non pangan, khususnya komoditas emas perhiasan dipengaruhi oleh kenaikan permintaan.



