Lamine Yamal secara terbuka menegaskan bahwa dirinya seorang Muslim dan menyampaikan sikap tegas menolak chant bernada anti-Islam yang muncul dalam laga persahabatan Spanyol melawan Mesir.
Pernyataan tersebut menempatkan Yamal sebagai figur atlet muda yang konsisten membela nilai inklusivitas, sekaligus memperkuat identitas pribadinya di panggung sepak bola internasional.
Pertanyaan mengenai apakah Lamine Yamal seorang Muslim kini tidak lagi menjadi spekulasi. Bintang muda FC Barcelona ini secara terbuka mengonfirmasi bahwa dirinya memeluk agama Islam.
Pengakuan tersebut menjadikannya salah satu atlet Muslim muda paling menonjol di kancah sepak bola dunia.
Lamine Yamal Muslim dan Tegas Menunjukkan Identitasnya
Dia dikenal sebagai seorang Muslim yang taat. Pemain internasional Barcelona dan Spanyol berusia 18 tahun ini, tidak menyembunyikan keyakinannya. Ia berulang kali mengonfirmasi identitas agamanya melalui pernyataan langsung di media sosial serta wawancara yang terdokumentasi.
Warisan Islam dalam diri Yamal tidak hadir secara simbolik semata. Nilai-nilai tersebut terjalin erat dengan latar belakang keluarganya, pembentukan identitas pribadinya, hingga praktik keseharian yang ia jalani sebagai pesepak bola profesional.
Pada April 2026, Yamal secara terbuka menulis di Instagram: “Saya seorang Muslim, alhamdulillah”
Pernyataan itu dia sampaikan bersamaan dengan kritiknya terhadap diskriminasi agama yang terjadi dalam laga persahabatan Spanyol melawan Mesir.
Warisan dan Latar Belakang Keluarga yang Kuat
Lamine Yamal Nasraoui Ebana lahir pada 13 Juli 2007 di Esplugues de Llobregat, wilayah metropolitan Barcelona.
Ayahnya, Mounir Nasraoui, berasal dari Larache, Maroko—negara mayoritas Muslim yang menjadikan Islam sebagai bagian penting kehidupan sosial dan budaya. Ibunya, Sheila Ebana, berasal dari Bata, Guinea Ekuatorial.
Lamine Yamal dibesarkan oleh neneknya yang juga berasal dari Maroko. Sejumlah laporan menyebut sang nenek memainkan peran sentral dalam menjaga dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini.
Ia bahkan mengajarkan sebuah doa khusus yang selalu Yamal panjatkan sebelum melangkah ke lapangan—kebiasaan yang masih ia lakukan hingga hari ini.
Tumbuh di Lingkungan Multikultural, Tetap Teguh Beriman
Masa kecil Lamine Yamal di Rocafonda, kawasan multikultural di Mataró, membentuknya sebagai pribadi yang terbuka terhadap keberagaman.
Meski tumbuh di lingkungan Eropa yang plural, pendidikan Islam yang ia terima tetap menjadi fondasi utama dalam membangun identitasnya.
Kondisi ini menjadikan Yamal simbol generasi baru sepak bola Eropa: atlet muda berprestasi yang memadukan profesionalisme, keberagaman budaya, dan keteguhan iman.
Ekspresi Keimanan di Ruang Publik
Berbeda dengan sebagian atlet yang memilih menyimpan agama sebagai urusan privat, Lamine Yamal secara terbuka menyatakan identitas Muslimnya. Di usia 18 tahun, ia telah menjelma sebagai salah satu pesepak bola terbaik dunia.
Di luar bakat luar biasanya, identitasnya sebagai warga negara Spanyol dengan warisan Maroko dan Guinea Ekuatorial, serta sebagai Muslim yang taat, menjadikannya figur unik di panggung sepak bola internasional.
Pilihan Membela Spanyol di Level Internasional
Ketika ditanya mengenai keputusannya memilih Spanyol dibanding Maroko, Yamal menjawab dengan keyakinan penuh.
“Saya selalu bermain untuk Spanyol, sejak U15. Saya selalu yakin bahwa saya ingin bermain dengan Spanyol, untuk memenangkan Kejuaraan Eropa, Piala Dunia, dan semua yang mungkin,” tulisnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa identitas keagamaannya berjalan seiring dengan komitmen profesionalnya sebagai pemain tim nasional Spanyol.
Lamine Yamal Kecam Chant Anti-Islam di Laga Spanyol vs Mesir
Bintang muda tim nasional Spanyol ini mengeluarkan pernyataan tegas menyusul insiden diskriminatif dalam laga uji coba antara Spanyol dan Mesir di Stadion RCDE, Rabu (1/4) dini hari WIB.
Yamal mengutuk aksi oknum suporter tuan rumah yang menyuarakan chant bernada anti-Islam selama pertandingan. Nyanyian provokatif tersebut berbunyi, “Siapa yang tidak melompat, dia adalah Muslim.” Meski ditujukan untuk memprovokasi lawan, chant itu dinilai sebagai bentuk rasisme yang mencederai nilai sportivitas olahraga.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Yamal menyatakan sikapnya secara terbuka:
“Kemarin di stadion terdengar nyanyian tersebut. Saya tahu itu ditujukan untuk tim lawan dan bukan serangan pribadi terhadap saya. Namun, sebagai seorang Muslim, itu tetap tidak sopan dan tidak dapat ditoleransi,” tulisnya.
Ia bahkan menyebut para pelaku sebagai figur yang “bodoh dan rasis”, seraya menegaskan bahwa dukungan fanatik tidak boleh berubah menjadi serangan terhadap keyakinan seseorang.
“Sepak bola harus dinikmati dan didukung, bukan untuk menghina orang karena siapa mereka atau apa yang mereka yakini,” ujarnya.
Keberanian Yamal mendapat apresiasi luas, termasuk dari Indonesia. Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Qaem Aulassyaheid, memuji sikap tegas sang pemain.
“Apa yang dilakukan Lamine Yamal, dengan menyatakan rasa bangganya sebagai seorang Muslim secara terbuka di depan publik internasional, sangat patut diacungi jempol,” ujarnya di laman muhammadiyah.or.id.
Meski kecewa, Yamal tetap berterima kasih kepada suporter yang memberikan dukungan positif dan berharap sepak bola tetap menjadi ruang inklusif bagi semua.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



