Tenang Bukan Karena Hidup Mudah, Ini Rahasia Kedamaian Hati di Tengah Ujian Menurut Syariat

Bahron Ansori
Seringkali kita menyalahartikan ketenangan sebagai sebuah kondisi hidup yang tanpa masalah, tanpa tekanan, apalagi tanpa air mata.(dok Pixabay)

Seringkali kita menyalahartikan ketenangan sebagai sebuah kondisi hidup yang tanpa masalah, tanpa tekanan, apalagi tanpa air mata.

​Padahal, realita kehidupan seringkali berbicara sebaliknya—penuh liku, ujian yang datang silih berganti, hingga doa-doa yang seolah belum menemukan jawabannya. Namun, ternyata ada satu titik ketenangan yang tidak bergantung pada situasi lahiriah, yakni ketenangan karena melibatkan Allah dalam setiap langkah.

Kita hidup di zaman yang menuntut segalanya serba cepat dan sempurna. Ketika rencana meleset, rezeki terasa sempit, atau usaha tak kunjung membuahkan hasil, hati mudah gelisah. Kita lelah, bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Namun justru di saat seperti itulah Allah mendekatkan kita pada makna hidup yang lebih dalam. Allah tidak selalu mengangkat beban seketika, tetapi menguatkan punggung kita untuk memikulnya. Di sanalah kita mulai mengerti: tenang bukan berarti masalah hilang, melainkan hati tidak lagi panik karena tahu kepada siapa ia bergantung.

Memegang Allah artinya mempercayakan hasil kepada-Nya setelah ikhtiar dilakukan. Kita tetap berusaha, bekerja, belajar, dan berdoa, tetapi hati tidak lagi terikat pada hasil semata. Kita sadar bahwa apa pun yang terjadi berada dalam genggaman ilmu dan kasih sayang-Nya. Keyakinan ini melahirkan ketenangan yang dewasa: tidak mudah sombong saat berhasil, tidak runtuh saat gagal. Kita belajar berkata dalam hati, “Jika ini belum berhasil, berarti Allah sedang menyiapkan yang lebih baik atau sedang menguatkan diri kita agar pantas menerimanya.”

Baca juga  Studi Ilmiah Ungkap 7 Bahaya Fatal Bullying: Dari Kerusakan Otak hingga Masalah Ekonomi

Sering kali kegelisahan lahir bukan karena masalah terlalu besar, tetapi karena hati terlalu jauh dari Allah. Ketika zikir mulai jarang, doa hanya menjadi rutinitas tanpa rasa, dan Al-Qur’an sekadar dibaca tanpa direnungkan, hati kehilangan cahayanya. Sebaliknya, saat kita kembali mendekat—meluangkan waktu untuk bermunajat, memperbanyak istighfar, dan berserah diri—hati perlahan tenang. Masalah mungkin tetap ada, tetapi kita tidak lagi merasa sendirian. Ada Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Mengatur segalanya dengan hikmah.

Ketenangan karena memegang Allah juga mengajarkan kita tentang kesabaran yang aktif. Sabar bukan pasrah tanpa usaha, tetapi bertahan dengan harapan. Kita berjalan, meski pelan. Kita bangkit, meski tertatih. Kita tetap berbuat baik, meski belum melihat balasan. Kita yakin tidak ada satu pun air mata yang jatuh sia-sia di hadapan Allah. Setiap lelah yang jujur, setiap doa yang lirih, setiap langkah kecil menuju kebaikan, semuanya tercatat dan diperhitungkan dengan keadilan yang sempurna.

Di titik tertentu, kita akan menyadari bahwa ujian bukan untuk menghancurkan, melainkan membersihkan. Membersihkan niat, meluruskan tujuan, dan mendewasakan iman. Allah ingin kita kuat, bukan manja. Allah ingin kita dekat, bukan hanya datang saat butuh. Maka ketika hidup terasa berat, boleh jadi itu adalah undangan agar kita lebih erat memegang-Nya. Sebab tangan yang menggenggam Allah tidak akan pernah benar-benar kosong, meski dunia belum memberinya apa-apa.

Baca juga  Jangan Sampai Puasa Hanya Dapat Lapar dan Dahaga, Simak 5 Cara Rahasia Sambut Ramadan dengan Iman

Akhirnya, tenang bukan karena segalanya mudah, tetapi karena Allah dipegang dengan penuh yakin. Kita belajar menata hati, menurunkan ekspektasi pada manusia, dan meninggikan harapan kepada Allah. Kita belajar bahwa hidup tidak harus sempurna untuk bisa disyukuri. Cukup satu hal: iman yang hidup. Selama Allah dipegang, jalan seberat apa pun akan terasa lebih ringan, hari sesulit apa pun akan tetap bisa dijalani, dan masa depan yang belum jelas tidak lagi menakutkan. Karena bersama Allah, hati menemukan rumahnya.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!