Jangan Asal Pakai Teleskop Saat Melihat Hilal Ramadan 2026, Ini Bahayanya Kata Para Astronom

Santo
Teleskop digunakan untuk para ahli melihat Hilal Ramadan 2026. Para astronom mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat terkait penggunaan teleskop untuk mengamati hilal. (ilustrasi pexels)

Teleskop digunakan untuk para ahli melihat Hilal Ramadan 2026. Para astronom mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat terkait penggunaan teleskop untuk mengamati hilal.

Alih-alih membantu memastikan awal bulan suci, penggunaan teleskop dalam kondisi tertentu justru berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kerusakan mata permanen.

Imbauan ini disampaikan untuk mencegah praktik pengamatan yang dinilai berbahaya dan tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.

Pusat Astronomi Internasional (International Astronomy Center/IAC) secara tegas meminta observatorium, komunitas astronomi, hingga pengamat amatir agar tidak mengarahkan teleskop atau teropong ke arah bulan pada Selasa, 17 Februari 2026.

Pada tanggal tersebut, posisi bulan dinilai terlalu dekat dengan matahari sehingga pengamatan hilal bukan hanya mustahil, tetapi juga berisiko fatal bagi penglihatan.

Posisi Bulan Terlalu Dekat dengan Matahari

Berdasarkan perhitungan astronomi, jarak sudut antara bulan dan matahari saat matahari terbenam di sebagian besar wilayah Semenanjung Arab berada pada tingkat yang sangat minimal. Di kota seperti Riyadh, jarak sudut tersebut diperkirakan hanya sekitar satu derajat.

Baca juga  Registrasi Akun SNPMB 2026 Sudah Dibuka, Ini Panduan Lengkapnya

Secara teknis, kondisi ini membuat bulan sabit—jika pun terbentuk—berada kurang dari setengah derajat dari tepi matahari.

Dalam situasi seperti ini, mengarahkan teleskop sangat berbahaya karena sedikit saja kesalahan arah dapat menyebabkan sinar matahari masuk langsung ke lensa dan mata pengamat.

Risiko Kerusakan Mata Permanen Akibat Teleskop

IAC menekankan bahwa paparan sinar matahari melalui teleskop atau teropong tanpa filter khusus dapat menyebabkan kerusakan retina yang bersifat permanen. Risiko ini tidak hanya mengancam kesehatan mata, tetapi juga dapat merusak instrumen optik yang digunakan.

Dalam praktik profesional, observatorium astronomi selalu menghindari pengamatan objek langit yang berada sangat dekat dengan matahari.

Bahkan setelah matahari terbenam, kondisi pada 17 Februari 2026 tetap tidak memungkinkan, karena pada saat itu bagian bawah cakram bulan sudah lebih dulu berada di bawah cakrawala. Artinya, tidak ada objek yang aman maupun layak untuk diamati dengan teleskop.

Gerhana Matahari Perkuat Ketidakmungkinan Hilal Terlihat

Data astronomi menunjukkan bahwa pada hari yang sama terjadi gerhana matahari sebagian yang terlihat di beberapa wilayah Afrika bagian selatan dan Antartika.

Baca juga  Roblox Down, Ribuan Gamer Sempat Tak Bisa Login

Fenomena ini menjadi bukti tambahan bahwa bulan masih berada pada fase bulan baru dan belum membentuk hilal yang dapat terlihat.

Ketinggian bulan saat matahari terbenam juga tercatat berada di bawah ambang batas visibilitas di seluruh Arab Saudi.

Wilayah Jazan, yang memiliki ketinggian relatif paling tinggi, hanya mencatat sekitar setengah derajat, jauh dari syarat minimum agar hilal bisa diamati, termasuk dengan bantuan teleskop.

Pandangan Ulama dan Standar Astronomi Modern

Dalam pernyataannya di theislamicinformation, IAC turut mengutip pandangan ulama klasik Ibn Taymiyyah yang menyebut bahwa bulan sabit dengan jarak satu derajat dari matahari tidak mungkin terlihat.

Pendapat ini sejalan dengan standar astronomi modern yang digunakan saat ini, sehingga memperkuat kesimpulan bahwa upaya pengamatan hilal pada tanggal tersebut tidak memiliki dasar ilmiah maupun syar’i.

Di beberapa wilayah barat Semenanjung Arab, bulan diperkirakan terbenam sekitar satu menit setelah matahari. Namun, jeda waktu yang sangat singkat ini dipastikan tidak cukup untuk memungkinkan pengamatan yang valid, terlebih lagi menggunakan teleskop.

Baca juga  Januari 2026 Masih Ada Long Weekend, Libur 3 Hari Berturut-turut

Awal Ramadan dan Imbauan Keselamatan

Dengan seluruh bukti ilmiah yang ada, para astronom memprediksi hilal tidak akan terlihat pada Selasa malam. Jika demikian, bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari, dan awal Ramadan 2026 diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

IAC menegaskan bahwa peringatan ini juga berlaku bagi pengamat langit amatir. Penggunaan teropong atau teleskop tanpa filter tetap membawa risiko yang sama.

Masyarakat diimbau untuk mengutamakan keselamatan dan menunggu pengumuman resmi dari otoritas dan komite pengamatan bulan, daripada melakukan upaya pengamatan berisiko tinggi yang berpotensi membahayakan mata.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!