Sinergi Strategis untuk Perluas Pasar Ekraf di Pasar Global

Syarif TM
Dekranasda Jawa Tengah menjalin kerja sama dengan Kemenlu RI untuk memperluas promosi produk ekonomi kreatif (ekraf) ke pasar global melalui diplomasi budaya dan jaringan internasional. (dok. Pemprov)

DEWAN Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat langkah ekspansi produk ekonomi kreatif (ekraf) ke pasar global dengan menjalin sinergi bersama Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI.

Kolaborasi ini mengemuka dalam audiensi antara Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, dengan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Heru Hartanto Subolo, di Ruang Rapat Wakil Gubernur Jawa Tengah, Senin (6/4/2026).

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat promosi produk ekraf unggulan daerah di kancah internasional, sekaligus mendukung strategi diplomasi budaya Indonesia.

Jateng Jadi Kekuatan Besar Ekraf Nasional

Dalam pertemuan itu, Nawal menyampaikan bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu kekuatan utama sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Pada semester I 2025, nilai ekspor ekraf provinsi ini tercatat mencapai Rp53 triliun, menjadikannya terbesar kedua secara nasional.

Baca juga  Kapolres Kebumen Soroti Pembegalan Pakai Senjata Tajam oleh Pemuda di Mirit

Sementara dari sisi investasi, sektor ekraf Jawa Tengah menempati posisi ketiga nasional dengan nilai realisasi mencapai Rp11,45 triliun pada periode yang sama.

Potensi tersebut didukung oleh beragam subsektor unggulan seperti kriya, wastra, batik, kerajinan kayu, logam, hingga serat alam yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal.

Produk Berbasis Budaya Jadi Daya Saing Global

Nawal menegaskan, produk ekraf Jawa Tengah memiliki keunggulan tidak hanya dari sisi kualitas, tetapi juga nilai heritage yang kuat sebagai representasi budaya Indonesia.

“Produk kami tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas budaya yang khas. Ini menjadi kekuatan dalam membangun citra bangsa melalui diplomasi budaya,” ujarnya.

Sejumlah pelaku usaha bahkan telah sukses menembus pasar internasional. Naruna Ceramic asal Salatiga, misalnya, telah mengekspor produknya ke 18 negara. Sementara Roro Kenes dari Semarang dikenal melalui produk tas anyaman kulit yang diminati wisatawan mancanegara.

Untuk sektor wastra, produk seperti batik Pekalongan, tenun troso Jepara, hingga lurik Klaten juga terus menunjukkan eksistensinya di pasar global.

Baca juga  Gula Kepala Purbalingga Siap Meluncur ke Pasar Belanda

Peran Kemenlu Perkuat Promosi dan Akses Global

Melalui kerja sama ini, Dekranasda Jateng berharap dapat memanfaatkan jaringan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk memperluas akses promosi dan pemasaran produk ekraf.

Nawal juga mendorong keterlibatan Jawa Tengah dalam berbagai pameran internasional, serta pemanfaatan diaspora Indonesia sebagai jembatan pemasaran di luar negeri.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Heru Hartanto Subolo, menyatakan dukungannya terhadap penguatan promosi produk kreatif daerah.

“Kemenlu berperan menjembatani promosi ke luar negeri, termasuk melalui kegiatan capacity building dan fasilitasi kerja sama internasional,” jelasnya.

Diplomasi Budaya Jadi Kunci Daya Saing

Heru menilai Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam penguatan soft power diplomacy Indonesia. Hal ini didukung oleh kekayaan budaya dan destinasi wisata unggulan yang telah dikenal luas, seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, serta industri batik yang mendunia.

Ke depan, Kemenlu berkomitmen untuk memfasilitasi promosi produk ekraf Jawa Tengah melalui berbagai agenda internasional, termasuk pameran dan forum ekonomi kreatif global.

Baca juga  Target 2029 Tuntas 100 Persen, Sekda Sumarno Ajak ASN Jadi Duta Peduli Pengelolaan Sampah

Sinergi berkelanjutan antara pemerintah daerah dan pusat ini diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan dampak nyata bagi pelaku ekonomi kreatif di Jawa Tengah.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!