Komunitas Sedekah Sepatu Purbalingga memberikan bantuan sepatu kepada 19 anak yang menjadi penyintas HIV/AIDS. Pemberian tersebut dilakukan sebagai wujud empati kepada anak-anak tersebut, agar mereka tetap ceria kendati kondisinya tak sehat.
Founder Komunitas Sedekah Sepatu Purbalingga, Yuspita Palupi kepada seputarbanyumas.com, Sabtu (6/12/2025) mengatakan bantuan tersebut diberikan bersamaan dengan peringatan Hari Aids sedunia pada 1 Desember 2025. Selain sepatu, bantuan sembako juga diberikan.
“Kami ingin memberikan dukungan mental. Agar anak-anak ini tetap percaya diri dan semangat bersekolah,” katanya.
Sedekah Sepatu di Hari AIDS Sedunia
Yuspita mengatakan, stigma masyarakat terhadap penyandang HIV masih tinggi. Hal ini membuat anak-anak penderita penyakit tersebut sering menutup diri, bahkan sebelum mengalami penolakan. “Makanya, kami ajak mereka agar bisa ceria dulu, agar mereka tidak merasa sendiri,” tuturnya.
Selain kepada anak-anak penderita, bantuan juga diberikan kepada para pengasuh seperti orang tua ataupun saudara yang telah tulus merawat anak dengan pengidap HIV. “Ada yang bukan anak kandung, tapi mereka tulus merawat sepenuh hati. Saya rasa perjuangan ini harus kita apresiasi,” ujarnya.
Sedekah Sepatu Disambut Gembira
Sedekah sepatu disambut gembira, N, bocah kelas 6 SD asal Kemangkon yang menerimanya . Dengan lincah, ia mencoba mengayunkan langkahnya, memperhatikan bagaimana sepatu itu mengkilap di kakinya.
N dinyatakan mengidap HIV sejak tahun 2020, tepat ketika ia akan duduk di bangku sekolah dasar. Penyakit itu bukan dari ibunya, melainkan dari ayah kandungnya. Kini, ia hidup bersama ibu dan ayah sambungnya yang menerimanya apa adanya.
Tak banyak yang tahu, dibalik keceriaannya yang begitu tulus, N membawa cerita panjang tentang ketabahan, kesakitan dan cinta tanpa syarat dari seorang Ibu yang tidak pernah menyerah. Ibu N, mengatakan salah satu titik terendahnya adalah ketika harus merawat N yang sedang sakit hingga harus dilakukan pembedahan syaraf, ketika putri kecilnya itu berusia tujuh tahun. “Dulu pernah sakit sampai harus bedah syaraf, mungkin itu salah satu titik terendah saya,” ucap sang ibu yang identitasnya dirahasiakan.
19 Anak Penerima Sedekah Sepatu Terinfeksi HIV
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Purbalingga, Semedi mengatakan, sejak tahun 2011 hingga September 2025, tercatat sebanyak 882 orang ber-KTP Purbalingga , terdeteksi HIV AIDS. Dari jumlah tersebut, 19 anak yang datang dalam penyerahan bantuan sepatu dan sembako ini terdeteksi terinfeksi HIV sejak dilahirkan. “Mereka lahir dari ibu yang juga positif,” katanya.
Semedi menyebut, saat ini sudah ada teknologi yang mampu membuat ibu yang positif HIV mampu melahirkan anak negatif HIV. “Mungkin, yang 19 ini mereka yang dulunya belum tau adanya teknologi ini. Jadi setelah lahir baru terdeteksi,” ujarnya.
Teknologi tersebut bisa dilakukan dengan catatan pada seorang ibu hamil yang dinyatakan positif HIV pada awal kehamilan. “Dengan catatan pada awal kehamilan, itu baru bisa dilakukan. Karena kalau kehamilan sudah besar, itu nggak bisa,” katanya.
Untuk pencegahan, menurut Semedi dilakukan melalui konsumsi obat ARV secara teratur, kemudian dipantau perkembangan janinnya oleh dokter, dan dilakukan operasi khusus agar sang bayi tidak tertular HIV.







